“Dan Boneka itu pun ikut Menggeleng”

Diam-diam aku menyimpan ketakjuban pada wanita masa kini. Ketakjuban ku muncul setelah lama mengamati kelihaian mereka dalam “Melukis Alis” : sebuah skill tingkat tinggi yg jarang dikuasai oleh wanita generasi terdahulu.

Bagiku, kemampuan dan tren melukis alis tidak hanya semata soal seni rias, tapi ada unsur ilmiah, kalkulasi, dan yg utama kepuasan bathin di dalamnya.

Kawan, dari sudut pandang optika geometri, melukis sebuah alis hanya dgn menggunakan metode pembentukan bayangan pada cermin datar sangat susah dilakukan. Kecerdasan spasial jelas diperlukan. Utk membuat goresan dan lekukan yg simetris dengan tingkat kesalahan 0,01%, mutlak diperlukan presisi dan akurasi yg tinggi. Belum lagi harus memadu-padankan dengan bentuk wajah. Semua itu harus dilakukan dengan perhitungan yg tepat agar hasilnya tampak memikat.

Dari perspektif ekonomi mikro, jelas ini bukan aktivitas yg efisien. Perlu waktu dan modal. Tentu modalnya tidak hanya pensil alis saja, perlu eye-liner, pelentik bulu mata, maskara, alas bedak, dan lain2, yg semuanya harus digunakan dengan takaran yg pas. Hitung2an cost & direct benefit-nya sudah pasti tidak cocok. Apalagi kalau mau kalkulasi pakai Be-E-Pe, pasti gak bakalan impas.

Anehnya, di akhir jam kerja atau sepulang beraktivitas, dua alis buatan yg sudah susah payah dilukis ini harus dihapus dan dibersihkan. Sungguh tragis nasib mereka. Pagi mereka dibuat, Siang dipamerkan, eh Malamnya malahan dihapus. Fiyuhhhh,…seperti boneka anjing di dashboard mobil, aku pun hanya bisa geleng2 kepala saja…(sambil mengelus dada tentunya)

Namun akhirnya ketakjuban dan rasa penasaranku dgn skill “melukis alis” ini pun terjawab setelah aku memahami bhwa ada semacam kepuasaan bathin bagi si empunya alis. Kepuasan atas pencapaian karena bisa layak disebut “cantik”. Kepuasan karena tidak disebut kampungan lagi. Kepuasaan atas perhatian dan pujian yg akan diterima. Serta yg terpenting adalah kepuasaan karena telah berhasil menyandang gelar: “Wanita Kekinian”

…..dan boneka anjing di dashbord mobil ku pun kembali menggeleng-geleng….

by: Tulus Budhi

Ilmu Pacaran yang Paling Kontroversial

1) Jika kamu suka seseorang, langsung saja katakan. Jangan nunggu lama2. Cukup bilang: “Hai, aku suka banget sama kamu!”. Udah itu aja. Jgn langsung ngajak pacaran. Kalau responnya positif, kamu bisa lanjutkan. Kalau negatif, jgn diteruskan.

**********

2) Jika saat kamu nembak, dia bilang: “Eh…gimana ya,..kasi aku waktu…aku mau pikir2 dulu”, maka jgn lagi berharap padanya. Tinggalkan saja. Itu bukan cinta, tapi dia terlalu takut rugi atau takut sakit hati. Cinta gak pake untung rugi. Untung rugi itu konsep dagang. Kalo dia suka & cinta, dia pasti bilang “ya”. Dan kalau dia berani bercinta, dia pasti nggak takut utk sakit hati.

**********

3) Selagi muda, perbanyaklah berpacaran. Rasakan rasanya jatuh cinta, putus, diselingkuhi, menyelingkuhi, jadi korban cinta, cinta bertepuk sebelah tangan, sampai sakit hati sesakit-sakitnya. Yg penting ekspresikan perasaanmu. Hingga saat kau sudah dewasa nanti, kau akan tertawa melihat semua kekonyolan kisah cinta masa muda mu.

**********

4) Siap Bercinta, maka harus siap Hamil. Jika tidak ingin hamil, pelajari trik2nya. Ini bukan ttg tabu atau pelarangan, ini hanya insting dasar makhluk hidup. Jangan fake dan munafik. Jika sama2 suka, lakukan saja….Jangan ditahan & Jangan saling menyalahkan. Kita hanya manusia biasa. Jika takut risiko, cukup lakukan sendiri. Jika takut dosa dan masuk neraka, silakan mendaftar jadi pemuka agama.

**********

5) Buat cewek2, jangan takut utk NEMBAK duluan. Ini zaman emansipasi. Jangan takut untuk mengutarakan perasaanmu kepada cowok. Kalau suka, bilang saja. Itu tandanya kamu cewek pemberani dan berkarakter, bukan cewek Murahan. Yang murahan itu justru adalah cewek yg nerima cinta cowok yg sebenarnya dia tidak suka tapi ia terima hanya karena takut disebut GAK LAKU dan EXPIRED.

**********

6) Jangan berkorban demi mendapatkan cintanya!! Sebab cinta tidak datang dari Pengorbanan, tapi dari Kecocokan Jiwa. Jika kamu suka berkorban dan menyiksa dirimu hanya agar dia membalas cintamu, itu bukan cinta…tapi Transaksi Ego: ego mu yang ingin memilikinya.

**********

7) Jika priamu selalu memanjakanmu, sadarlah bhwa dia tidak benar-benar menyayangimu. Pria yg benar2 paham cara mencintai wanita adalah pria yg mendorong wanita nya utk mandiri; utk tidak saling tergantung satu sama lain.

**********

8) Cinta yg dewasa bukan tentang dua insan yg saling melengkapi. Jika kamu berpikir bahwa pasanganmu hadir utk melengkapimu, itu artinya kamu menganggap bhwa dirimu kurang lengkap sehingga perlu dilengkapi. No man! Saat kamu dilahirkan di Bumi, kamu sudah lengkap. Sudah sempurna. Jika tidak sempurna, maka Tuhan tidak akan menciptakanmu.

Justru cinta yg dewasa adalah cinta yg dimiliki oleh dua insan yg sudah lengkap & sudah sempurna. Hubungan mereka hanya berupa kisah saling memberi & membagi kebahagiaan saja. Tidak ada saling tuntut, apalagi saling atur.

