suku batak karo

BAB I

PENDAHULUAN

 

1.1. Latar Belakang

Indonesia adalah negara dengan banyak pulau-pulau yang saling terhubung satu sama lain membentuk satu kesatuan yang disebut kepulauan. Maka indonesia dikenal sebagai negara kepulauan yang negaranya terbentuk dari barisan-barisan pulau. Dengan banyaknya pulau di Indonesia tentu saja juga banyak suku masyarakatnya, selain negara kepulauan Indonesia juga terkenal sebagai negara kaya budaya. Karena setiap suku disuatu daerah atau pulau memiliki kebudayaan yang bergam-ragam.

Salah satu dari sekian banyak pulau yang ada di Indonesia pulau Sumatra adakah salah satunya yang memiliki banyak suku-suku dan kekayaan budaya melimpah. suku yang ada di pulau sumatra antaranya; Asahan, Suku Dairi, Suku Batak, Suku Melayu, Suku Nias, Akit, Hutan, Kuala, Kubu, Laut, Lingga, Riau, Sakai, Talang Mamak, Mentawai, Minangkabau Riau dll.

Dari banyaknya suku di Indonesia. Suku Batak adalah salah satu yang banyak mendiami daerah Sumatera khususnya Sumatera Utara. Batak merupakan salah satu suku bangsa di Indonesia. Nama ini merupakan sebuah tema kolektif untuk mengidentifikasikan beberapa suku bangsa yang bermukim dan berasal dari Tapanuli dan Sumatera Timur, di Sumatera Utara. Suku bangsa yang dikategorikan sebagai Batak adalah: Batak Toba, Batak Karo, Batak Pakpak, Batak Simalungun, Batak Angkola, dan Batak Mandailin. Dengan  banyaknya ragam suku Batak mari kita perdalam tentang salah satu suku batak yang cukup besar dan berpengaruh di sumatra Utara yaitu suku Batak Karo.

Batak Karo adalah salah Suku Bangsa yang mendiami Dataran Tinggi Karo, Sumatera Utara, Indonesia. Suku ini merupakan salah satu suku terbesar dalam Sumatera Utara. Nama suku ini dijadikan salah satu nama Kabupaten di salah satu wilayah yang mereka diami (dataran tinggi Karo) yaitu Tanah Karo.

 

1.2. Rumusan Masalah

 

  1. Bagaiamana Sejarah Perkembangan Suku Batak Karo ?
  2. Bagaimana Batas dan Lokasi Geografis Suku karo ?
  3. Apakah Mata Pencaharian Suku Batak Karo ?
  4. Apakah Bahasa dan Aksara Suku Batak karo ?
  5. Bagaimanakah Kebudayaan Suku Batak Karo ?
  6. Bagaimanakah Sistem Religi Suku Batak Karo ?

1.3. Tujuan

Adapun tujuan dari makalah ini yaitu :

  1. Agar pembaca dapat mengetahui kebudayaan masyarakat Batak, khususnya Batak  Batak Karo.
  2. Agar pembaca dapat memahami salah satu bentuk masalah sosial yang ada dalam masyarakat  Batak Karo.
  3. Agar pembaca dapat menelaah sistem interaksi dalam kehidupan keseharian masyarakat  Batak Karo.
  4. Agar pembaca dapat mengetahui akan stratifikasi yang ada dalam kehidupan masyarakat Batak Karo.
  5. Agar pembaca mengetahui bagaimana kehidupan beragama masyarakat Batak Karo

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB II

PEMBAHASAN

 

 

2.1. Sejarah Prerkembangan Batak Karo

Karo adalah salah Suku Bangsa yang mendiami Dataran Tinggi Karo, Sumatera Utara, Indonesia. Suku ini merupakan salah satu suku terbesar dalam Sumatera Utara. Nama suku ini dijadikan salah satu nama Kabupaten di salah satu wilayah yang mereka diami (dataran tinggi Karo) yaitu Tanah Karo. Menurut para ahli Darwan Prinst, SH :2004. Batak Karo merupakan sebuah Kerajaan yang mendiami Sumatera bernama  Haru- Karo. Kerajaan Haru-Karo (Kerajaan Aru) mulai menjadi kerajaan besar di Sumatera. Namun demikian, Brahma Putra, dalam bukunya “Karo dari Zaman ke Zaman” mengatakan bahwa pada abad 1 Masehi sudah ada kerajaan di Sumatera Utara yang rajanya bernama “Pa Lagan”.

Kerajaan Haru-Karo diketahui tumbuh dan berkembang bersamaan waktunya dengan kerajaan Majapahit, Sriwijaya, Johor, Malaka dan Aceh. Terbukti karena kerajaan Haru pernah berperang dengan kerajaan-kerajaan tersebut. Kerajaan Haru pada masa keemasannya, pengaruhnya tersebar mulai dari Aceh Besar hingga ke sungai Siak di Riau.

Sehingga terdapat banyak  suku Karo di Aceh Besar yang dalam bahasa Aceh disebut Karee. Keberadaan suku Haru-Karo di Aceh ini diakui oleh H. Muhammad Said dalam bukunya “Aceh Sepanjang Abad”, (1981). Ia menekankan bahwa penduduk asli Aceh Besar adalah keturunan mirip Batak. Sementara itu, H. M. Zainuddin dalam bukunya “Tarich Atjeh dan Nusantara” (1961) mengatakan bahwa di lembah Aceh Besar disamping terdapat kerajaan Islam terdapat pula kerajaan Karo.

2.2. Lokasi dan batas geografis

Dengan adanya Kerajaan Haru-Karo banyak suku Batak Karo yang populasi masyarakat atau keturunan kerajaan Karo yang ada di Sumatera khususnya Sumatera Utara. Namun walaupun begitu tidak hanya suku karo saja yang mendiami daerah di Sumatera masih banyak suku-suku yang lainnya. Namun ada beberapa wilayah yang sebagian besar masyarakatnya dalah masyrakat  Suku Batak Karo yang sudah mengalami perkembangan Kebudayaan maupun mengalami pencampuran kebudayaan dengan kebudayaan luar sehingga mereka tidak primitif lagi dan juga merupakan kota atau kabupaten maju dan berkembang di Sumatera  antaranya, Kabupaten Tanah Karo, Kota Medan, Kota Binjai, Kabupaten Daeri, Aceh Tenggara.

