“Ketika Camelia Malik pun Bernyanyi”

Tanpa sengaja ku bersua kembali dgn kenalan lama. Meski usianya terpaut jauh lebih muda dariku, tp sebuah cincin emas telah melingkar di jari manisnya. Dengan ekspresi menggoda, ku tanya dia, “ciee…km udah nikah ya? Selamet ya dik…!”. Dia membalas, “Iya kak, baru 1 bulan. Iya nih soalnya udah lama pacaran kak”.

Aku pun turut bahagia. Tapi ada satu frase yg membuat nuraniku tersentak atas jawabannya,

“Soalnya udah lama pacaran!”

Respon2 sperti ini tidak sekali dua kali ku dengar. Bahkan beberapa ada yg menjawab, “Soalnya ortu udah nyuruh aku nikah nih Bro!”.

“Apakah ini alasan utama sebuah pernikahan?” pikirku. Tadinya kukira responnya “Iya kak, alna kami udah klik, udah cocok lahir bathin”. Tp ekspektasiku meleset. Namun demikian kuanggap jwbanya tadi adalah bentuk penegasan atas betapa besar cinta mereka — cinta yg menjadi dasar ikatan suci itu.

Namun apakah semua pernikahan itu memang benar2 ttg “Cinta”? Atau jangan2 pernikahan itu justru hanya ttg Keturunan, Harta, & Harga Diri Keluarga saja?!?

Jika pernikahan itu murni ttg Cinta, dan bukan ttg Keturunan,

Apakah ada pria yg mau menikahi wanita yg mandul? Jika ada, banyakkah???

Jika pernikahan itu hanya ttg Cinta,

Mengapa ada (bnyak) pria yg mencampakan & menceraikan istrinya karena tdk bisa hamil??

Jika pernikahan memang ttg Cinta,

Seberapa bnyakkah wanita zaman sekarang yg ikhlas menikahi pria miskin, yg hanya mengendarai motor Astrea 800 butut??

Jika pernikahan bukan ttg Harga Diri Keluarga,

Apakah ada bnyak org tua dari keluarga ber-Kasta mau menikahkan anaknya dgn org biasa?

Dan jika pernikahan bukan ttg Harga Diri Keluarga, tp memang benar2 ttg Cinta,

Mengapa ada org tua dari keluarga terpandang yg tega mengusir anaknya dari rumah lantaran telah lancang bercinta & mencintai org biasa?

Apakah pernikahan hanyalah sebuah peresmian seremonial belaka? Yg hanya menjadi bukti seorang manusia boleh disebut dewasa? Ataukah hanya menjadi “stempel” sah agar tdk disebut kumpul kebo oleh tetangga?
Entahlah…aku pun tak tahu….

Jika pemaknaannya hanya sedangkal itu, maka kita layak menundukkan kepala utk mengheningkan cipta sejenak atas pudarnya nilai2 nurani & kebebasan hakiki manusia: Kebebasan utk memilih hidup dan menghidupi fitrah sebagai makhluk bernalar.

Mungkin tulisan ini agak keras. Terlalu frontal, dan menelanjangi status quo beberapa kalangan yg sedang telanjang. Tapi Kawan, sberapa kuatkah jiwa kita terus hidup dlam tuntutan bullshit masyarakat? Sberapa kuatkah kita bernapas dgn udara kemunafikan? Tidakkah kita perlu sekali2 menanggalkan topeng kepalsuan dan kembali hidup penuh kejujuran?
Fiyuhhhh…..

Tiba2 untuk kedua kalinya aku tersentak,
Ahh….apa pula hak ku. Itu bukan urusan kita Kawan!. Mau menikah karena Cinta kek, karena Harta kek, karena Keturunan kek, karena Musim kek, atau cuma karena Hobi kek, itu pun tidak dilarang. Asalkan senang dan tenang. Semua bebas…sebebas kita bergoyang sambil diiringi lagu dangdut Camelia Malik,

“Kalau cinta sudah direkayasa,
Dengan gaya canggih luar biasa
Rindu buatan, Rindu sungguhan
Susah dibedakan….”

Tarriiikkkkkk massssss…..
Aseloleee jossssss……

by: Tulus Budhi

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s