“Mencari alamat Tuhan”

Sy slalu suka dengan kutipan ini. Kutipan yg diambil dari tulisan pak Leo Rimba. Sederhana, cerdas, dan menurut sy, berperadaban. Dengan elaborasi apa adanya, begini kutipannya,

“Tuhan tidak ada pada suara genta di Pura,
tidak di ujung TOA Masjid,
tidak juga di alunan kidung gereja,
bahkan tidak di untaian mantra yg terdengar dari wihara

Tuhan tidak ada di kalimat ceramah Ustad,
tidak muncul di kotbah Pastur dan Uskup,
tidak juga di petuah Ida Pedanda,
dan apalagi di nasehat sang Wiku. Tidak sama sekali.

Tuhan tidak ada di Injil,
tidak di Tripitaka,
tidak di Alquran,
tidak di Alkitab,
bahkan tidak juga di Weda

Lantas dimana Tuhan berada?

Tuhan atau Allah atau Yesus atau Sang Hyang Widhi atau Budha atau apalah sebutanNya, ada di kesadaran kita. Kesadaran saat sadar bhwa kita sadar.

Dan, mukjizat-Nya terasa ketika kita hadir penuh saat ini, total ada di momen ini. Serta bersyukur atas semuanya, tanpa syarat dan tanpa kondisi.

by: Tulus Budhi

Iklan

“Pujian itu Candu”

Mngkin ini agak kontradiktif. Tp mudah2an sy termasuk org yg terlambat memahaminya.

Dulu, sy termasuk org yg meng-iya-kan dan menjunjung tinggi konsep: “jika ingin dihargai oleh org lain, maka hargailah org lain terlebih dahulu”. Bahasa lainnya: “jika ingin dipuji, maka pujilah org lain dulu”. Terkesan wajar dan normatif bukan? Iya, sy dulu percaya total dgn kaidah ini. Sekali lagi, ini terlihat jelas, adil, dan sangat wajar.

Namun apa yg sy rasakan agak berbeda. Rasanya ada paradoks tak kasat mata pada konsep ini. Konsep: “jika ingin dipuji, maka pujilah org lain terlebih dahulu”, terasa mengandung unsur pamrih-isme: mengharap balasan kembali. Semacam kontrak bathin: “Nih gua kasi lu seribu, ntar lu yg kasi gua seribu”. Yang bahkan menjelma menjadi konsep percepatan rezeki model ini: “Jika ingin rezekimu lancar, maka sumbangkanlah 10% pengasilanmu utk yg membutuhkan”.

Bukan bermaksud mendebat ayat2 kitab suci dan melangkahi petuah Bu guru, tp entah kenapa aroma “ngarep balasan” begitu kuat tersurat pada kata “ingin dihargai, ingin dipuji, ingin dihormati, ingin lancar rezeki, termasuk ingin bnyak istri”. Di satu sisi kita diminta tulus memberi, tp di sisi lain justru terkesan pamrih. Kita seolah mengharapkan balasan atas apa yg telah kita lakukan. Padahal sebenarnya….iya.

Lalu, apakah salah mengharap pujian? Tidak juga, sebab kita manusia, makhluk Tuhan yg selalu haus pengakuan, pujian, apresiasi, dan lapar penghormatan. Pujian itu Candu Man! Sudahlah, kita tidak perlu munafik utk tidak mengakui hal itu. Kita juga tidak perlu munafik utk mengakui bahwa kita lebih suka dipuji atas penampilan kita, atas kecerdasan kita, atas betapa rupawannya kekasih kita, dan atas betapa trendinya mobil yg kita kendarai (upss keceplosan…)

Namun tindakan memuji orang lain supaya dapat pujian balik, menurut sy aneh dan just not natural. Jika pujian itu diucapkan hanya agar kita terlihat baik & ramah shingga layak mendapat pujian balik, maka yg keluar hanya pujian picisan. Kawan, pernahkan tiba2 teman mu datang lalu memuji-muji mu tanpa alasan yg jelas? Pahamilah bhwa sebenarnya mereka jarang dipuji. Sekali kau memujinya balik, maka harga dirinya akan melesat tinggi seperti roket air di pameran sains anak SD.

Jangan lagi menjadi pribadi yg fake. (Biarkan taxi saja yg fake….hmm). Jangan lagi menjadi sosok yg palsu, yg ingin memenuhi semua tuntutan bullshit masyarakat dan propaganda media. Itu melelahkan Kawan! Sy pernah seperti itu dulu, tp skrang ogah ah. Sebab, jika kamu memang ingin dipuji, bukan dgn cara memuji orang, tp jadilah Terpuji. Jika kamu ingin dihargai, maka jadilah Berharga. Dan jika kamu ingin dihormati, maka jadilah Terhormat. Bukankah Ini lebih logis Kawan?

