suku kulawi

BAB I

PENDAHULUAN

 

 

  • Latar Belakang

Suku Kulawi (To Kulawi), adalah suatu masyarakat adat yang hidup di kabupaten Donggala provinsi Sulawesi Tengah.

Suku Kulawi dikelompokkan ke dalam grup Palu Toraja oleh Walter Kaudern. Suku Kulawi memakai bahasa Moma, dan mereka adalah penganut agama Kristen.

Dataran Lindu juga dihuni oleh suku Kulawi, meski merupakan kelompok minoritas dibanding suku lainnya. Dalam jumlah cukup menonjol, Mereka Kulawi tinggal di dusun Kalora desa Tomado. Jumlah mereka sebanyak 19 keluarga. Di wilayah ini, secara spontan mereka mulai pindah ke Lindu sejak 1980-an. Juga terdapat 6 keluarga suku Kulawi mendiami dusun Kangkuro desa Tomado.

Suku Kulawi pemukimannya tersebar di sekitar danau Lindu, dataran Kulawi, dataran Gimpu dan sekitar daerah aliran sungai Koro (sungai Lariang untuk sebutan di Sulawesi Barat dan Tawaelia di daerah Lore).

Wilayah yang dihuni oleh etnis Kulawi tersebut, telah dihuni oleh nenek moyang mereka sejak masa prasejarah. Hal ini terbukti dari beberapa temuan arkeologis yang masih dapat diamati hingga saat ini. Temuan-temuan megalitik ini, ada yang sudah berumur 3000 tahun.

Pada masa lalu, beberapa kelompok kecil suku Kulawi membentuk sebuah kerajaan yang dinamakan Kerajaan Kulawi. Setelah sekian lama berdiri, maka Kerajaan Kulawi menjadi kerajaan besar di wilayah Sulawesi Tengah.

 

 

  • Rumusan Masalah
  1. Bagaimana Sejarah Suku Kulawi ?
  2. Bagaimanakah Letak Geografis Suku Kulawi ?
  3. Apakah Bahasa yang Digunakan Suku Kulawi ?
  4. Apakah Mata Pencaharian Suku Kulawi ?
  5. Bagaimanakah Sistem Kekeluargaan, Kekerabatan dan Kemasyarakatan Suku Kulawi ?
  6. Apakah Agama dan Kepercayaan Suku Kulawi ?
  7. Apakah Pakaian Adat Suku Kulawi ?
  8. Apakah Rumah Adat Suku Kulawi ?
  9. Apakah Tarian Suku Kulawi ?
  • Tujuan
  1. Untuk Mengetahui Sejarah Suku Kulawi
  2. Untuk Mengetahui Letak Geografis Suku Kulawi
  3. Untuk Mengetahui Bahasa yang Digunakan Suku Kulawi
  4. Untuk Mengetahui Mata Pencaharian Suku Kulawi
  5. Untuk Mengetahui Sistem Kekeluargaan, Kekerabatan dan Kemasyarakatan Suku Kulawi
  6. Untuk Mengetahui Agama dan Kepercayaan Suku Kulawi
  7. Untuk Mengetahui Pakaian Adat Suku Kulawi
  8. Untuk Mengetahui Rumah Adat Suku Kulawi
  9. Untuk Mengetahui Tarian Suku Kulawi

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB II

PEMBAHASAN

 

2.1. Sejarah Suku Kulawi
Suku Dunia ~ Para ahli etnografi lama menggolongkan orang/suku Kulawi sebagai salah satu bagian dari kelompok orang/suku Toraja Barat. Suku bangsa itu sendiri lebih suka menyebut dirinya orang Kulawi atau Tokulawi. Mereka mendiami daerah bagian selatan Danau Lindu, yang termasuk dalam wilayah Kulawi di Donggala Provinsi Sulawesi Tengah. Jumlah mereka saat ini sekitar 50.000 jiwa. Menurut legenda, mereka berasal dari daerah Bora dan Sigi di lembah Palu. Diceritakan bahwa pada zaman dahulu kala ada seorang tokoh dari Bora yang berburu bersama dengan pengikutnya sampai ke hutan-hutan di Gunung Momi. Setelah penat berburu maka para pemburu itu beristirahat di bawah sebuah pohon kayu yang disebut Kulawi. Melihat kesuburan daerah itu maka tokoh dari Bora itu memutuskan untuk menetap di sana. Sejak itu daerah baru tersebut mereka beri nama Kulawi.