Batak Karo merupakan subsuku bangsa Batak yang mendiami daerah antara Gunung Sinabungdan Gunung Sibayak di propinsi SumatraUtara, terutama di dataran tinggi Karo, Langkat Hulu, Deli Hulu,Serdang Hulu dan sebagian Dairi. Orang Karo bertetangga denganempat suku bangsa lain, yaitu Melayu Sumatra Timur di sebelah utara,Alas di sebelah barat, Simalungun di sebelah timur dan Pakpak disebelah selatan. Masyarakat Batak Karo sendiri bermukim dikabupaten Karo yang beribukota Kabanjahe, di mana kabupaten inimemiliki luas wilayah 2.127,25 km2atau 212.725 Ha atau 2,97 persendari luas Propinsi Sumatera Utara, dan secara geografis terletakdiantara 2050’-3019’ Lintang Utara dan 97055’-98038’ Bujur Timur.Kabupaten Karo berbatasan dengan:

Sebelah Utara berbatasan dengan Kabupaten Langkat dan DeliSerdang

Sebelah Selatan berbatasan dengan Kabupaten Dairi dan TobaSamosir

Sebelah Timur berbatasan dengan Kabupaten Deli Serdang danKabupaten Simalungun

Sebelah Barat berbatasan dengan Kabupaten Aceh Tenggara(Propinsi NAD)Wilayah Tanah Karo tersusun atas dua wilayah utama sebagai berikut:

Dataran tinggi Tanah Karo, yang mencakup seluruh wilayah Kabupaen Karo dan pusat administratifnya di kota Kabanjahe dan brastagi. Wilayah dataran tinggi Tanah Karo ini menjorok ke selatanhingga masuk ke wilayah Kabupaten Dairi (khususnya Kecamatan Taneh Pinem dan Tiga Lingga), serta ke arah timurmasuk ke bagian wilayah Kecamatan Si Lima Kuta yang terletakdi Kabupaten Simalungun. Masyarakat Karo menyebut wilayah pemukiman dataran tinggi ini dengan nama Karo Gugung. Brastagi merupakan salah satu kota turis di Sumatera Utara yang sangat terkenal dengan produk pertaniannya yang unggul. Salah satunya adalah buah jeruk dan produk minuman yang terkenal yaitu sebagai penghasil Markisa Jus yang terkenal hingga seluruh nusantara. Mayoritas suku Karo bermukim di daerah pegunungan ini, tepatnya di daerah Gunung Sinabung dan Gunung Sibayak yang sering disebut sebagai atau “Taneh Karo Simalem”. Banyak keunikan-keunikan terdapat pada masyarakat Karo, baik dari geografis, alam, maupun bentuk masakan. Masakan Karo, salah satu yang unik adalah disebut terites. Terites ini disajikan pada saat pesta budaya, seperti pesta pernikahan, pesta memasuki rumah baru, dan pesta tahunan yang dinamakan -kerja tahun-. Trites ini bahannya diambil dari isilambung sapi/kerbau, yang belum dikeluarkan sebagai kotoran.Bahan inilah yang diolah sedemikian rupa dicampur dengan bahan rempah-rempah sehingga aroma tajam pada isi lambung berkurang dan dapat dinikmati. Masakan ini merupakan makanan favorit yang suguhan pertama diberikan kepada yang dihormati.

Di Medan Batak Karo merupakan suku yang dianggap paling besar dan banyak mendiami daerah ini, ini bisa terjadi karena pada awal Kota medan merupan salah satu dari wilayah  Kekuasaan Kerajaan Haru-Karo. Pendiri kota Medan adalah seorang putra Karo yaitu Guru Patimpus Sembiring Pelawi. Kota Binjai merupakan daerah yang memiliki interaksi paling kuat dengan Kota Medan disebabkan oleh jaraknya yang relatif sangat dekat dari Kota Medan sebagai ibukota Provinsi Sumatera Utara. Sehingga Kota Medan dan Bajai banyak dihuni atau ditempati oleh suku Batak Karo.

Wilayah Kabupaten Dairi pada umumnya sangat subur dengan kemakmuran masyarakatnya melalui perkebunan kopinya yang sangat berkualitas. Sebagian Kabupaten Dairi yang merupakan bagian Taneh Karo seperti;  Kecamatan Taneh Pinem, Kecamatan Tiga Lingga, Kecamatan Gunung Sitember. Selain Kabupaten Dairi, Kabupaten Aceh Tenggara juga mempunyai beberapa wilayah yang banyak dihuni oleh Batak Karo antaranya; Kecamatan Lau Sigala-gala (Desa Lau Deski, Lau Perbunga, Lau Kinga), Kecamatan Simpang Simadam.

Dataran rendah Tanah Karo yang mencakup wilayah-wilayah kecamatan dari Kabupaten Langkat dan Kabupaten Deli Serdangyang terletak pada bagian ujung selatan secara geografis( namun tertinggi secara topografis). Wilayah ini dimulai dariplato Tanah Karo yang membentang ke bawah hingga mencapaisekitar kampung-kampung Bahorok, Namo Ukur, Pancur Batu,dan Namo Rambe yang ada di sebelah utara, serta BangunPurba, Tiga Juhar, dan Gunung Meriah di sisi timur. MasyarakatKaro menyebut daerah ini dengan nama Karo Jahe (Karo Hilir).

 

2.3. Mata pencaharian Suku Batak Karo

Pada umumnya masyarakat batak bercocok tanam padi disawah dan ladang. Lahan didapat dari pembagian yang didasarkanmarga. Setiap kelurga mandapat tanah tadi tetapi tidak bolehmenjualnya. Selain tanah ulayat adapun tanah yang dimilikiperseorangan. Peternakan juga salah satu mata pencaharian sukubatak antara lain perternakan kerbau, sapi, babi, kambing, ayam, danbebek. Penangkapan ikan dilakukan sebagian penduduk disekitardanau Toba. .Sektor kerajinan juga berkembang. Misalnya tenun, anyaman rotan,ukiran kayu, temmbikar, yang ada kaitanya dengan pariwisata.

Namun di daerah karo tepatnya medan (dataran tinggi Karo) memiliki hasil bumi yang dikelolah dan dieksport keseluruh indonesia sampai keseluruh dunia yaitu sirup markisa. Di indonesia sendiri sirup markisa asli tanah karo tidak dijual disembarang tempat dna di daerah bali sendiri hanya ada 1 pemasok sirup markisa yaitu salah satu toko di pasar Badung dilantai satu. Karena sirup markisa buatan tanah karo sangat diminati oleh banyak kalangan maka sirup markisa salah satu mata pencaharian utama masyarakat suku karo.

 

2.4. Bahasa dan Aksara Batak Karo

Bahasa Karo adalah bahasa yang digunakan oleh suku Karo yang mendiami Dataran Tinggi Karo (Kabupaten Karo), Langkat, Deli Serdang, Dairi, Medan, hingga ke Aceh Tenggara di Indonesia.