**********

9) Orang yg menjalin ikatan dengan mu saat ini BELUM TENTU adalah Jodohmu sampai mati. Kamu tidak akan pernah tahu kapan kamu putus, bercerai, atau berpisah. Orang yg dipertemukan dengan mu saat ini hanya hadir utk mendewasakanmu, dan membantu menuliskan satu lagi kisah di cerita hidupmu.

Dia hadir bukan utk memilikimu. Hingga pada satu titik nanti kamu akan sadar bahwa Jodoh sejati mu adalah DIRIMU SENDIRI: Dialah org yg pertama tertawa saat kamu bahagia, orang yg pertama berdarah saat kamu terluka, dan orang yg pertama meneteskan air mata saat kamu menangis. Cintailah dirimu melebihi cintamu pada org lain.

**********
Last,

10) Tidak ada Jomblo yg Ngenes. Yg Ngenes itu adalah orang yg Terpaksa mencintai & menikahi seseorang bukan karena kesepakatan Hati, tapi hanya karena Tuntutan Keluarga, Transaksi Primordial, Tekanan Sosial, Rasa takut Menua shingga tidak Laku, Takut Kadaluwarsa, dan Takut tidak dapat pasangan/kehabisan stok. Wake up! Kamu bukan barang dagangan. Jangan mengkhawatirkan masa depan. Kamu tidak tahu sampai kapan kamu hidup. Mungkin saja besok adalah hari terakhirmu. Jadi cukup nikmati saja hari ini. Total hadir di momen ini, dan Tersenyumlah!!

by: Tulus Budhi

Plugin Penting Yang Harus Ada Pada WordPress

Pengunjung yang banyak ke blog kita mungkin adalah hal yang paling penting untuk setiap blogger maka karena ini saya memikiranuntuk mencari plugin WordPress yang akan bisa membantu untuk melakukan itu. Dan inilah yang saya dapat:

1. Tell a Friend – WP-Email

Plugin ini memungkinkan pengunjung untuk merekomendasikan posting blog atau halaman Anda ke teman melalui email.

2. Subscribe to Comments

Pengunjung Andacukup centang kotak di bawah kolom komentar yang memungkinkan mereka untuk menerima email pemberitahuan setiap kali ada yang berkomentar di post tersebut.

3. Plugin Random Posts

Menampilkan daftar posting acak dari blog di akhir posting blog mendorong pembaca untuktetap membacadi situs Anda.

4. Similar Posts

Menampilkan daftar dari posting terkait blog Anda di akhir setiap post. Hal ini mendorong pembaca untuk tetap tinggal di situs Anda lebih lama.

5. Recent Posts

Menampilkan posting terakhir blog Anda.

6. Digg Plugin

Memungkinkan Anda untuk menambahkan ikon tombol Digguntuk setiap posting blog mendorong pembacauntuk men-Digg posting Anda.

7. Share This Pugin

Memungkinkan pengunjung untuk menambah posting blog Andake jaringan sosial bookmark situs. Anda dapat melihat bagaimana ini bekerja dengan mengklik Share Link ini di bagian bawah posting…

8. Sociable Plugin

Cara kerjanya hampir mirip dengan ‘Share This’ plugindengan memungkinkan pengunjung untuk mengirimkan posting Anda ke bookmark situs favorit mereka

9. All in One SEO Pack

Mengoptimal blog Anda untuk search engine atau mesin pencari. Dan membuat posting blog Anda mudah untuk dicari dan di ranking.

10. SMS Text Message Plugin

Pengunjung Anda dapat memasukkan nomor ponsel di sidebar widget danmengirimi pesan updatevia SMS ketika blog Anda telah diupdate.

11. Increase Sociability Plugin

Plugin inibekerja bila pengunjung telah tiba melalui StumbleUpon atau Digg dan menyediakan mereka pengingat untuk mendorong mereka untuk memberikanvoting untuk posting Anda.

12. Subscribe Remind

Menempatkan teks di akhir setiap posting blog untuk mengingatkan pengunjung untuk berlangganan RSS feed.

13. What Would Seth Godin Do Plugin

Bekerja dalam cara yang mirip dengan plugin’Subscribe Remind’ tetapi telah ditambahkan beberapa fungsi yang menggunakan cookies untuk membedakan antara pertama kali pengunjung dan pengunjung biasa. Anda dapat membuat pesandi atas atau di bawah posting blog dan pengunjung yang pertama kalinya mengunjungi blog Anda dapat melihat satu pesan biasa sedangkan pengunjung biasa dapat melihat sesuatu yang sama sekali berbeda.

14. Top Commenters Plugin

Ini merupakan plugin untuk mendorong pengunjung mengunjungi blog Anda kembali. Pembaca yang meninggalkan komentar yang paling banyak akan mendapatkan link yang ditampilkan di sidebar blog Anda. Dantag nofollow akan dihapus dan merekan akan sepenuhnya mendapat backlink.

15. Comment Relish

Plugin ini secara otomatis mengirimkan email ke setiap pembaca baru ke blog Anda dan merekomendasikan mereka untuk meninggalkan komentar. Ini merupakan cara untuk mendapatkan kembali pengunjung. Anda dapat menyesuaikan email dengan cara apapun yang Anda inginkan.

16. Dofollow Plugin

Membuat blog dofollow dapat membawa pengunjung. Plugin inimenghilangkan nofollow tag dari komentar.

17. Lucia Linky Love Dofollow Plugin

Plugin dofollow lain tetapi ini agak sedikit berbedadan memungkinkan Anda untuk menghapus tag nofollow tertentu setelah jumlah komentar telahditinggalkan oleh pembaca. Anda dapat mengatur ini dimana saja antara 3 dan 10 posting.

18. Google Sitemap Generator

Ini akan membuat sitemap untuk blog Anda yang akan membantu Google mencari dan indeks blog Anda.

19. Add to Any Subscribe Button Plugin

Memungkinkan pembaca Anda untuk berlangganan RSS Feed.

20. Ultimate Tag Warrior

Memungkinkan anda untuk menandai posting Anda yang diantar oleh search engine atau mesin pencari sehingga membantu untuk meningkatkan trafik.