Hingga pada satu titik nanti kamu sadar bhwa kebahagiaan mu tidak lagi perlu kau sandarkan pada pujian, pengakuan, atau omongan manis orang2, melainkan atas seberapa besar penghargaan yg kamu berikan pada dirimu sendiri. Itu saja. Titik. Sehingga saat kamu memuji org, itu murni hanya karena kamu ingin memuji saja. Kamu tidak perlu pamrih apalagi ngarep balasan. Segala aktivitas yg kamu lakukan murni berasal dari hati nurani. Tanpa peduli lagi kata orang. Ada tidaknya pujian padamu, biarlah itu urusan orang. It’s not your bussiness. Kamu jadi bisa lebih plong dan lebih ringan.

Dan jika sampai saat ini tidak ada satupun org yg memuji apalagi menghargai mu, maka cukup puji saja dirimu sendiri. Sadari bahwa kamu itu makhluk berharga! Satu-satunya di dunia. Gumamkan itu dalam hati. Lalu berjalanlah sambil bernyanyi lagu Bob Marley:
“La…la…la….la…..la….la…and the three little birds would be alright….”

by: Tulus Budhi

“Ketika Camelia Malik pun Bernyanyi”

Tanpa sengaja ku bersua kembali dgn kenalan lama. Meski usianya terpaut jauh lebih muda dariku, tp sebuah cincin emas telah melingkar di jari manisnya. Dengan ekspresi menggoda, ku tanya dia, “ciee…km udah nikah ya? Selamet ya dik…!”. Dia membalas, “Iya kak, baru 1 bulan. Iya nih soalnya udah lama pacaran kak”.

Aku pun turut bahagia. Tapi ada satu frase yg membuat nuraniku tersentak atas jawabannya,

“Soalnya udah lama pacaran!”

Respon2 sperti ini tidak sekali dua kali ku dengar. Bahkan beberapa ada yg menjawab, “Soalnya ortu udah nyuruh aku nikah nih Bro!”.

“Apakah ini alasan utama sebuah pernikahan?” pikirku. Tadinya kukira responnya “Iya kak, alna kami udah klik, udah cocok lahir bathin”. Tp ekspektasiku meleset. Namun demikian kuanggap jwbanya tadi adalah bentuk penegasan atas betapa besar cinta mereka — cinta yg menjadi dasar ikatan suci itu.

Namun apakah semua pernikahan itu memang benar2 ttg “Cinta”? Atau jangan2 pernikahan itu justru hanya ttg Keturunan, Harta, & Harga Diri Keluarga saja?!?

Jika pernikahan itu murni ttg Cinta, dan bukan ttg Keturunan,

Apakah ada pria yg mau menikahi wanita yg mandul? Jika ada, banyakkah???

Jika pernikahan itu hanya ttg Cinta,

Mengapa ada (bnyak) pria yg mencampakan & menceraikan istrinya karena tdk bisa hamil??

Jika pernikahan memang ttg Cinta,

Seberapa bnyakkah wanita zaman sekarang yg ikhlas menikahi pria miskin, yg hanya mengendarai motor Astrea 800 butut??

Jika pernikahan bukan ttg Harga Diri Keluarga,

Apakah ada bnyak org tua dari keluarga ber-Kasta mau menikahkan anaknya dgn org biasa?

Dan jika pernikahan bukan ttg Harga Diri Keluarga, tp memang benar2 ttg Cinta,

Mengapa ada org tua dari keluarga terpandang yg tega mengusir anaknya dari rumah lantaran telah lancang bercinta & mencintai org biasa?

Apakah pernikahan hanyalah sebuah peresmian seremonial belaka? Yg hanya menjadi bukti seorang manusia boleh disebut dewasa? Ataukah hanya menjadi “stempel” sah agar tdk disebut kumpul kebo oleh tetangga?
Entahlah…aku pun tak tahu….

Jika pemaknaannya hanya sedangkal itu, maka kita layak menundukkan kepala utk mengheningkan cipta sejenak atas pudarnya nilai2 nurani & kebebasan hakiki manusia: Kebebasan utk memilih hidup dan menghidupi fitrah sebagai makhluk bernalar.