Bahasa Karo adalah bahasa sehari-hari yang digunakan masyarakatKaro di mana merupakan bentuk bahasa Austronesia Barat yang digunakan di daerah Pulau Sumatera sebelah utara pada wilayah Kepulauan Indonesia. Ruang lingkup penggunaan bahasa itu sendiritidak mengenal ruang dan waktu. Dimanapun dan pada saat kapanpun jika ada sesama Karo bertemu ataupun bukan orang Karo tapi mengertibahasa Karo berhak untuk berdialog dengan bahasa Karo.

Penyebaran bahasa – AustronesiaSalah satu rumpun bahasa utama di dunia; meski hubungan denganrumpun-rumpun lain sudah diajukan, namun belum ada yangditerima secara luas. Distribusi geografis:Asia Tenggara, Oseania, Madagaskar, Taiwan, Suriname

Bahasa Karo secara historis ditulis menggunakan aksara Karo atau sering juga disebut Surat Aru/Haru yang merupakan turunan dari aksara Brahmi dari India kuno. namun kini hanya sejumlah kecil orang Karo dapat menulis atau memahami aksara Karo, dan sebaliknya aksara Latin yang digunakan . Jumlah penutur bahasa karo sekitar 600.000 orang pada tahun 1991

Ditinjau dari fungsi ataupun tempat pemakaiannya, cakap Karo dibagi dalam tiga bagian yang didalamnya meliputi: dialek, intonasi, arti kata, serta pemilihan katanya. Adapun ketiga pengkatagorian itu meliputi:

  1. Cakap bas peradaten(bahasa dalam peradatan),
  2. Cakap(bahasa) sirulo, cakap jambur(sehari-hari)
  3. Cakap bas kiniteken(keagamaan/spiritual).

Jika ditinjau dari dialek-nya, maka cakap Karo juga dibagi atas tujuh(7) dialek yang juga didasarkan pada tujuh pembagian wilayah adat Karo. Jika kita memaknai kata tujuh pembagian wilayah adat Karo, maka tentunya dapat ditarik kesimpulan kalau yang berbeda disini bukan hanya dialek saja, tetapi juga meliputi arti dari beberapa kata, juga hingga ke masalah peradatannya. Adapun ketujuh pembagian wilayah adat yang juga mempengaruhi dalam perbedaan dialek cakap Karo, yakni:

  1. Gugung/teruh deleng: Kuta Buluh, Tiga Nderket
  2. Karo Timur: Cingkes, Gunung Meriah, Bangun Purba, hingga ke Simalungun, dll;
  3. Karo Jahé/Karo Dusun(Deli-Serdang): Lau Cin/Namo Gajah, Delitua, Sibolangit, Pancur Batu, Senembah-Patumbak, dll;
  4. Karo Langkat/Karo Bingé: Nambiki, Langkat, Serbanaman Sunggal, Tanjung Manggusta, dll;
  5. Singalur Lau: Tiga Binanga, Juhar, dll;
  6. Karo Baluren/Pamah Sigedang(Kab. Dairi);
  7. Karo Urung Julu.

Namun, para ahli bahasa Karo membedakan dialek Karo itu dalam tiga garis besar perbedaan dialek Karo, yakni:

  1. Dialek Gugung
  2. Dialek Kabanjahe, dan
  3. Dialek Karo Jahe.

Aksara Karo ini adalah aksara kuno yang dipergunakan oleh masyarakat Karo, akan tetapi pada saat ini penggunaannya sangat terbatas sekali bahkan hampir tidak pernah digunakan lagi.guna melengkapi cara penulisan perlu dilengkapi dengan anak huruf seperti o= ketolongen, x= sikurun, ketelengen dan pemantek. contoh aksara Karo :

Marga yang di gunakan Suku Batak Karo

Sebagai mana suku bangsa yang ada di Sumatera Utara suku Karo memiliki sistem kekerabatan yang bersifat patrilinial dimana seorang anak laki-laki akan mewariskan marga (fams) kepada anak-anaknya. Suku Karo memiliki lima rumpun marga atau disebut marga silima. Dari lima marga ini memiliki submarga;

  •      Karo-karo : Barus, Bukit, Gurusinga, Kaban, Kacaribu dll (Jumlah = 18)
  •     Tarigan : Bondong, Ganagana, Gerneng, Purba, Sibero dll (Jumlah = 13)
  •     Ginting: Munthe, Saragih, Suka, Ajartambun, Jadibata dll (Jumlah = 16)
  •     Sembiring: Sembiring si banci man biang (sembiring yang boleh makan anjing): Keloko, Sinulaki, Kembaren, Sinupayung (Jumlah = 4); Sembiring simantangken biang (sembiring yang tidak boleh makan Anjing): Brahmana, Depari, Meliala, Pelawi dll (Jumlah = 15)
  •     Perangin-angin: Bangun, Kacinambun, Perbesi,Sebayang dll (Jumlah = 18).

Total semua submerga adalah = 84

 

 

 

 



2.5. Kebudayaan Suku Batak Karo


  1. Pakaian Adat

 

Berikut ini adalah jenis-jenis pakaian/ uis  adat Batak Karo sekaligus fungsinya dalam melanjalankan Upacara Adat Batak Karo sebagai berikut :

  1. UIS NIPES : Untuk tudung, “maneh-maneh” (kado untuk perempuan), untuk mengganti pakaian orang tua (pihak perempuan) dan sebagai alas “pinggan pasu” (piring) pada saat memberikan mas kawin dalam upacara adat.
  2. UIS JULU : Untuk sarung, “maneh-maneh”, untuk mengganti pakaian orang tua (untuk laki-laki) dan selimut.
  3. UIS GATIP GEWANG : Untuk menggendong bayi perempuan dan “abit” (sarung) laki-laki
  4. UIS GATIP JONGKIT : Untuk “gonje” (sarung) upacara adat bagi laki-laki dan selimut bagi “kalimbubu” (paman).
  5. UIS GATIP CUKCAK : Kegunaannya sama dengan gatip gewang, bedanya adalah gatip cukcak ini tidak pakai benang emas.
  6. UIS PEMENTING : Untuk ikat pinggang bagi laki-laki
  7. UIS BATU JALA : Untuk tudung bagi anak gadis pada pesta “guro-guro aron”. Boleh juga dipakai laki-laki, tapi harus 3 lapis, yaitu: uis batu jala, uis rambu-rambu dan uis kelam-kelam.
  8. UIS ARINTENENG : Sebagai alas waktu menjalankan mas kawin dan alas piring tempat makan pada waktu “mukul” (acara makan pada saat memasuki pelaminan), untuk memanggil roh, untuk “lanam” (alas menjunjung kayu api waktu memasuki rumah baru), untuk “upah tendi” (upah roh), diberikan sebagai penggendong bayi dan alas bibit padi.
  9. UIS KELAM – KELAM : Untuk tudung orang tua, untuk “morah-morah” (kado untuk laki-laki), dan boleh juga dipakai oleh laki-laki dalam upacara adat, tapi disertai batu jala dan rambu-rambu.
  10. UIS COBAR DIBATA : Untuk upacara kepercayaan, seperti “uis jinujung”, “berlangir” dan “ngelandekken galuh”.
  11. UIS BEKA BULUH : Untuk “bulang-bulang” diikatkan di kepala laki-laki pada upacara adat.
  12. UIS GARA : Untuk penggendong anak-anak, tudung untuk orang tua dan anak gadis.
  13. UIS JUJUNG – JUJUNGEN : Untuk melapisi bagian atas tudung bagi kaum wanita yang mengenakan tudung dalam upacara adat.