2.2. Letak Geografis Suku Kulawi

2.3. Bahasa Suku Kulawi

Orang Kulawi memakai bahasa Kulawi dengan beberapa dialek, seperti dialek Kuwali-Lindu yang dipengaruhi oleh bahasa Kaili. Kelompok ini mendiami daerah sekitar Danau Lindu. Kemudian kelompok pemakai dialek Toboko-Umpa yang berdiam di sekitar Sungai Lariang.

2.4. Mata Pencaharian Suku Kulawi

Orang Kulawi umumnya hidup dari pertanian di sawah dan ladang. Tanaman pokok mereka adalah padi, selain juga menanam jagung dan palawija lainnya. Tanaman keras untuk komoditas ekspor seperti cengkeh mulai ditanam tahun 1970. Sebelumnya mereka sudah menanam kopi dan kelapa sebagai barang ekspor. Usaha mereka yang lain adalah beternak kerbau, babi, dan usaha tambak ikan. Ada juga yang mengumpulkan hasil hutan serta berburu rusa dan babi atau menangkap ikan di sungai.

2.5. Kekeluargaan, Kekerabatan dan Kemasyarakatan Suku Kulawi

Masyarakat ini memiliki sistem garis keturunan yang bilateral sifatnya. Pasangan-pasangan yang baru kawin umumnya tinggal di lingkungan rumah pihak wanita (uksorilokal atau matrilokal), dan setelah anak pertama lahir biasanya mereka pindah ke lingkungan pihak laki-laki, atau membuat rumah baru sendiri. Pada zaman dulu masyarakat Kulawi berbentuk sebuah kerajaan kecil, rajanya disebut Magau atau Sangkala. Ia dibantu oleh sebuah dewan pemerintahan yang anggota-anggotanya berasal dari lapisan tinggi menurut adat, yaitu kaum to tua ngata. Pada masa sekarang pengaruh pelapisan lama itu sudah semakin tipis. Golongan tertinggi zaman dulu adalah maradika yang terdiri dari raja-raja dan keluarganya, lalu golongan to tua ngata sebagai bangsawan pembantu raja. Orang kebanyakan disebut to dea, di bawah sekali adalah golongan budak dan hamba sahaya yang disebut batua.

2.6. Agama Dan Kepercayaan Suku Kulawi

Kepercayaan religi lama suku Kulawi meyakini adanya dewa tertinggi yang disebut Karampoa I Langi dan Karampoa I Tana (Pencipta langit dan Tanah). Selain itu ada pula sejumlah dewa yang dianggap menguasai bagian-bagian tertentu dari alam dan kehidupan, seperti dewa perang yang disebut Taliwarani. Dewa ini dipuja oleh para prajurit dan tadulako (panglima). Alam sekitar diyakini memiliki kekuatan-kekuatan yang terdapat dalam benda-benda dan makhluk hidup tertentu. Pada masa sekarang orang/suku Kulawi umumnya telah memeluk agama Kristen yang masuk sejak tahun 1913.

2.7. Pakaian Adat Suku Kulawi

Pakaian asli orang Kulawi terbuat dari serat kulit pohon yang disebut vuya. Kaum laki-laki memakainya seperti cawat, kaum wanita memakainya seperti rok. Pakaian tradisional yang dipakai orang Kulawi dalam kesempatan resmi cukup khas. Kaum wanita memaki rok bersusun tiga yang diberi hiasan guntingan kain beraneka-warna bentuk bunga. Baju atasnya dihiasai manik-manik berwarna. Memakai kalung emas bercorak tradisional yang disebut kamagi atau enu. Kaum pria memakai kemeja longgar dengan model sederhana, selempang, celana pendek yang menyempit di bagian bawah, memakai kain penutup kepala, ikat pinggang dengan kelewang tergantung di sebelah kiri. Bentuk rok wanita dan celana pria Kulawi tersebut nampaknya berasal dari pengaruh pakaian orang Portugis yang pernah terdampar ke daerah.

Benda yang berupa pemukul kulit kayu ditemukan pada penggalian di padang Tampeura Desa Langkeka Kecamatan Lore Selatan Kabupaten Poso, menunjukan bukti bahwa sejak zaman Prasejarah teknologi tradisional kain dari kulit kayu telah dimulai di daerah Sulawesi Tengah.

Sekarang, teknologi tradisional kain dari kulit kayu masih berkembang di masyarakat Sulawesi Tengah terutama pada etnik Kaili dan Kulawi. Teknologi tradisional ini digunakan untuk keperluan upacara adat yang berkaitan dengan religi dan kepercayaan.