Sumber  : http://www.aplikasipc.com/20-plugin-wordpress-untuk-meningkatkan-pengunjung-blog/

CARA MENINGKATKAN PENGUNJUNG BLOG/WEB

Bagi seorang blogger atau pebisnis online, trafik adalah hal yang sangat penting karena semua blogger atau internet marketer pasti ingin websitenya terkenal dan bisa menjadi sebuah bisnis yang menguntungkan. Sebenarnya ada banyak cara yang bisa kita lakukan untuk membantu meningkatkan jumlah pengunjung ke situs kita. Beberapa upaya meningkatkan trafik ke situs kita bisa kita lakukan secara gratis, tapi ada juga sumber trafik yang memang butuh modal. Strategi seperti apa yang paling cocok untuk blog/ website Anda?

Di artikel ini saya akan coba jelaskan beberapa cara untuk meningkatkan trafik potensial untuk website kita, baik itu secara gratis ataupun dengan cara berbayar. Walaupun ada banyak cara yang bisa kita lakukan, tapi tidak semua cara bisa cocok dengan jenis blog/ website yang kita miliki. Kita harus bijak dalam memilih sumber trafik agar hasilnya lebih maksimal.

Meningkatkan Trafik Blog/ Website Dengan Cara Gratis

Seperti yang sudah saya sebutkan sebelumnya, kita bisa mendapatkan trafik menuju situs bisnis atau blog kita secara gratis. Tapi dibutuhkan upaya yang terus menerus dan dengan cara yang benar agar trafik yang didapatkan sesuai dengan yang kita harapkan. Berikut ini adalah beberapa cara meningkatkan pengunjung traffic pengunjung blog/ website secara gratis:

1.  Melalui Blog Walking

Blog walking adalah kegiatan mengunjungi blog/ website orang lain yang masih berhubungan dengan blog kita, lalu meninggalkan komentar di blog/ website tersebut. Ada banyak blog yang menyediakan kolom untuk meninggalkan URL website bagi orang yang memberikan komentar di situs mereka, inilah yang harus kita manfaatkan dengan sebaik-baiknya.

Jangan pernah meninggalkan komentar SPAM pada blog orang lain karena hal itu hanya akan memberikan citra yang buruk pada Anda sebagai seorang blogger atau internet marketer. Biasakan untuk membaca artikel yang ditulis terlebih dahulu sebelum meninggalkan komentar agar Anda mengerti memberikan komentar yang sesuai dengan topik artikel.

Dengan berkomentar dengan baik dan meninggalkan URL blog kita di kolom yang telah disediakan, maka Anda akan mendapatkan backlink menuju situs Anda. Selain itu, kemungkinan besar pengunjung lain di blog tersebut juga akan mengunjungi situs Anda ketika mereka melihat komentar yang Anda berikan. Dari proses blog walking ini kita bisa mendapatkan cukup banyak trafik, tapi memang dibutuhkan usaha ekstra dengan memberikan komentar di blog-blog lain terlebih dahulu.

Artikel terkait: Cara membuat blog gratis

2. Melalui Situs Social Bookmarking

Situs-situs social bookmarking awalnya dibuat untuk membantu netter menyimpan alamat website yang mereka sukai, sehingga akan memudahkan mereka ketika ingin membuka website tersebut di kemudian hari. Pada perkembangannya, situs social bookmarking sering digunakan untuk optimasi SEO dan juga untuk mendapatkan trafik. Nah, yang saya tulis di sini adalah trafik langsung dari Social bookmarking-nya, bukan efeknya ke SEO sebuah situs.

Kita bisa menyimpan URL blog/ website atau URL postingan artikel blog milik kita ke situs-situs social bookmarking, dengan harapan pengguna yang lain akan tertarik dengan URL yang kita submit dan mengunjungi situs kita dengan media social bookmarking tersebut. Selain itu, situs social bookmarking juga sering mendapatkan trafik dari mesin pencari. Jadi, menurut saya kemungkinan untuk mendapatkan trafik dari situs social bookmarking cukup potensial dan harus dimanfaatkan dengan baik.

3. Melalui Situs Social Media

Banyak orang bilang, sekarang itu jamannya media sosial dan itu sangat benar. Pertumbuhan pengguna media sosial di Indonesia saja sudah mengalami peningkatan yang sangat signifikan. Ditambah lagi perkembangan smartphone di Indonesia sudah sangat pesat. Kebanyakan pengguna smartphone pasti punya akun di situs-situs media sosial, paling tidak salah satu dari situs media sosial. Nah, tentunya ini adalah potensi trafik yang cukup besar bagi kita pemilik blog/ website.

Bisnis yang populer di media sosial pasti tidak akan kesulitan untuk mendapatkan perhatian dari pengguna media sosial lainnya. Itulah sebabnya mengapa banyak bisnis mengalami peningkatan profit setelah mereka mengoptimalkan media sosial untuk bisnis mereka. Beberapa media sosial yang sering digunakan untuk mendapatkan trafik adalah Facebook, Twitter, Google plus, YouTube, LinkedIn, dan Pinterest. Sebenarnya masih ada beberapa media sosial yang bisa digunakan, tapi berdasarkan pengalaman saya, 6 situs yang saya sebutkan itu adalah media sosial yang paling populer.

4. Melalui Situs Forum

Situs forum diskusi sering digunakan para internet marketer sebagai media untuk mendapatkan trafik menuju blog/ website bisnis mereka. Ada banyak situs forum yang memperbolehkan link di dalam thread atau pada signature para member mereka. Tentunya ini harus dimanfaatkan dengan sebaik mungkin.

Satu hal yang harus kita perhatikan adalah tetap menjaga nama baik di dalam forum tersebut, bacalah rules dalam forum tersebut sebelum bertindak lebih jauh. Jangan membuat thread yang tidak berguna atau thread yang bisa membuat reputasi Anda tercoreng. Manfaatkan fasilitas link signature forum dengan sebaik-baiknya, manfaatkan fasilitas link di dalam thread forum dengan wajar. Ada beberapa forum yang tidak memperbolehkan link di dalam thread, jangan melanggar aturan tersebut.