 

 

 

 

  1. Rumah Tinggal suku Batak Karo

Rumah adat orang Karo ini biasanya didiami oleh 8 kepala keluarga(ada juga 16 kepala keluarga, seperti Rumah “ empat ture” (empat sisi pintumuka)di kampung Batukarang, Tanah Tinggi Karo. Tinggi rumah adat inisekitar 30 meter, beratapkan ijuk dan pada tiap muka dari atapnyadipasang tanduk kerbau.

  • Rumah adat Karo

Rumah dengan panjang kurang lebih 16 meter dan lebar 10 meterdi mana dipasang belahan kayu besar dengan tiang-tiang kayu yangberukuran diameter 60 cm, dinding bagian bawah agak miringkurang lebih 30 derajat, disertai ukiran-ukiran di sepanjang bagiandinding dan lain sebagainya yang agak rumit diertai pulapemasangan tali-tali ijuk di sepanjang dinding itu yangmenggambarkan sejenis binatang melata seperti cicak. Pembuatandari rumah adat ini sendiri pun memakan waktu lama, sekitar satusampai empat tahun. Pembuatannya dirancang oleh arsitektur kepalayang disebut ”pande tukang”

Pada masyarakat Karo terdapat suatu rumah yang dihuni olehbeberapa keluarga, yang penempatan jabu-nya didalam rumahtersebut diatur menurut ketentuan adat dan didalam rumah itu pun berlaku ketentuan adat, itulah yang disebut dengan rumah adat Karo.Rumah adat Karo ini berbeda dengan rumah adat suku lainnya dank ekhasan itulah yang mencirikan rumah adat Karo. Bentuknya sangat megah diberi tanduk. Proses pendirian sampai kehidupan dalam rumah adat itu diatur oleh adat Karo, dan karena itulah disebut rumah adat.

Berdasarkan bentuk atap, rumah adat karo dapat dibagi menjadi duabagian, yaitu :

  1. Rumah sianjung-anjung

Rumah sianjung-anjung adalah rumah bermuka empat atau lebih,yang dapat juga terdiri atas sat atau dua tersek dan diberibertanduk.

  1. Rumah Mecu

Rumah mecu adalah rumah yang bentuknya sederhana, bermukadua mempunyai sepasang tanduk.

Sementara menurut binangun, rumah adat Karo pun dapat dibagi atasdua yaitu:

  1. Rumah Sangka Manuk.Rumah sangka manuk yaitu rumah yang binangunnya dibuat daribalok tindih-menindih.
  2. Rumah Sendi.

Rumah sendi adalah rumah yang tiang rumahnya dibuat berdiridan satu sama lain dihubungkan dengan balok-balok sehinggabangunan menjadi sendi dan kokoh. Dalam nyanyian rumah ini sering juga disebut Rumah Sendi Gading Kurungen Manik. Rumah adat Karo didirikan berdasarkan arah kenjahe (hilir) dankenjulu (hulu) sesuai aliran air pada suatu kampung.

Jabu dalam Rumah Adat

Rumah adat biasanya dihuni oleh empat atau delapan keluarga. Penempatan keluarga-keluarga itu dalam bagian rumahadat (jabu) dilakukan berdasarkan ketentuan adat Karo. Rumahadat secara garis besar dapat dibagi atas jabu jahe (hilir) dan jabu julu (hulu). Jabu jahe terbagi atas jabu bena kayu dan jabu leparbenana kayu. Demikian juga jabu kenjulu dibagi atas dua, yaitu jabuujung kayu dan jabu rumah sendipar ujung kayu. Inilah yangsesungguhnya disebut sebagai jabu adat. Rumah-rumah adat empat ruang ini dahulunya terdapat di Kuta Buluh, Buah Raja, Lau Buluh,Limang, Perbesi, Peceren, Lingga, dan lain-lain.Ada kalanya suatu rumah adat terdiri dari delapan ruang dandihuni oleh delapan keluarga. Malahan kampung Munte ada rumah adat yang dihuni oleh enam belas keluarga. Dalam hal rumah adat dihuni oleh delapan keluarga, sementara dapuar dalam rumah adathanya ada empat, masing-masing jabu dibagi dua, sehingga terjadilah jabu-jabu sedapuren bena kayu, sedapuren ujung kayu,sedapuren lepar bena kayu, dan jabu sedapuren lepar ujung kayu.

Adapun susunan jabu dan yang menempatinya adalah sebagai berikut:

  1. Jabu Benana Kayu . Terletak di jabu jahe. Kalau kita kerumah dari ture jahe, letaknyasebelah kiri. Jabu ini dihuni oleh para keturunen simantek kuta(golongan pendiri kampung) atau sembuyak-nya. Fungsinya adalah sebagai pemimpin rumah adat.
  2. Jabu ujung Kayu (anak beru) . Jabu ini arahnya di arah kenjulu rumah adat. Kalau kita masukkerumah adat dari pintu kenjulu, letaknya disebelah kiri ataudiagonal dengan letak jabu benana kayu. Jabu ini ditempati olehanak beru kuta atau anak beru dari jabu benana Kayu. Fungsinya adalah sebagai juru bicara jabu bena kayu.
  3. Jabu Lepar Benana Kayu . Jabu ini di arah kenjahe (hilir). Kalau kita kerumah dari pintukenjahe letaknya disebelah kanan, Penghuni jabu ini adalahsembuyak dari jabu benana kayu. Fungsinya untuk mendengarkan berita-berita yang terjadi diluarrumah dan menyampaikan hal itu kepada jabu benana kayu. Olehkarena itu, jabu ini disebut jabu sungkun berita (sumber informasi).
  4. Jabu lepar ujung kayu (mangan-minem).Letaknya dibagian kenjulu (hulu) rumah adat. Kalau kita masukdari pintu kenjulu ke rumah adat, letaknya di sebelah kanan. Jabuini ditempati oleh kalimbubu jabu benana kayu. Oleh karena itu, jabu ini disebut jabu si mangan-minem.Keempat jabu inilah yang disebut dengan jabu adat, karena penempatannya harus sesuai dengan adat, demikian juga yang menempatinya ditentukan menurut adat. Akan tetapi, adakalanya juga rumah adat itu terdiri dari delpan atau enam belas jabu.
  5. Jabu sedapuren benana kayu (peninggel-ninggel). Jabu ini ditempati oleh anak beru menteri dari rumah si mantekkuta (jabu benana kayu), dan sering pula disebut jabu peninggel-ninggel. Dia ini adalah anak beru dari ujung kayu.
  6. Jabu sidapuren ujung kayu (rintenteng) .Ditempati oleh sembuyak dari ujung kayu, yang Sering juga disebut jabu arinteneng. Tugasnya adalah untuk engkapuri belo,menyerahkan belo kinapur (persentabin) kepada tamu jabu benana kayu tersebut. Oleh karena itu, jabu ini disebut juga jabu arinteneng.
  7. Jabu sedapuren lepar ujung kayu (bicara guru).Dihuni oleh guru (dukun) atau tabib yang mengetahui berbagai pengobatan. Tugasnya mengobati anggota rumah yang sakit.
  8. Jabu sedapuren lepar benana kayuDihuni oleh puang kalimbubu dari jabu benana kayu disebut juga jabu pendungi ranan. Karena biasanya dalam runggun adat Karo persetujuan terakhir diberikan oleh puang kalimbubu.
  9. Kesenian Tari dan Ukiran
  10. Tari