Mungkin tulisan ini agak keras. Terlalu frontal, dan menelanjangi status quo beberapa kalangan yg sedang telanjang. Tapi Kawan, sberapa kuatkah jiwa kita terus hidup dlam tuntutan bullshit masyarakat? Sberapa kuatkah kita bernapas dgn udara kemunafikan? Tidakkah kita perlu sekali2 menanggalkan topeng kepalsuan dan kembali hidup penuh kejujuran?
Fiyuhhhh…..

Tiba2 untuk kedua kalinya aku tersentak,
Ahh….apa pula hak ku. Itu bukan urusan kita Kawan!. Mau menikah karena Cinta kek, karena Harta kek, karena Keturunan kek, karena Musim kek, atau cuma karena Hobi kek, itu pun tidak dilarang. Asalkan senang dan tenang. Semua bebas…sebebas kita bergoyang sambil diiringi lagu dangdut Camelia Malik,

“Kalau cinta sudah direkayasa,
Dengan gaya canggih luar biasa
Rindu buatan, Rindu sungguhan
Susah dibedakan….”

Tarriiikkkkkk massssss…..
Aseloleee jossssss……

by: Tulus Budhi

“Cemburu Tanda Sayang (…..kah?)”

Dalam dunia romantika, ada dua energi yg saling bertabrakan: Cinta dan Ego. Cinta/sayang adlah energi yg membahagiakan. Sedangkan ego adlah energi yg mnjdi sumber kesengsaraan.

Kita paham itu. Tapi lucunya, kita jarang sadar bhwa ego sering menyamar mnjdi Cinta. Saking halus penyamarannya, logika & nurani pun bisa ditipunya.

Kasus penyamaran ini bisa dilihat pada prinsip dasar hubungan cinta manusia:

“Cemburu adalah tanda Sayang”

Ini jelas tepat & tdk perlu diganggu gugat. Kalo pacar sy dekat dgn pria lain, maka sy cemburu. Artinya sy sayang pacar sy. Clear & logic bukan?

Namun dari hasil kontemplasi dan kalkulasi matematik tingkat tinggi yg saya lakukan, saya justru mnjadi agak ragu pada Prinsip ini.

Ahhh…mungkin interpretasi saya yg salah…

Saya periksa lagi analisa saya, lalu saya plot ulang grafik regresi linier yg saya buat, ternyata kesimpulannya sama saja:

Cemburu bukan tanda Sayang, tapi…

1) Cemburu adalah Rasa Takut kita pada Saingan. Rasa Takut bila Kalah Saing.

Jika ada wanita yg jauh lebih cantik, lebih seksi, dan lebih ramah darimu sedang dekat dgn priamu, kamu pasti cemburu berat. Benar nggak?? Tapi kalau yg mendekati priamu adalah wanita dekil, tompelan, gendut, jarang mandi, dan bau jigongnya setara dgn napas Vampir China, kenapa kamu tidak lagi terlalu cemburu?? Apakah karena kamu merasa di atas angin bersaing dgn wanita seburuk dia?? Dan, masih layakkah cemburumu disebut tanda Sayang??

************

2) Cemburu adalah Rasa takut Sengsara bila ditinggalkan Pasangan.

Apa yg kamu rasakan bila wanita/pria-mu meninggalkan kamu dan lebih memilih orang lain? Atau apa yg kamu rasakan saat kekasihmu bercumbu basah dgn org lain di depan kedua matamu?? Sengsara tingkat neraka kan?!
Karena sistem kerja otak manusia adalah mencari nikmat dan menghindari sengsara, maka saat ada wanita/pria ketiga dalam hubunganmu, Ego mu akan mengambil alih pikiranmu. Seperti gambar hologram, ego mu akan memvisualisasikan kesengsaraan yg akan menimpamu, dan menyuruhmu utk cemburu agar kamu tdk jadi sengsara. Itu terjadi dalam sekejap, tanpa kamu sadari. Sadar gak? Ya jelas enggak lah.

*************

3) Cemburu adalah tanda Betapa Lemahnya Dirimu utk Bisa Bahagia Sendiri

Karena takut sendiri, seseorang biasanya mnjadi sangat cemburu dan over protektif trhadap pasangannya. Jika kehadiran pasangan membuatmu bahagia, berarti tangki jiwamu belum penuh dgn kebahagiaan. Makanya kamu brharap pasanganmu membuatmu bahagia. Itu konyol Kawan. Sebab yg bisa membahagiakan dirimu ya cuma dirimu sndiri. Jadi, jangan berpacaran karena Pelarian, jangan pacaran karena Takut Sendiri, dan jangan pacaran karena Takut dibilang Enggak Laku. Pacaranlah hanya karena kamu cinta.