Keragaman etnik di Sulawesi Tengah dapat dilihat dari pakaian, makanan khas, upacara sejak lahir hingga meninggal dunia, perumahan dan sebahagian dibedakan pula oleh bahasa (logat). Dari perbedaan itu, maka di Sulawesi Tengah terdapat 12 (dua belas) kelompok etnik (suku bangsa) yang tersebar di 9 (sembilan) Kab./Kota, yaitu; etnik Kaili, Tomini, Kulawi, Lore, Pamona, Mori, Bungku, Banggai, Saluan, Balantak, Tolitoli dan Buol. (Sumber : Masyhuda, H.M. Palu Meniti Zaman. Hal. 13-14. Palu : YKST. 2001)

Untuk kepentingan ini, dipilih etnik Kulawi sebagai pelaku teknologi tradisional kain dari kulit kayu yang dijadikan sebagai Pakaian Adat, berkaitan dengan religi dan kepercayaan.

Menurut Paulus Tampinongo (69 thn), mantan Penilik Kebudayaan Kandepdikbud Kecamatan Kulawi Propinsi Sulawesi Tengah, Senin (17/11/2003) menjelaskan, “Kalau kita melihat sejarah pertumbuhan dan perkembangan masyarakat Kulawi, pemakaian kain dari kulit kayu telah ada sejak manusia berada di Kulawi ini pada zaman Prasejarah”.

Lanjutnya, “ada pendapat beberapa ahli, misalnya Dr. Kruyt mengatakan bahwa suku Kulawi dikelompokkan dalam suku Toraja Barat. Sementara pendapat Drs. Indra B. Wumbu dan alm. Masyhuddin H. Masyhuda, mengelompokkan suku Kulawi ini adalah suku Kaili. Pendapat terakhir bahwa suku Kulawi adalah asimilasi perkawinan dari perpindahan penduduk secara besar-besaran di Gunung Momi. Ada yang lari ke arah barat melalui Hindia belakang, tembus ke Sumatra, Jawa kemudian Makassar. Ada yang lari ke Timur mulai dari Jepang, Filiphina, Sanger Talaud, Manado, Gorontalo kemudian Palu dan Poso. Jadi yang datang dari Utara dan datang dari Selatan melalui sungai Sa’dang terjadilah asimilasi perkawinan antara dua suku tersebut. Dari hasil perkawinan ini, itulah yang disebut suku Kulawi”.

Kesimpulannya adalah, “sejak zaman perpindahan secara besar-besar atau sebelum mereka datang, penduduk asli Kulawi telah memproses kulit kayu untuk dijadikan bahan pakaian yang disebut orang Kulawi pada umumnya, Nunu”.

Pada perkembangan selanjutnya, “untuk membedakan strata sosial masyarakat Kulawi dapat dilihat dari pemakaian busana bawahan wanita (rok). Kalau dalam pemakaian sehari-hari busana tersebut bersusun dua, sementara dalam pemakaian upacara adat ia dibuat bersusun tiga. Dari sini dapat dilihat strata sosial di masyarakat Kulawi”, ungkap sumber dikediamannya.¯

 

 

 

2.8. Rumah adat suku kulawi

Souraja

Souraja merupakan rumah tradisional tempat tinggal para bangsawan, yang berdiam di pantai atau di kota. Kata Souraja dapat diartikan rumah besar, merupakan rumah kediaman tidak resmi dari manggan atau raja beserta keluarga-keluarganya. Rumah orang biasa atau rakyat kebanyakan meskipun bentuk dan ukurannya sama dengan souraja.

2.9. Tarian Suku Kulawi

Langkah kaki petani yang sedang berburu itu terhenti begitu saja, ketika ia dikejutkan oleh kegaduhan yang terjadi di tengah rimba belantara yang biasanya diam. Meski sedikit takut, rasa penasarannya tak mampu dihentikannya. Maka sambil mengendap-ngendap, didekatinya sumber keriuhan itu. Dari balik semak-semak, pandangannya tertuju pada sekawanan rusa yang sedang bertingkah.

Beberapa rusa melenguh keras-keras bersahut-sahutan. Yang lainnya berjingkrak-jingkrak, menghentak-hentakan kakinya ke tanah. Sekilas gerombolan rusa itu seperti sedang menembangkan nyanyian alam nan melodius sambil bergerak lincah nan ritmis. Sejak menonton pentas tarian itu, ketakutan paman petani pelan-pelan mulai mereda. Diam-diam ia malah sangat menikmatinya.

Sesudahnya ia bahkan mengadopsinya menjadi sebuah permainan khas masyarakat suku Kulawi di Sulawesi Tengah. Tak diketahui pasti siapa gerangan petani itu. Tetapi, versi cerita rakyat setempat menyebutkan, memang begitulah sebermula kisah tari raego yang dikenal sampai sekarang. Tarian tanpa musik pengiring ini dimainkan oleh berpasang-pasang pria-wanita yang membentuk formasi lingkaran.