Tari Tor-tor adalah tarian yang gerakannya se-irama denganiringan musik (magondangi) yang dimainkan dengan alat-alatmusik tradisional seperti gondang, suling, terompet batak, danlain-lain. Menurut sejarahnya tari tor-tor digunakan dalam acararitual yang berhubungan dengan roh, dimana roh tersebutdipanggil dan “masuk” ke patung-patung batu (merupakan simboldari leluhur), lalu patung tersebut tersebut bergerak seperti menariakan tetapi gerakannya kaku. Gerakan tersebut meliputi gerakankaki (jinjit-jinjit) dan gerakan tangan.

Tari serampang dua belas (bersifat hiburan). Merupakan salah satu dari sekian banyak tarian yangberkembang di bawahKesultanan Serdang diKabupaten Serdang Bedagai(dahulu Kabupaten Deli Serdang). Tari ini merupakan jenis tari tradisional yangdimainkan sebagai tari pergaulan yang mengandung pesantentang perjalanan kisah anak muda dalam mencari jodoh, mulaidari perkenalan sampai memasuki tahap pernikahan. Inilah salahsatu cara masyarkat Melayu Deli dalam mengajarkan tata carapencarian jodoh kepada generasi muda. Sehingga Tari Serampang Dua Belas menjadi kegemaran bagi generasi muda untuk mempelajari proses yang akan dilalui nantinya jika ingin membangun mahligai rumahtangga.

 

  1. Seni suara

Para penyaji lagu dimasyarakat Karo dikenal sebagai “permangge-mangga” atau“perkolong-kolong“ baik laki-laki maupun wanita. Pencipta laguyang terkenal antara lain ialah Jaga Depari, Nuhit Bukit, dll.

 

  1. Seni Ukir dan pahatan.
  • Ukir cekili kambing, ialah hiasan pada bangunan rumah, tangkaipisau, dan gantang beru-beru.
  • Ukir ipen-ipen, ialah dibuatkan pada bamabu atau kayu yangdijadikan tempat sayuran daging.
  • Ukir Embun sikawiten, ialah berbentuk awanyang berarak dan ini diukir pada petak, tangkaipisau dan gantang beru-beru.
  • Ciken, adalah tongkat dari kayu dan tulang dimana ada pegangan tangan.
  • Gung, ialah gong yang terbuat dari tembaga,biasanya dipergunakan pada upacara-upacara adat.
  • Penganak, bentuknya sama tapi jauh lebih kecil dari gong.
  • Sarune,adalah serunai terbuat dari kayu, digunakan untuk upacaraadat dan pesta muda-mudi.
  • Belobat, ialah beluat terbuat dari bambu yang merupakan alat tiup.
  • Keteng-keteng, terbuat dari seruas pohon bambu yang berfungsisebagai pengatur suara dalam suatu upacara.
  • Kecapi, alat petik menyerupai gitar dengan dua tali
  1. Hasil kerajinan tenun dari suku batak

kain ulos, Kain ini selalu ditampilkan dalam upacara perkawinan,mendirikan rumah, upacara kematian, penyerahanharta warisan, menyambut tamu yang dihormati dan upacara menari Tor-tor. Kain adat sesuai dengansistem keyakinan yang diwariskan nenek moyang .

Beberapa jenis ulos yang dikenal dalam adat Batak adalah sebagaiberikut:

  1. Ulos Ragidup

Ragi berarti corak, dan Ragidup berarti lambang kehidupan.Dinamakan demikian karena warna, lukisan serta coraknya memberikesan seolah-olah ulos ini benar-benar hidup. Ulos jenis ini adalahyang tertinggi kelasnya dan sangat sulit pembuatannya. Ulos initerdiri atas tiga bagian; dua sisi yang ditenun sekaligus, dan satubagian tengah yang ditenun tersendiri dengan sangat rumit. UlosRangidup bisa ditemukan di setiap rumah tangga suku batak didaerah-daerah yang masih kental adat bataknya. Karena dalamupacara adat perkawinan, ulos ini diberikan oleh orang tua pengantinperempuan kepada ibu pengantin lelaki

  1. Ulos RagihotangHotang

berarti rotan, ulos jenis ini juga termasuk berkelas tinggi,namun cara pembuatannya tidak serumit ulos Ragidup. Dalamupacara kematian, ulos ini dipakai untuk mengafani jenazah atauuntuk membungkus tulang belulang dalam upacara penguburankedua kalinya .

  1. Ulos Sibolang, diberikan kepada orang yang berjasa dalam mabolang-bolangi(menghormati) orang tua pengantin perempuan untuk mangulosi ayah pengantin laki-laki pada upacarapernikahan adat batak. Dalam upacara ini biasanya orang tua pengantin perempuan memberikan Ulos Bela.
  2. Ulos Bela yang berarti ulos menantu kepada pengantin laki-laki.
  3. Kegiatan adat Suku Batak Karo

selain perkawinan ada juga kegiatan adat Batak Karo yang selalu diadakan minimal 1 tahun sekali, baik upacara besar atau upacara kecil. Kebanyakan upacara yang ada memakan waktu yang cukup lama dan juga biaya yang cukup mahal, karena perlengkapan yang harus disediakan dan persembahan yang biasanya menggunakan binatang-binatang besar seperti sapi dll. Namun ada juga upacra memakan waktu singkat dan biaya kecil karena menggunkan binatang ber kaki 2 seperti ayam dan bebek, Beberapa Kegiatan adat antara lain,