Beberapa forum yang saya rekomendasikan untuk mendapatkan trafik dan backlinks adalah pengusaha.co, bersosial.com, forum.kompas.com, forum.detik.com, kaskus.co.id, dan lain-lain. Masih ada banyak forum yang bisa kita manfaatkan untuk mendapatkan referral trafik, tapi saya sarankan untuk fokus pada beberap forum yang paling potensial untuk bisnis Anda.

5. Guest Posting di Blog Lain

Ada banyak blog yang memberikan kesempatan pada orang lain untuk mengirimkan artikel/ konten dan memasang link di blog mereka. Tentunya artikel/ konten yang kita posting di blog tersebut harus sesuai dengan kriteria yang mereka tentukan. Kita bisa memasang link situs bisnis kita di bagian author, beberapa blog memperbolehkan penulis mereka untuk memasang link di dalam artikel. Selain memberikan efek SEO, referral trafik dari blog-blog tersebut tentu cukup banyak, apalagi bila kita menulis artikel di blog yang sudah terkenal.

Sebenarnya masih ada banyak cara gratis lainnya untuk mendapatkan pengunjung menuju situs kita. Tapi lima cara yang sudah saya sebutkan di atas sebenarnya sudah sangat baik bila kita bisa mengoptimalkannya. Saya sendiri fokus pada empat cara tersebut karena selain memberikan trafik langsung, keempat cara yang sudah saya sebutkan di atas terbukti memberikan dampak SEO yang baik pada blog saya. SEO yang baik tentunya akan memungkinkan situs kita akan mendapatkan trafik gratis dari mesin pencari, misalnya Google.

Meningkatkan Trafik Blog/ Website Dengan Cara Berbayar

Bagi Anda yang tidak ingin menunggu proses optimasi dengan cara gratis, maka cara berbayar bisa dilakukan untuk mendapatkan trafik menuju blog/ website bisnis Anda. Beriklan di beberapa media bisa memberikan dampak yang sangat baik dalam meningkatkan trafik, namun agar tidak terlalu boros, ada baiknya kita memilih media yang memang benar-benar efektif dan sesuai dengan target situs bisnis. Berikut ini adalah beberapa cara meningkatkan traffic pengunjung blog/ website dengan cara berbayar:

1. Memasang Iklan Di Situs Media Sosial

Facebook adalah media sosial yang paling efektif untuk memasang iklan karena konversi iklan di media sosial yang satu ini terbukti sangat baik. Di Facebook Ads kita bisa memilih target audiens yang paling sesuai dengan kategori yang kita butuhkan, inilah yang akan mempengaruhi efektivitas iklan yang kita pasang.

Berdasarkan pengalaman saya, memasang iklan di Facebook Ads sangat mudah dilakukan. Kita bisa mengatur berapa budget yang ingin kita keluarkan untuk sebuah klik iklan, dan kita juga bisa mengatur target audiens yang sesuai dengan bisnis kita.

Artikel terkait: Mengintegrasikan blog dengan Facebook

2. Memasang Iklan PPC

Google Adwords adalah perusahaan penyelenggara media iklan PPC yang paling terkenal saat ini. Perusahaan milik Google ini sudah memiliki jaringan pengiklan (advertiser) dan publisher dengan jumlah yang sangat banyak di seluruh dunia, termasuk di Indonesia. Keunggulan dari Google Adwords adalah iklan yang muncul di situs publisher mereka adalah iklan yang sesuai dengan artikel.

Saya pribadi belum pernah memasang iklan di Google Adwords, tapi ada banyak testimoni dari pengiklan mereka yang mengatakan puas dengan layanan Google Adwords dan memberikan dampak positive bagi bisnis mereka. Nah, bagi Anda yang ingin mendapatkan trafik potensial menuju situs bisnis Anda, tidak ada salahnya mencoba Google Adwords.

3. Memasang Iklan di Situs Iklan Baris Online

Cara lain untuk mendapatkan trafik ke blog/ website bisnis adalah dengan memanfaatkan situs iklan baris. Sebenarnya ada banyak situs iklan baris yang memberikan ruang iklanbaris secara gratis, tapi saya lebih merekomendasikan yang berbayar karena biasanya hasilnya jauh lebih baik dari yang gratisan.

Artikel terkait: Pasang iklan baris

Kesimpulan:

Kita tidak perlu melakukan semua strategi pemasaran untuk mendapatkan trafik menuju situs kita. Kita harus memahami tentang situs kita sendiri terlebih dahulu, dengan begitu kita bisa tahu strategi yang mana lebih efektif untuk meningkatkan trafik pengunjung blog/ website kita. Kadang cara gratis lebih efektif, namun pada banyak kasus, cara berbayar lebih cepat dan efektif dalam memberikan trafik yang potensial bagi blog/ website bisnis kita. Selain itu, kita juga harus memperhatikan hal-hal yang berhubungan dengan kualitas website kita, seperti kualitas konten, sistem navigasi, kecepatan loading, dan lain-lain. Semoga artikel ini membantu.

Sumber # https://www.maxmanroe.com/cara-meningkatkan-traffic-pengunjung-blog-website-dengan-cepat.html

Gund

selamat malam wordpress..

saya mau berbagi sedikit, lebih tepat dibilang curhat lah… hehe 🙂

terkadang saya merasa hidup saya kurang berungtung, bagaimana tidak… ya saya akui saya selalu merasa iri ketika temen Saya memposting hal-hal yang meraka telah capai entah apa lah,, dan saya cama bisa membaca dengan jelas,, istilah skarang kepo :):)

kenapa saya merasa demikian?

na itu alasan yang selalu menimbulkan kontra pada batin saya (lebay)… iya kontra kerena saya merasa saya tidak pernah mengalami keberhasilan yang benar-benar diakui orang lain 😦

Pertama

hari ini hari pertama aku menata kembali blog yang dulu pertama aku buat, dan yang sempat aku tinggalkan. Blog ini adalah blog pertama aku, dan ini lah kali pertama aku mengisi post-post pertama dalam blog aku yang pertama.