***************

4) Cemburu bukanlah tanda Sayang, tapi Rasa Ego utk Memiliki

Cinta itu memberi, bukan mengikat apalagi berusaha mengendalikan. Cinta itu membebaskan, bukan saling tuntut. Juga bukan saling menguasai. Tidak ada manusia yg boleh menguasai manusia lainnya. Tidak ada manusia yg berhak memiliki manusia lainnya. Manusia bukan objek/benda mati, manusia adalah subjek yg punya kebebasan. Sekarang tidak lagi zaman perbudakan. Semua bebas mencintai dan dicintai siapa saja. Jika kamu cemburu kepada pasanganmu, itu sbenarnya rasa ego yg menyamar sebagai cinta. Ego yg membuatmu berpikir bhwa org yg bersamamu saat ini adalah milikmu —yg berhak kamu atur2, dan berhak kamu cemburui.

***********

Jika cemburu membuatmu sengsara, galau, putus asa lalu mati muda,…masihkah kamu perlu cemburu???

Think that Babe!!!

by: Tulus Budhi

“Dan Boneka itu pun ikut Menggeleng”

Diam-diam aku menyimpan ketakjuban pada wanita masa kini. Ketakjuban ku muncul setelah lama mengamati kelihaian mereka dalam “Melukis Alis” : sebuah skill tingkat tinggi yg jarang dikuasai oleh wanita generasi terdahulu.

Bagiku, kemampuan dan tren melukis alis tidak hanya semata soal seni rias, tapi ada unsur ilmiah, kalkulasi, dan yg utama kepuasan bathin di dalamnya.

Kawan, dari sudut pandang optika geometri, melukis sebuah alis hanya dgn menggunakan metode pembentukan bayangan pada cermin datar sangat susah dilakukan. Kecerdasan spasial jelas diperlukan. Utk membuat goresan dan lekukan yg simetris dengan tingkat kesalahan 0,01%, mutlak diperlukan presisi dan akurasi yg tinggi. Belum lagi harus memadu-padankan dengan bentuk wajah. Semua itu harus dilakukan dengan perhitungan yg tepat agar hasilnya tampak memikat.

Dari perspektif ekonomi mikro, jelas ini bukan aktivitas yg efisien. Perlu waktu dan modal. Tentu modalnya tidak hanya pensil alis saja, perlu eye-liner, pelentik bulu mata, maskara, alas bedak, dan lain2, yg semuanya harus digunakan dengan takaran yg pas. Hitung2an cost & direct benefit-nya sudah pasti tidak cocok. Apalagi kalau mau kalkulasi pakai Be-E-Pe, pasti gak bakalan impas.

Anehnya, di akhir jam kerja atau sepulang beraktivitas, dua alis buatan yg sudah susah payah dilukis ini harus dihapus dan dibersihkan. Sungguh tragis nasib mereka. Pagi mereka dibuat, Siang dipamerkan, eh Malamnya malahan dihapus. Fiyuhhhh,…seperti boneka anjing di dashboard mobil, aku pun hanya bisa geleng2 kepala saja…(sambil mengelus dada tentunya)

Namun akhirnya ketakjuban dan rasa penasaranku dgn skill “melukis alis” ini pun terjawab setelah aku memahami bhwa ada semacam kepuasaan bathin bagi si empunya alis. Kepuasan atas pencapaian karena bisa layak disebut “cantik”. Kepuasan karena tidak disebut kampungan lagi. Kepuasaan atas perhatian dan pujian yg akan diterima. Serta yg terpenting adalah kepuasaan karena telah berhasil menyandang gelar: “Wanita Kekinian”

…..dan boneka anjing di dashbord mobil ku pun kembali menggeleng-geleng….

by: Tulus Budhi

Ilmu Pacaran yang Paling Kontroversial

1) Jika kamu suka seseorang, langsung saja katakan. Jangan nunggu lama2. Cukup bilang: “Hai, aku suka banget sama kamu!”. Udah itu aja. Jgn langsung ngajak pacaran. Kalau responnya positif, kamu bisa lanjutkan. Kalau negatif, jgn diteruskan.

**********

2) Jika saat kamu nembak, dia bilang: “Eh…gimana ya,..kasi aku waktu…aku mau pikir2 dulu”, maka jgn lagi berharap padanya. Tinggalkan saja. Itu bukan cinta, tapi dia terlalu takut rugi atau takut sakit hati. Cinta gak pake untung rugi. Untung rugi itu konsep dagang. Kalo dia suka & cinta, dia pasti bilang “ya”. Dan kalau dia berani bercinta, dia pasti nggak takut utk sakit hati.