  1. Kegiatan Adat suku Batak Karo
  2.   Merdang merdem = “kerja tahun” yang disertai “Gendang guro-guro aron”.
  3. Mahpah = “kerja tahun” yang disertai “Gendang guro-guro aron”.
  4. Mengket Rumah Mbaru – Pesta memasuki rumah (adat – ibadat) baru.
  5. Mbesur-mbesuri – “Ngerires” – membuat lemang waktu padi mulai bunting.
  6. Ndilo Udan – memanggil hujan.
  7. Rebu-rebu – mirip pesta “kerja tahun”.
  8. Ngumbung – hari jeda “aron” (kumpulan pekerja di desa).
  9.  Erpangir Ku Lau – penyucian diri (untuk membuang sial).
  10.  Raleng Tendi – “Ngicik Tendi” = memanggil jiwa setelah seseorang kurang tenang karena terkejut secara suatu kejadian yang tidak disangka-sangka.
  11.  Motong Rambai – Pesta kecil keluarga – handai taulan untuk memanggkas habis rambut bayi (balita) yang terjalin dan tidak rapi.
  12. Ngaloken Cincin Upah Tendi – Upacara keluarga pemberian cincin permintaan dari keponakan (dari Mama ke Bere-bere atau dari Bibi ke Permain).
  13. Ngaloken Rawit – Upacara keluarga pemberian pisau (tumbuk lada) atau belati atau celurit kecil yang berupa permintaan dari keponakan (dari Mama ke Bere-bere) – keponakan laki-laki.
  14. Upacara Upa Tendi

Upa secara bahasa diartikan pemberian. Sedangkan secara istilah adalah suatu ritual yang dilakukan oleh orang yang berhajat dengan mendoa’kan orang yang di upa agar memperoleh kebaikan. Kata Upa ini senada dengan kata Upah- upah, Mangupa dan Pangupa yang arti dan maksudnya juga sama yaitu berhajat dan mendoakan orang yang di upa- upakan.

Sedangkan Tendi adalah jiwa atau roh seseorang yang merupakan kekuatan, oleh karena itu tondi memberi nyawa kepada manusia. Tendi di dapat sejak seseorang di dalam kandungan. Bila tondi meninggalkan badan seseorang, maka orang tersebut akan sakit atau meninggal, maka diadakan upacara mangalap (menjemput) tondi dari sombaon yang menawannya.

Tendi (roh, nyawa) berada dalam tubuh manusia dan merupakan satu kesatuan. Manusia menjadi makhluk yang hidup karena memiliki tendi. Tendi memiliki zat kehidupan yang berlangsung selama- lamanya dan tidak dapat rusak oleh apapun. Orang Karo zaman dahulu mengenal ada dua jenis tendi, yaitu:

Pertama, tendi yang terdapat dalam tubuh manusia dan berhubungan dengannya pada masa kehidupan manusia saja.

Kedua, tendi yang merupakan bayangan yang melanjutkan aktivitas manusia. Artinya, secara biologis manusia telah mati, tapi aktivitasnya masih dilanjutkan oleh tendinya.

Kehadiran tendi dalam tubuh manusiamerupakan faktor penentu bagi kesehatan manusia. Timbulnya suatu penyakit, kegelisahan atau kemalangan diyakini sebagai akibat dari lemahnya tendi atau kepergian tendi  dari tubuh manusia. Bila kepergian tendi berlangsung lama dan tidak datang lagi ke dalam tubuh dikhawatirkan bisa menyebabkan kematian bagi manusia. Konon ada empat penyebab tendi meninggalkan tubuh manusia yaitu saat tidur, terkejut, mimpi dan kematian.

Jadi upa tondi adalah suatu ritual yang dilakukan oleh orang yang berhajat dengan mendoa’kan orang yang di upa agar tondinya dapat kembali kedalam tubuhnya atau sering disebut Mulak Tondi Tu Ruma.

  1. Upacara Upa Tondi Batak Karo

Upa atau pun mangupaupa tondi adalah tradisi budaya batak yang dilakukan oleh orang tua kepada anak, dari hula-hula kepada boru. Tradisi ini sudah diwariskan oleh nenek moyang mereka sejak dulu yang dipercaya ritual memohon meminta Sahala (berkat) kepada Oppung Mula Jadi Nabolon (Tuhan Yang Maha Esa) agar diberikan keselamatan/ sembuhan.

Biasanya tradisi ini diberikan kepada orang yang sakit, lemah, terkejut, naas dari sebuah kecelakaan. Karena orang-orang yang mengalami kejadian-kejadian tersebut dianggap roh meninggalkan tubuh orang tersebut dan dilakukanlah tradisi mangupaupa bertujuan agar rohnya dapat kembali ke dalam tubuhnya atau sering disebut Mulak Tondi Tu Ruma.[16].

Pada sumber yang lain Upa Tendi atau Mangupa Tondi ini dilakukan bila seseorang dalam keadaan yang sangat membahayakan sekali (terbukti dari eksistensi tondi yang sudah keluar dari rumah untuk jangka waktu yang lebih lama lagi) maka  diadakan acara yang bukan saja hanya memanggil tondi/ tendi pulang ke rumah (Mulak Tondi Tu Ruma) tetapi juga yang terpenting untuk berusaha “menguatkan” . Dalam hubungan ini orang batak mempercayai bahwa tondi yang sudah sangat lemah, dan menderita karena terancam kepergian tondi keluar adalah dianggap sebagai tondi yang ‘miskin’. Tondi yang miskin perku dan harus dikayakan, sebab kekayaan menunjukkan kekuatan. Apabila tondi harus dikayakan dengan pemberian barang- barang  berharga, makanan tertentu yang di upa- upakan maka seharusnya diadakan upacara ‘mangupa tondi’. Dalam upacara mangupa tondi, bermacam- macam barang dapat diberikan kepada orang yang sakit, seperti, makanan, beras, kerbau, atau binatang ternak lainnya. Tetapi pemberian yang paling lazim  dan dianggap sangat tinggi nilainya ialah pemberian selembar ‘Ulos’.

Keterlibatan pihak  hula- hula dalam memberikan ulos penguat tondi ini adalah dilatarbelakangi oleh pengertian “sahala” yang dipunyai oleh pihak hula- hula. Ulos yang diberikan oleh pihak hula- hula kepada bere- bere selalu dimaksudkan sebagai lambang transformasi “berkat” yang disalurkan oleh pihak hula- hula kepada berenya. Berkat yang disalurkan melalui pemberian ulos ini mempunyai arti untuk “mengkayakan” roh daripada orang yang sedang menderita kelemahan tondi.