disini aku akan mencoba kembali melakukan posting mengenai hal-hal yang aku anggap perlu mungkin sekedar memberi tambahan informasi, atau mungkin cuma sekedar tempat ku untuk mengeluarkan apa yang aku pikirkan (semacam churhat lah)

mungkin pertama kali aku awali dengan kata-kata yang aku keluarkan sesuai apa yang aku rasakan

yang pertama aku awali dari perasaan senang ku karena hari ini aku telah lumayan bisa mengelola blog ini, ya untuk orang yang pertama melakukan hal ini seperti aku, terkesan sangat menyenangkan dan membanggakan, selayaknya orang-orang apapun yang pertama kali itu pasti mengesankan dan mungkin selalu tesimpan dalam ingatan, seperti halnya pacar pertama, ngedate  pertama, diner pertama, bahkan yang lebih mengesankan ciuman pertama, hahaha………….. itu sih sebagian besar aku rasakan, hemmmm

emmm,,, namun kali ini fokus nya bukan masalah pacar pertama lah ciuman pertama lah,,,, tetapi saya fokuskan pada kesan pertama dalam menata blog pertama saya

suku sigulai

BAB I

PENDAHULUAN

 

  • Latar Belakang

Indonesia adalah salah satu negara yang memiliki suku dan budaya yang beraneka ragam. Masing-masing budaya daerah saling memperngaruhi dan dipengaruhi oleh kebudayaan daerah lain maupun kebudayaan yang berasal dari luar Indonesia. Salah satu kebudayaan tersebut adalah kebudayaan Suku Sigulai.

Suku Sigulai termasuk salah satu suku asli di kepulauan Simalur ini, bersama-sama dengan suku Devayan, Lekon dan Haloban. Tidak adanya sejarah asal usul suku Sigulai ini secara tertulis, sehingga tidak diketahui secara pasti asal usul suku Sigulai ini. Hanya saja beberapa perkiraan para penulis di beberapa situs di web, mengatakan bahwa suku Sigulai ini dahulu berasal dari tempat yang sama dengan suku Devayan, Lekon, Haloban dan Nias serta Mentawai. Karena secara fisik suku Sigulai ini termasuk ke dalam ras mongoloid yang dahulunya bermigrasi ke wilayah ini bersama-sama suku Nias, Mentawai, Devayan, Lekon dan Haloban, dan tersebar-sebar ke beberapa wilayah di pulau dan kepulauan di sebelah barat pulau Sumatra. Salah satunya suku Sigulai ini yang menetap di daerah ini sampai sekarang.

 

 

  • Rumusan Masalah
  1. Bagaimanakah Sejarah Suku Sigulai?
  2. Bagaimanakah Letak Geografis Suku Sigulai ?
  3. Apakah Sistem Kepercayaan Suku Sigulai ?
  4. Apakah Mata Pencaharian Suku Sigulai ?
  5. Apakah Bahasa yang Digunakan Suku Sigulai?
  6. Bagaimanakah Sistem Kekerabatan Suku Sigulai?
  • Tujuan
  1. Untuk Mengetahui Sejarah Suku Sigulai.
  2. Letak Geografis Suku Sigulai.
  3. Untuk Mengetahui Sistem Kepercayaan Suku Sigulai
  4. Untuk Mengetahui Mata Pencaharian Suku Sigulai
  5. Untuk Mengetahui Bahasa yang Digunakan Suku Sigulai
  6. Untuk Mengetahui Sistem Kekerabatan Suku Sigulai.

BAB II

PEMBAHASAN

 

2.1. Sejarah Suku Sigulai

          Suku Sigulai, kadang disebut juga sebagai suku Salang, adalah suatu komunitas suku yang mendiami pulau Simalur bagian utara. Suku Sigulai ini sebagian besar bermukim di kecamatan Simalur Barat dan kecamatan Alafan. Mereka juga mendiami sebagian desa di kecamatan Salang, kecamatan Teluk Dalam dan kecamatan Simalur Tengah.

Suku Sigulai termasuk salah satu suku asli di kepulauan Simalur ini, bersama-sama dengan suku Devayan, Lekon dan Haloban. Tidak adanya sejarah asal usul suku Sigulai ini secara tertulis, sehingga tidak diketahui secara pasti asal usul suku Sigulai ini. Hanya saja beberapa perkiraan para penulis di beberapa situs di web, mengatakan bahwa suku Sigulai ini dahulu berasal dari tempat yang sama dengan suku Devayan, Lekon, Haloban dan Nias serta Mentawai. Karena secara fisik suku Sigulai ini termasuk ke dalam ras mongoloid yang dahulunya bermigrasi ke wilayah ini bersama-sama suku Nias, Mentawai, Devayan, Lekon dan Haloban, dan tersebar-sebar ke beberapa wilayah di pulau dan kepulauan di sebelah barat pulau Sumatra. Salah satunya suku Sigulai ini yang menetap di daerah ini sampai sekarang.

Masyarakat suku Sigulai mayoritas telah memeluk agama Islam yang begitu kuat mempengaruhi wilayah ini, sehingga beberapa seni-budaya suku Sigulai terasa nilai-nilai Islami nya.

Bahasa Sigulai, masih berkerabat dengan bahasa Devayan, juga dengan bahasa Lekon dan Nias. Walaupun berbeda tetapi masih terdapat kemiripan dalam perbendaharaan kata serta dialeknya. Bahasa Sigulai sendiri saat ini berada di tengah-tengah dominasi bahasa Aneuk Jamee yang menjadi bahasa pengantar di wilayah ini. Selain bahasa Aneuk Jamee, bahasa Aceh juga turut mempengaruhi kehidupan berbahasa suku-suku asli di pulau Simalur ini. Sehingga kalangan generasi muda suku Sigulai cenderung berbicara dalam bahasa Aneuk Jamee dalam kehidupan pergaulannya. Bahasa Sigulai sendiri, tinggal diucapkan di wilayah perkampungan, di rumah-rumah dan kalangan suku Sigulai saja.

Kehidupan suku Sigulai dalam kesehariannya rata-rata sebagai nelayan dan sebagian memilih sebagai petani di ladang.

 

.

2.2. Letak Geografis Suku Sigulai.

          Suku Sigulai merupakan suatu suku bangsa yang mendiami Pulau Simeulue bagian utara. Suku ini terdapat di kecamatan Simeulue Barat, Alafan dan Salang.