Tarian akan dimulai setelah totua ngata mencabut guma dari pinggangnya. Sambil merapalkan doa, tetua adat lalu menempelkan parang itu ke atas kepala salah satu penari. Tangan-tangan para penari, selanjutnya saling bertaut sedemikian rupa. Seterusnya, perlahan-lahan kaki-kaki mereka mulai bergerak: maju dan mundur. Gerakan itu makin bertenaga seiring para penari itu melagukan syair-syair pujian sambung-menyambung.

Pada bagian tertentu, sementara penari wanita menekuk lutunya, para penari pria begitu semangatnya menghentak-hentakkan kaki mereka ke bumi. Selain untuk membangunkan benih-benih tanaman, gerakan ini adalah simbol permohonan kepada tupu tana  kiranya melimpahkan keberkahan berupa kesuburan dan hasil tanam yang melimpah-ruah. Tari raego memang menjadi bagian penting dalam upacara adat menjelang dan sesudah musim panen (vunja ada mpae).

Di luar itu, raego juga kerap dimainkan saat berlangsungnya seremoni pernikahan (halia todea), upacara kematian (powutu), ritual tolak bala (potapahi tana), juga pesta peresmian rumah adat (pompede lobo). Tarian yang sudah berkembang jauh sebelum agama Islam dan Kristen mulai masuk dan menyebar di Kulawi ini tampaknya tergolong sakral. Tak heran bila raego hanya dimainkan pada acara-acara tertentu saja.

BAB III

PENUTUP

3.1. Kesimpulan

          Dari Pembahasan di atas, dapat di simpulkan bahwa, Suku Kulawi (To Kulawi), adalah suatu masyarakat adat yang hidup di kabupaten Donggala provinsi Sulawesi Tengah.

Suku Kulawi dikelompokkan ke dalam grup Palu Toraja oleh Walter Kaudern. Suku Kulawi memakai bahasa Moma, dan mereka adalah penganut agama Kristen.

Orang Kulawi memakai bahasa Kulawi dengan beberapa dialek, seperti dialek Kuwali-Lindu yang dipengaruhi oleh bahasa Kaili. Kelompok ini mendiami daerah sekitar Danau Lindu. Kemudian kelompok pemakai dialek Toboko-Umpa yang berdiam di sekitar Sungai Lariang.

Orang Kulawi umumnya hidup dari pertanian di sawah dan ladang. Masyarakat ini memiliki sistem garis keturunan yang bilateral sifatnya. Pasangan-pasangan yang baru kawin umumnya tinggal di lingkungan rumah pihak wanita (uksorilokal atau matrilokal), dan setelah anak pertama lahir biasanya mereka pindah ke lingkungan pihak laki-laki, atau membuat rumah baru sendiri.

Kepercayaan religi lama suku Kulawi meyakini adanya dewa tertinggi yang disebut Karampoa I Langi dan Karampoa I Tana (Pencipta langit dan Tanah). Selain itu ada pula sejumlah dewa yang dianggap menguasai bagian-bagian tertentu dari alam dan kehidupan, seperti dewa perang yang disebut Taliwarani. Dewa ini dipuja oleh para prajurit dan tadulako (panglima). Alam sekitar diyakini memiliki kekuatan-kekuatan yang terdapat dalam benda-benda dan makhluk hidup tertentu. Pada masa sekarang orang/suku Kulawi umumnya telah memeluk agama Kristen yang masuk sejak tahun 1913.

Pakaian asli orang Kulawi terbuat dari serat kulit pohon yang disebut vuya. Kaum laki-laki memakainya seperti cawat, kaum wanita memakainya seperti rok. Pakaian tradisional yang dipakai orang Kulawi dalam kesempatan resmi cukup khas. Kaum wanita memaki rok bersusun tiga yang diberi hiasan guntingan kain beraneka-warna bentuk bunga. Baju atasnya dihiasai manik-manik berwarna. Memakai kalung emas bercorak tradisional yang disebut kamagi atau enu. Kaum pria memakai kemeja longgar dengan model sederhana, selempang, celana pendek yang menyempit di bagian bawah, memakai kain penutup kepala, ikat pinggang dengan kelewang tergantung di sebelah kiri. Bentuk rok wanita dan celana pria Kulawi tersebut nampaknya berasal dari pengaruh pakaian orang Portugis yang pernah terdampar ke daerah.

 

3.2. Saran

Sebagai Warga Negara Indonesia kita harus lebih cinta tanah air dan menghargai suku bangsa serta merawat kekayaan budayanya khususnya Kebudayaan Suku Kulawi Karena keberadaan mereka adalah awal sebuah perkembangan bagi Bangsa Indonesia.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s