**********

3) Selagi muda, perbanyaklah berpacaran. Rasakan rasanya jatuh cinta, putus, diselingkuhi, menyelingkuhi, jadi korban cinta, cinta bertepuk sebelah tangan, sampai sakit hati sesakit-sakitnya. Yg penting ekspresikan perasaanmu. Hingga saat kau sudah dewasa nanti, kau akan tertawa melihat semua kekonyolan kisah cinta masa muda mu.

**********

4) Siap Bercinta, maka harus siap Hamil. Jika tidak ingin hamil, pelajari trik2nya. Ini bukan ttg tabu atau pelarangan, ini hanya insting dasar makhluk hidup. Jangan fake dan munafik. Jika sama2 suka, lakukan saja….Jangan ditahan & Jangan saling menyalahkan. Kita hanya manusia biasa. Jika takut risiko, cukup lakukan sendiri. Jika takut dosa dan masuk neraka, silakan mendaftar jadi pemuka agama.

**********

5) Buat cewek2, jangan takut utk NEMBAK duluan. Ini zaman emansipasi. Jangan takut untuk mengutarakan perasaanmu kepada cowok. Kalau suka, bilang saja. Itu tandanya kamu cewek pemberani dan berkarakter, bukan cewek Murahan. Yang murahan itu justru adalah cewek yg nerima cinta cowok yg sebenarnya dia tidak suka tapi ia terima hanya karena takut disebut GAK LAKU dan EXPIRED.

**********

6) Jangan berkorban demi mendapatkan cintanya!! Sebab cinta tidak datang dari Pengorbanan, tapi dari Kecocokan Jiwa. Jika kamu suka berkorban dan menyiksa dirimu hanya agar dia membalas cintamu, itu bukan cinta…tapi Transaksi Ego: ego mu yang ingin memilikinya.

**********

7) Jika priamu selalu memanjakanmu, sadarlah bhwa dia tidak benar-benar menyayangimu. Pria yg benar2 paham cara mencintai wanita adalah pria yg mendorong wanita nya utk mandiri; utk tidak saling tergantung satu sama lain.

**********

8) Cinta yg dewasa bukan tentang dua insan yg saling melengkapi. Jika kamu berpikir bahwa pasanganmu hadir utk melengkapimu, itu artinya kamu menganggap bhwa dirimu kurang lengkap sehingga perlu dilengkapi. No man! Saat kamu dilahirkan di Bumi, kamu sudah lengkap. Sudah sempurna. Jika tidak sempurna, maka Tuhan tidak akan menciptakanmu.

Justru cinta yg dewasa adalah cinta yg dimiliki oleh dua insan yg sudah lengkap & sudah sempurna. Hubungan mereka hanya berupa kisah saling memberi & membagi kebahagiaan saja. Tidak ada saling tuntut, apalagi saling atur.

**********

9) Orang yg menjalin ikatan dengan mu saat ini BELUM TENTU adalah Jodohmu sampai mati. Kamu tidak akan pernah tahu kapan kamu putus, bercerai, atau berpisah. Orang yg dipertemukan dengan mu saat ini hanya hadir utk mendewasakanmu, dan membantu menuliskan satu lagi kisah di cerita hidupmu.

Dia hadir bukan utk memilikimu. Hingga pada satu titik nanti kamu akan sadar bahwa Jodoh sejati mu adalah DIRIMU SENDIRI: Dialah org yg pertama tertawa saat kamu bahagia, orang yg pertama berdarah saat kamu terluka, dan orang yg pertama meneteskan air mata saat kamu menangis. Cintailah dirimu melebihi cintamu pada org lain.

**********
Last,

10) Tidak ada Jomblo yg Ngenes. Yg Ngenes itu adalah orang yg Terpaksa mencintai & menikahi seseorang bukan karena kesepakatan Hati, tapi hanya karena Tuntutan Keluarga, Transaksi Primordial, Tekanan Sosial, Rasa takut Menua shingga tidak Laku, Takut Kadaluwarsa, dan Takut tidak dapat pasangan/kehabisan stok. Wake up! Kamu bukan barang dagangan. Jangan mengkhawatirkan masa depan. Kamu tidak tahu sampai kapan kamu hidup. Mungkin saja besok adalah hari terakhirmu. Jadi cukup nikmati saja hari ini. Total hadir di momen ini, dan Tersenyumlah!!

by: Tulus Budhi