Pulau Simeulue atau Simalur merupakan pulau yang berada di barat Sumatera. Berada kurang lebih 150 km dari lepas pantai barat Aceh, juga merupakan pulau pemerintahan Kabupaten Simeulue di tengah Samudra Hindia. Posisi geografisnya terisolasi dari daratan utama, hiruk-pikuk konflik di Aceh daratan tidak pernah berimbas di kawasan ini, bahkan tidak ada pergerakan GAM di kawasan kepulauan ini.

Pulau ini terkenal dengan hasil cengkehnya. Penduduk kawasan ini juga berprofil seperti orang Nias, dengan kulit kuning dan sipit seperti layaknya orang Tionghoa dan mempunyai bahasa yang berbeda dengan Aceh daratan. Hampir seluruh penduduk kepulauan ini beragama Islam. Setelah masa keemasan cengkeh mulai menurun, sebagian besar masyarakat Simeulue mulai beralih ke perkebunan sawit dan tanaman horikultura sebagai mata pencarian sehari-hari. – See more at: http://get-acehcoffee.blogspot.com/2014/09/suku-sigulai.html#sthash.fVzOzwhq.dpuf

Pulau Simeulue atau Simalur merupakan pulau yang berada di barat Sumatera. Berada kurang lebih 150 km dari lepas pantai barat Aceh, juga merupakan pulau pemerintahan Kabupaten Simeulue di tengah Samudra Hindia. Posisi geografisnya terisolasi dari daratan utama, hiruk-pikuk konflik di Aceh daratan tidak pernah berimbas di kawasan ini, bahkan tidak ada pergerakan GAM di kawasan kepulauan ini.

Pulau ini terkenal dengan hasil cengkehnya. Penduduk kawasan ini juga berprofil seperti orang Nias, dengan kulit kuning dan sipit seperti layaknya orang Tionghoa dan mempunyai bahasa yang berbeda dengan Aceh daratan. Hampir seluruh penduduk kepulauan ini beragama Islam. Setelah masa keemasan cengkeh mulai menurun, sebagian besar masyarakat Simeulue mulai beralih ke perkebunan sawit dan tanaman horikultura sebagai mata pencarian sehari-hari.

 

2.3. Sistem Kepercayaan Suku Sigulai.

          Memang agama yang berkembang di suku asli Sigulai ini merupakan agama Islam. Yang patut kita contoh dari suku ini yaitu ketaatan mereka dengan berbagai aturan yang sudah ditetapkan pada ajaran Islam. Para masyarakat asli dari Suku Sigulai ini bukan hanya melaksanakan ibadah wajib seperti shalat, puasa, zakat, melainkan juga selalu menjadikan ajaran Islam sebagai pedoman dalam perjalanan hidup mereka. Berbagai cobaan yang datang dijadikan sebgai penguat dari keimanan setiap individu dari suku asli Sigulai ini.

Meskipun memang suku asli Sigulai tinggal di pedalaman, tingkat keimanannya jauh lebih baik dibandingkan dengan masyarakat yang ada di kota-kota besar. Ketika sedang bekerja, ada terdengar adzan semua aktivitas dihentikan sejenak lalu mereka melaksanakan shalat bersama-sama.

 

2.4. Mata Pencaharian Suku Sigulai.

          Untuk hal mata pencaharian, para masyarakat asli Sigulai sebagian besar berprofesi sebagai nelayan. Namun sebagian juga ada yang memilih untuk menjadi petani di sawah untuk bercocok tanam.

 

2.5. Bahasa yang Digunakan Suku Sigulai.

Bahasa Sigulai, adalah bahasa yang digunakan oleh suku Sigulai yang berada di pulau Simalur (Simeulue), propinsi Aceh.

Bersama-sama bahasa Sigulai ini juga terdapat bahasa-bahasa lain yang masih berkerabat dengan bahasa Sigulai, yaitu bahasa Devayan, bahasa Haloban, bahasa Lekon dan bahasa Nias.

2.6. Sistem Kekerabatan Suku Sigulai

          Bila dilihat dari segi tradisionalnya, laki-laki memang cenderung merupakan orang yang lebih banyak untuk melakukan segala hal yang berkaitan dengan industri perdagangan. Bila dilihat dari praktiknya, hal ini disebut juga dengan merantau atau melakukan imigrasi untuk tinggal di wilayah tersebut dengan waktu yang lumayan lama agar mendapatkan keuntungan yang lebih baik lagi dalam hal ekonomi.

Namun laki-laki yang diperbolehkan untuk keluar dari kampung aslinya dan mencari pekerjaan di daerah lainnya hanya berlaku untuk para laki-laki yang umurnya sudah dewasa. Kesuksesan akan mereka dapatkan dengan berbagai pengalaman serta reputasi yang sudah mereka lalui selama ini dalam bidang perdagangan.

Keluarnya para lelaki dari daerh tersebut untuk merantau bisa saja dengan pergi menuju desa lainnya, provinsi yang lain atau bahkan pergi ke pulau yang lainnya.

Para kaum pria yang keluar dari kampung aslinya bukan semata-mata hanya untuk mencari penghidupan yang cerah akan tetapi juga untuk menapaki proses kedewasaan yang ada pada diri mereka masing-masing. Karena bila dia hanya diam di kampung tersebut, otomatis yang memegang peranan sangat banyak yaitu pihak wanita dengan berbagai larangan yang mereka buat untuk para lelaki.

Dengan pilihan untuk merantau berarti para kaum lelaki tersebut berusaha untuk mancapai dunia dengan dasar pertimbangan dari segi rasio. Pertimbangan ini mereka aplikasikan ke dalam kehidupan sehari-hari yaitu aktivitas berdagang.

Hal ini dapat tercermin dengan jelas dari salah satu keluarga dari suku asli Serawai yang menyuruh para kaum laki-laki dewasa untuk pergi merantau meninggalkan kampung asli mereka. Para wanita tersebut berjanji akan menerima lagi para kaum pria kembali jika mereka sudah bisa menghasilkan uang yang melimpah dari hasil berdagang di daerah lainnya.

