“Pujian itu Candu”

Mngkin ini agak kontradiktif. Tp mudah2an sy termasuk org yg terlambat memahaminya.

Dulu, sy termasuk org yg meng-iya-kan dan menjunjung tinggi konsep: “jika ingin dihargai oleh org lain, maka hargailah org lain terlebih dahulu”. Bahasa lainnya: “jika ingin dipuji, maka pujilah org lain dulu”. Terkesan wajar dan normatif bukan? Iya, sy dulu percaya total dgn kaidah ini. Sekali lagi, ini terlihat jelas, adil, dan sangat wajar.

Namun apa yg sy rasakan agak berbeda. Rasanya ada paradoks tak kasat mata pada konsep ini. Konsep: “jika ingin dipuji, maka pujilah org lain terlebih dahulu”, terasa mengandung unsur pamrih-isme: mengharap balasan kembali. Semacam kontrak bathin: “Nih gua kasi lu seribu, ntar lu yg kasi gua seribu”. Yang bahkan menjelma menjadi konsep percepatan rezeki model ini: “Jika ingin rezekimu lancar, maka sumbangkanlah 10% pengasilanmu utk yg membutuhkan”.

Bukan bermaksud mendebat ayat2 kitab suci dan melangkahi petuah Bu guru, tp entah kenapa aroma “ngarep balasan” begitu kuat tersurat pada kata “ingin dihargai, ingin dipuji, ingin dihormati, ingin lancar rezeki, termasuk ingin bnyak istri”. Di satu sisi kita diminta tulus memberi, tp di sisi lain justru terkesan pamrih. Kita seolah mengharapkan balasan atas apa yg telah kita lakukan. Padahal sebenarnya….iya.

Lalu, apakah salah mengharap pujian? Tidak juga, sebab kita manusia, makhluk Tuhan yg selalu haus pengakuan, pujian, apresiasi, dan lapar penghormatan. Pujian itu Candu Man! Sudahlah, kita tidak perlu munafik utk tidak mengakui hal itu. Kita juga tidak perlu munafik utk mengakui bahwa kita lebih suka dipuji atas penampilan kita, atas kecerdasan kita, atas betapa rupawannya kekasih kita, dan atas betapa trendinya mobil yg kita kendarai (upss keceplosan…)

Namun tindakan memuji orang lain supaya dapat pujian balik, menurut sy aneh dan just not natural. Jika pujian itu diucapkan hanya agar kita terlihat baik & ramah shingga layak mendapat pujian balik, maka yg keluar hanya pujian picisan. Kawan, pernahkan tiba2 teman mu datang lalu memuji-muji mu tanpa alasan yg jelas? Pahamilah bhwa sebenarnya mereka jarang dipuji. Sekali kau memujinya balik, maka harga dirinya akan melesat tinggi seperti roket air di pameran sains anak SD.

Jangan lagi menjadi pribadi yg fake. (Biarkan taxi saja yg fake….hmm). Jangan lagi menjadi sosok yg palsu, yg ingin memenuhi semua tuntutan bullshit masyarakat dan propaganda media. Itu melelahkan Kawan! Sy pernah seperti itu dulu, tp skrang ogah ah. Sebab, jika kamu memang ingin dipuji, bukan dgn cara memuji orang, tp jadilah Terpuji. Jika kamu ingin dihargai, maka jadilah Berharga. Dan jika kamu ingin dihormati, maka jadilah Terhormat. Bukankah Ini lebih logis Kawan?

Hingga pada satu titik nanti kamu sadar bhwa kebahagiaan mu tidak lagi perlu kau sandarkan pada pujian, pengakuan, atau omongan manis orang2, melainkan atas seberapa besar penghargaan yg kamu berikan pada dirimu sendiri. Itu saja. Titik. Sehingga saat kamu memuji org, itu murni hanya karena kamu ingin memuji saja. Kamu tidak perlu pamrih apalagi ngarep balasan. Segala aktivitas yg kamu lakukan murni berasal dari hati nurani. Tanpa peduli lagi kata orang. Ada tidaknya pujian padamu, biarlah itu urusan orang. It’s not your bussiness. Kamu jadi bisa lebih plong dan lebih ringan.

Dan jika sampai saat ini tidak ada satupun org yg memuji apalagi menghargai mu, maka cukup puji saja dirimu sendiri. Sadari bahwa kamu itu makhluk berharga! Satu-satunya di dunia. Gumamkan itu dalam hati. Lalu berjalanlah sambil bernyanyi lagu Bob Marley:
“La…la…la….la…..la….la…and the three little birds would be alright….”

by: Tulus Budhi

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s