Inilah salah satu budaya batak yang diwariskan oleh nenek moyang kita agar selalu memohon keselamatan dan kesembuhan kepada Tuhan Yang Maha Kuasa. Sebuah tradisi yang tetap dijungjung tinggi nilai budaya dan dilestarikan.

a.Waktu

Ada beberapa waktu pelaksanaan mengupa- upa tendi orang yang mau di upa- upakan:

  1. Pernikahan
  2. Selamatan
  3. Wisuda
  4. Upacara Ritual Geriten

Pada masyarakat Karo dahulu, setelah orang meninggal, tidak langsung dikebumikan tetapi diadakan upacara adat kematiannya untuk menghormati jenazahnya. Jenazah dimakamkan disuatu tempat untuk sementara. Setelah beberapa tahun lamanya, makam digali kembali untuk mengambil tulang-tulangnya dan dikumpulkan dan kemudian dimakamkan di sebuah rumah yang disebut Geriten.

Ritual kuno dari suku Batak Karo merupakan tradisi suci yang sudah diterapkan berabad-abad lalu. Pada saat penggalian kubur dilakukan  upacara adat yang disebut nurun-nurun (upacara kematian).  Keluarga suku kembali ke kuburan leluhur mereka. Ritual dilakukan dengan menggali kembali kuburan, mengambil seluruh kerangka, membersihkan kerangka dengan wewangian (terdiri dari air kelapa,jeruk nipis, kapur dan rempah-rempah) sebelum meletakkannya dalam peti mati baru dan menempatkannya di Geriten.

ritual ini dilakukan sebagai penghormatan dan kasih sayang kepada leluhur mereka. Tulang belulang dikeluarkan dari kuburan lama kemudian dipindahkan ke kuburan baru untuk menaikkan status dari leluhur mereka. Setelah kerangka diatur dalam peti itu kemudian ditempatkan ke dalam ‘rumah tengkorak’ yang dibangun khusus untuk acara keluarga dan berdoa bagi tulang. Jefri menjelaskan: “Ini adalah ritual yang sangat langka. Penghapusan tulang dari kuburan tua dilakukan untuk nenek moyang kehormatan dengan tindakan kasih. Tulang-tulang dikeluarkan dari kuburan yang telah ada waktu yang lama dan pindah ke sebuah kuburan baru, lebih baik. Ini adalah cara untuk menaikkan status dari nenek moyang.

  1. Upacara Erpangir Ku Lau
  2. Latar Belakang Upacara

Erpangir ku lau dilakukan dikarenakan oleh beberapa hal, misalnya :

(1) Buang sial, yaitu untuk membuang hal-hal yang dianggap membawa dampak tidak baik dalam diri seseorang. Untuk membuang hakl-hal yang dianggap sebagai ‘sial’ tersebut maka harus dibersihkan dengan upacara;

(2) Meminta kesembuhan penyakit, seseorang yang dihinggapi satu penyakit diyakini sebagai penyakit yang dibuat oleh manusia lain lewat perantaraan makhluk-makhluk halus, atau bias jadi karena makhlus halus itu sendiri (begu). Untuk penyembuhan salah satu cara pengobatan adalah dengan melakukan ritual erpangir ku lau;

(3) Menabalkan seseorang menjadi guru. Proses menjadi seorang guru juga harus melalui proses erpangir. Oleh sebab itu seseorang menjadi guru harus ditabalkan atau ditahbiskan dengan cara ipangiri oleh seorang guru juga.

(4) Permintaan begu singarak-ngarak seseorang. Seseorang yang mempunyai begu jabu biasa akan diurasi atau dibersihkan dari hal-hal yang tidak baik, caranya adalah dengan erpangir.

(5) Pembersihkan diri dari yang kotor

(6) Perkawinan, dalam upacara perkawinan sebelum perkawinan dilangsungkan biasa juga didahului dengan upacara erpangir ku lau. Hal ini untuk meminta persentabin atau ijin kepada semua makhluk-makhluk agar perkawinan tersebut dapat berlangsung dengan baik, sekaligus membersihkan diri dari hal-hal yang kotor.

(7) Menabalkan nama atau memberikan nama kepada seseorang

(8) Rutin silengguri, adalah berkeramas ke sungai dikarenakan mempunyai jinujung (begu jabu) sebagai salah satu modal kekuatan bagi diri seseorang.

 

(9) dll.

Biasanya pihak keluarga yang ingin melakukan erpangir ku lau adalah karena ada pirasat (gerek) dari seseorang bahwa ada yang tidak beres dalam tubuhnya.

  1. Jenis Upacara

Upacara erpangir ku lau dapat dibedakan tiga jenis berdasarkan besar kecilnya upacara tersebut dilakukan. Besar kecilnya jenis upacara ini terkait dengan jumlah peserta upacara atau kerabat yang terlibat dalam upacara tersebut dan jenis hewan yang disembelih. Disamping itu juga berpengaruh kepada tempat pelaksanaan upacara. Meskipun sebenarnya kategori ini tidak sepenuhnya dipakai khusus untuk upacara erpangir ku lau, tetapi biasa kegiatan erpangir ku lau merupakan suatu runtutan dari upacara utama, misalnya kegiatan erpangir ku lau diadakan karena akan dilaksanakan upacara perkawinan, dan sebagainya. Jadi sebenarnya pengelompokan jenis yang dimaksud adalah pengelompokan berdasarkan upacara perkawinan tersebut. Namun khusus untuk upacara erpangir ku lau bisa saja dilakukan dalam bentuk besar sampai bentuk yang paling kecil, yaitu ritual erpangir yang dilakukan oleh pribadi-pribadi. Adapun jenis upacara tersebut adalah:

  1. Kerja Sintua

Kerja (Pesta) sintua merupakan pesta yang paling besar yang ada pada masyarakat Karo. Pada pesta ini harus melibatkan seluruh sangkep nggeluh, yaitu orang-orang yang masih mempunyai hubungan kekerabatan dengan yang empunya hajatan serta seluruh anak kampung dimana pesta tersebut dilaksanakan. Pada upacara ini biasanya hewan yang disembelih adalah sapi (lembu).

Dalam kerja sintua ini seluruh kerabat yang dikenal dengan sangkep nggeluh, yang terdiri dari tiga unsur yaitu kalimbubu (pihak pemberi wanita), senina (saudara-saudara yang melakukan hajatan), dan anak beru (pihak penerima wanita). Masing-masing pihak dalam tiga status sosial tersebut mempunyai peranan masing-masing serta bagaimana mereka berlaku dalam upacara tersebut. Misalnya anak beru biasanya mempersiapkan segala sesuatunya seperti memasak makanan untuk seluruh peserta upacara tersebut, dan mengatur segala sesuatunya untuk keberhasilan upacara pihak kalimbubunya. Demikian juga dengan pihak senina dan kalimbubu mempunyai fungsi dan peranan masing-masing.