Bila laki-laki tersebut sudah kembali dan membawa uang banyak namun uang tersebut dari hari ke hari semakin menipis, laki-laki tersebut diminta untuk merantau kembali. Hal ini terjadi terus menerus. Saat laki-laki pergi merantau untuk mendapatkan uang yang melimpah dari hasil berdagang para perempuan juga mempunyai tanggung jawabnya sendiri di kampung yaitu merawat ladang dan sawahnya serta menjaga hasil dari perkebunan yang mereka miliki agar tetap bisa berjalan secara produktif

Kebiasaan atau tradisi yang ada pada suku asli Aerawai ini pada awalnya memang berjalan dengan lancar. Akan tetapi sekitar tahun 80-an banyak laki-laki yang memilih untuk melanjutkan hidupnya dengan mempunyai kelurga di kota-kota besar tersebut dan meninggalkan kampung halamannya.

 

 

 

 

 

 

 

BAB III

PENUTUP

 

3.1. Kesimpulan

Dari uraian tersebut, dapat kita simpulkan bahwa , Suku Sigulai merupakan suatu suku bangsa yang mendiami Pulau Simeulue bagian utara. Suku ini terdapat di kecamatan Simeulue Barat, Alafan dan Salang.

Untuk kepercayaan yang dianut oleh suku asli Sigulai sebagian besar memeluk agama Islam. Hal ini dikarenakan agama Islam yang banyak memengaruhi kehidupan yang ada di lingkungan masyarakat dari Suku Salang ini. Jadi tidak heran bila dalam hal budaya maupun beragam seni yang ada di suku ini mengandung banyak nilai Islami di dalamnya

Bahasa yang digunakan oleh Suku Salang ini adalah bahasa Sigulai. Untuk bahasa yang satu ini ternyata masih ada hubungan kekerabatan dengan bahasa Lekon, bahasa Nias dan juga bahasa Devayan. Memang bahasa yang ada mempunyai perbedaan masing-masing namun ada juga persamaannya baik dari segi dialek maupun perbendaharaan kata yang digunakan.

Bahasa Sigulai merupakan bahasa yang sedang didominasi dan ada di tengah-tengah bahasa dari Aneuk Jamee. Bahasa Aneuk Jamee merupakan bahasa yang digunakan untuk bahasa pengantar yang ada di daerah tersebut. Ternyata yang memberikan pengaruh dalam segi bahasa pada suku-suku asli yang berada di sekitar Pulau Aimalur ini bukan hanya bahasa Aneuk Jamee melainkan juga bahasa Aceh.
3.2. Saran

Sebagai Warga Negara Indonesia kita harus lebih cinta tanah air dan menghargai suku bangsa serta merawat kekayaan budayanya khususnya Kebudayaan Suku Tamiang Provinsi Aceh. Karena keberadaan mereka adalah awal sebuah perkembangan bagi Bangsa Indonesia.

3.3. Galery Gambar Suku Sigulai

 

 

 

suku kulawi

BAB I

PENDAHULUAN

 

 

  • Latar Belakang

Suku Kulawi (To Kulawi), adalah suatu masyarakat adat yang hidup di kabupaten Donggala provinsi Sulawesi Tengah.

Suku Kulawi dikelompokkan ke dalam grup Palu Toraja oleh Walter Kaudern. Suku Kulawi memakai bahasa Moma, dan mereka adalah penganut agama Kristen.

Dataran Lindu juga dihuni oleh suku Kulawi, meski merupakan kelompok minoritas dibanding suku lainnya. Dalam jumlah cukup menonjol, Mereka Kulawi tinggal di dusun Kalora desa Tomado. Jumlah mereka sebanyak 19 keluarga. Di wilayah ini, secara spontan mereka mulai pindah ke Lindu sejak 1980-an. Juga terdapat 6 keluarga suku Kulawi mendiami dusun Kangkuro desa Tomado.

Suku Kulawi pemukimannya tersebar di sekitar danau Lindu, dataran Kulawi, dataran Gimpu dan sekitar daerah aliran sungai Koro (sungai Lariang untuk sebutan di Sulawesi Barat dan Tawaelia di daerah Lore).

Wilayah yang dihuni oleh etnis Kulawi tersebut, telah dihuni oleh nenek moyang mereka sejak masa prasejarah. Hal ini terbukti dari beberapa temuan arkeologis yang masih dapat diamati hingga saat ini. Temuan-temuan megalitik ini, ada yang sudah berumur 3000 tahun.

Pada masa lalu, beberapa kelompok kecil suku Kulawi membentuk sebuah kerajaan yang dinamakan Kerajaan Kulawi. Setelah sekian lama berdiri, maka Kerajaan Kulawi menjadi kerajaan besar di wilayah Sulawesi Tengah.

 

 

  • Rumusan Masalah
  1. Bagaimana Sejarah Suku Kulawi ?
  2. Bagaimanakah Letak Geografis Suku Kulawi ?
  3. Apakah Bahasa yang Digunakan Suku Kulawi ?
  4. Apakah Mata Pencaharian Suku Kulawi ?
  5. Bagaimanakah Sistem Kekeluargaan, Kekerabatan dan Kemasyarakatan Suku Kulawi ?
  6. Apakah Agama dan Kepercayaan Suku Kulawi ?
  7. Apakah Pakaian Adat Suku Kulawi ?
  8. Apakah Rumah Adat Suku Kulawi ?
  9. Apakah Tarian Suku Kulawi ?
  • Tujuan
  1. Untuk Mengetahui Sejarah Suku Kulawi
  2. Untuk Mengetahui Letak Geografis Suku Kulawi
  3. Untuk Mengetahui Bahasa yang Digunakan Suku Kulawi
  4. Untuk Mengetahui Mata Pencaharian Suku Kulawi
  5. Untuk Mengetahui Sistem Kekeluargaan, Kekerabatan dan Kemasyarakatan Suku Kulawi
  6. Untuk Mengetahui Agama dan Kepercayaan Suku Kulawi
  7. Untuk Mengetahui Pakaian Adat Suku Kulawi
  8. Untuk Mengetahui Rumah Adat Suku Kulawi
  9. Untuk Mengetahui Tarian Suku Kulawi

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB II

PEMBAHASAN

 

2.1. Sejarah Suku Kulawi
Suku Dunia ~ Para ahli etnografi lama menggolongkan orang/suku Kulawi sebagai salah satu bagian dari kelompok orang/suku Toraja Barat. Suku bangsa itu sendiri lebih suka menyebut dirinya orang Kulawi atau Tokulawi. Mereka mendiami daerah bagian selatan Danau Lindu, yang termasuk dalam wilayah Kulawi di Donggala Provinsi Sulawesi Tengah. Jumlah mereka saat ini sekitar 50.000 jiwa. Menurut legenda, mereka berasal dari daerah Bora dan Sigi di lembah Palu. Diceritakan bahwa pada zaman dahulu kala ada seorang tokoh dari Bora yang berburu bersama dengan pengikutnya sampai ke hutan-hutan di Gunung Momi. Setelah penat berburu maka para pemburu itu beristirahat di bawah sebuah pohon kayu yang disebut Kulawi. Melihat kesuburan daerah itu maka tokoh dari Bora itu memutuskan untuk menetap di sana. Sejak itu daerah baru tersebut mereka beri nama Kulawi.