Meskipun pelaksanaan upacara adat yang terkait dengan erpangir ku lau dilangsungkan di Jambur, namun upacara erpangirnya sendiri tetap diadakan di sungai. Dalam kegiatan ini biasanya tidak hanya menggunakan alat musik yang relatif kecil, yaitu gendang telu sedalanen saja, tetapi juga menggunakan gendang yang lebih besar yang disebut dengan gendang lima sedalanen. Dalam upacara ini juga diadakan landek (menari) sesuai dengan peranannya masing-masing dalam upacara tersebut.

 

  1. Kerja Sintengah

Kerja sintengah adalah sebutan untuk pesta atau upacara yang sifatnya menengah. Upacara ini merupakan satu tingkat dibawah upacara yang termasuk dalam kategori kerja sintua. Pada upacara jenis ini meskipun juga melibatkan unsur-unsur sangkep nggeluh kerabat, namun tidak selengkap anggota kerabat yang terlibat dalam upacara kerja sintua. Dalam kerja sintua hampir melibatkan seluruh kerabat yang jauh dan dekat, serta penduduk kampung. Namun dalam kerja sintengah unsur-unsur kerabat yang diundang pada umumnya kerabat yang harus memang terlibat dalam kegiatan adat dalam sebuah keluarga tertentu. Oleh sebab itu upacara ini dinamakan kerja sintengah atau pesta/upacara tingkat menengah dalam ukuran adat Karo.

Hewan yang disembelih dalam upacara ini biasanya masih hewan yang berkaki empat, yaitu babi.

 

2.6. Religi masyarakat Batak Karo

Dalam hal alam pemikiran dan kepercayaan, orang Karo (yang belum memeluk agama Islam atau Kristen) erkiniteken (percaya) akan adanya Dibata (Tuhan) sebagai maha pencipta segala yang ada di alam raya dan dunia. Menurut kepercayaan tersebut Dibata yang menguasai segalanya itu terdiri dari

Dibata Idatas atau Guru Butara Atas yang menguasai alam raya/langit

Dibata Itengah atau Tuan Paduka Niaji yang menguasai bumi atau dunia

Dibata Iteruh atau Tuan Banua Koling yang menguasai di bawah atau di dalam bumi

Dibata ini disembah agar manusia mendapatkan keselamatan, jauh dari marabahaya dan mendapatkan kelimpahan rezeki. Mereka pun percaya adanya tenaga gaib yaitu berupa kekuatan yang berkedudukan di batu-batu besar, kayu besar, sungai, gunung, gua, atau tempat-tempat lain. Tempat inilah yang dikeramatkan. Dan apabila tenaga gaib yang merupakan kekuatan perkasa dari maha pencipta -dalam hal ini Dibata yang menguasai baik alam raya/langit, dunia/bumi, atapun di dalam tanah- disembah maka permintaan akan terkabul. Karena itu masyarakat yang berkepercayaan demikian melakukan berbagai variasi untuk melakukan penyembahan.

Mereka juga percaya bahwa roh manusia yang masih hidup yang dinamakan “Tendi“, sewaktu-waktu bisa meninggalkan jasad/badan manusia. Kalau hal itu terjadi maka diadakan upacara kepercayaan yang dipimpin oleh Guru Si Baso (dukun) agar tendi tadi segera kembali kepada manusia yang bersangkutan. Jika tendi terlalu lama pergi, dipercaya bahwa kematian akan menimpa manusia tersebut. Mereka juga percaya bahwa jika manusia sudah meninggal maka tendi akan menjadi begu atau arwah.

Banyak upacara ritual yang dilakukan oleh mereka yang ditujukan untuk keselamatan, kebahagiaan hidup, dan ketenangan berpikir. Upacara-upacara tersebut antara lain upacara kepercayaan menghadapi bahaya paceklik, menanam padi, menghadapi mimpi buruk, maju menuju medan perang, memasuki rumah baru, menghadapi kelahiran anak, kematian, menyucikan hati dan pikiran, dan lain lain. Di semua kegiatan ritual ini peranan para dukun atau Guru Si Baso tersebut cukup besar.

Mereka yang berkepercayaan demikian itu lazim disebut sebagai perbegu atau sipelbegu. Tapi terlepas dari maksud pihak luar dengan penamaan istilah tersebut di atas, yang secara kasar dapat diartikan sebagai penyembah setan atau berhala, mereka menyatakan bahwa mereka percaya adanya Dibata yang menjadikan segala yang ada dan bahwa ada tenaga gaib atauu kekuatan maha dasyat darinya yang mampu berbuat apa saja menurut kehendaknya. Kalaupun ada dilakukan upacara ritual berupa persembahan, maka persembahan itu maksudnya adalah kepada Dibata tadi, hanya saja penyalurannya dilakukan di tempat-tempat yang dikeramatkan.

Dengan demikian, pada perkumpulan desa di mana penduduk selalu berada dalam alam fikiran dan kepercayaan tersebut, para warga selalu merasa ada hubungan dengan roh keluarga yang sudah meninggal dunia, terutama nenek moyang yang mereka hormati sebagai pendahulu mereka, pendiri desa, pelindung adat istiadat. Mereka juga percaya bahwa pada kebajikan roh-roh tersebut akan menentukan keselamatan anak cucu mereka.

Meski sekarang ini rakyat Karo telah resmi memeluk agama-agama seperti Katholik, Protestan, maupun Islam, kadang-kadang masih juga ditemui adanya penyimpangan-penyimpangan misalnya terlalu terikat kepada kepercayaan tradisionalnya. Agama-agama Katholik, Protestan, dan Islam telah dipeluk oleh rakyat Karo tersebut sebenarnya juga membawa perbedaan terhadap cara berpikir di antara rakyat Karo. Akan tetapi, sekarang ini keakraban dan kekeluargaan di antara masyarakat Karo tetap terpelihara dan tidak tergoyahkan karena masyarakat Karo masih berpegang pada adat istiadat berlandaskan Daliken Si Telu dan Tutur Si Waluh yang meski tertulis secara resmi namun merupakan pengikat bagi pola hidup sehari-hari anggota-anggota masyarakat.

 

BAB III

PENUTUP

 

 

3.1. Kesimpulan

Batak Karo merupakan salah satu dari suku diindonesia yang sampai sekarang masih menjunjung tinggi kebudayaannya. Banyak diantara kita yang mengganggap suku -suku diindoneisa adalah orang-orang primitif. Tapi kita harus menyadari bahwa merekalah awal dari sebuah perkembangan.Perbedaan sebuah suku bukanlah hal yang menjadi alasan kita untuk bercerai berai. Namun ini adalah adalah satu batu loncatan demi perkembang Indonesia kedepannya

3.2. Saran

            Sebagai bangsa indonesia kita harus lebih cinta tanah air dan menghargai suku bangsa serta merawat kekayaan budayanya. Karena mereka adalah awal sebuah perkembangan.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s