2.2. Letak Geografis Suku Kulawi

2.3. Bahasa Suku Kulawi

Orang Kulawi memakai bahasa Kulawi dengan beberapa dialek, seperti dialek Kuwali-Lindu yang dipengaruhi oleh bahasa Kaili. Kelompok ini mendiami daerah sekitar Danau Lindu. Kemudian kelompok pemakai dialek Toboko-Umpa yang berdiam di sekitar Sungai Lariang.

2.4. Mata Pencaharian Suku Kulawi

Orang Kulawi umumnya hidup dari pertanian di sawah dan ladang. Tanaman pokok mereka adalah padi, selain juga menanam jagung dan palawija lainnya. Tanaman keras untuk komoditas ekspor seperti cengkeh mulai ditanam tahun 1970. Sebelumnya mereka sudah menanam kopi dan kelapa sebagai barang ekspor. Usaha mereka yang lain adalah beternak kerbau, babi, dan usaha tambak ikan. Ada juga yang mengumpulkan hasil hutan serta berburu rusa dan babi atau menangkap ikan di sungai.

2.5. Kekeluargaan, Kekerabatan dan Kemasyarakatan Suku Kulawi

Masyarakat ini memiliki sistem garis keturunan yang bilateral sifatnya. Pasangan-pasangan yang baru kawin umumnya tinggal di lingkungan rumah pihak wanita (uksorilokal atau matrilokal), dan setelah anak pertama lahir biasanya mereka pindah ke lingkungan pihak laki-laki, atau membuat rumah baru sendiri. Pada zaman dulu masyarakat Kulawi berbentuk sebuah kerajaan kecil, rajanya disebut Magau atau Sangkala. Ia dibantu oleh sebuah dewan pemerintahan yang anggota-anggotanya berasal dari lapisan tinggi menurut adat, yaitu kaum to tua ngata. Pada masa sekarang pengaruh pelapisan lama itu sudah semakin tipis. Golongan tertinggi zaman dulu adalah maradika yang terdiri dari raja-raja dan keluarganya, lalu golongan to tua ngata sebagai bangsawan pembantu raja. Orang kebanyakan disebut to dea, di bawah sekali adalah golongan budak dan hamba sahaya yang disebut batua.

2.6. Agama Dan Kepercayaan Suku Kulawi

Kepercayaan religi lama suku Kulawi meyakini adanya dewa tertinggi yang disebut Karampoa I Langi dan Karampoa I Tana (Pencipta langit dan Tanah). Selain itu ada pula sejumlah dewa yang dianggap menguasai bagian-bagian tertentu dari alam dan kehidupan, seperti dewa perang yang disebut Taliwarani. Dewa ini dipuja oleh para prajurit dan tadulako (panglima). Alam sekitar diyakini memiliki kekuatan-kekuatan yang terdapat dalam benda-benda dan makhluk hidup tertentu. Pada masa sekarang orang/suku Kulawi umumnya telah memeluk agama Kristen yang masuk sejak tahun 1913.

2.7. Pakaian Adat Suku Kulawi

Pakaian asli orang Kulawi terbuat dari serat kulit pohon yang disebut vuya. Kaum laki-laki memakainya seperti cawat, kaum wanita memakainya seperti rok. Pakaian tradisional yang dipakai orang Kulawi dalam kesempatan resmi cukup khas. Kaum wanita memaki rok bersusun tiga yang diberi hiasan guntingan kain beraneka-warna bentuk bunga. Baju atasnya dihiasai manik-manik berwarna. Memakai kalung emas bercorak tradisional yang disebut kamagi atau enu. Kaum pria memakai kemeja longgar dengan model sederhana, selempang, celana pendek yang menyempit di bagian bawah, memakai kain penutup kepala, ikat pinggang dengan kelewang tergantung di sebelah kiri. Bentuk rok wanita dan celana pria Kulawi tersebut nampaknya berasal dari pengaruh pakaian orang Portugis yang pernah terdampar ke daerah.

Benda yang berupa pemukul kulit kayu ditemukan pada penggalian di padang Tampeura Desa Langkeka Kecamatan Lore Selatan Kabupaten Poso, menunjukan bukti bahwa sejak zaman Prasejarah teknologi tradisional kain dari kulit kayu telah dimulai di daerah Sulawesi Tengah.

Sekarang, teknologi tradisional kain dari kulit kayu masih berkembang di masyarakat Sulawesi Tengah terutama pada etnik Kaili dan Kulawi. Teknologi tradisional ini digunakan untuk keperluan upacara adat yang berkaitan dengan religi dan kepercayaan.

Keragaman etnik di Sulawesi Tengah dapat dilihat dari pakaian, makanan khas, upacara sejak lahir hingga meninggal dunia, perumahan dan sebahagian dibedakan pula oleh bahasa (logat). Dari perbedaan itu, maka di Sulawesi Tengah terdapat 12 (dua belas) kelompok etnik (suku bangsa) yang tersebar di 9 (sembilan) Kab./Kota, yaitu; etnik Kaili, Tomini, Kulawi, Lore, Pamona, Mori, Bungku, Banggai, Saluan, Balantak, Tolitoli dan Buol. (Sumber : Masyhuda, H.M. Palu Meniti Zaman. Hal. 13-14. Palu : YKST. 2001)

Untuk kepentingan ini, dipilih etnik Kulawi sebagai pelaku teknologi tradisional kain dari kulit kayu yang dijadikan sebagai Pakaian Adat, berkaitan dengan religi dan kepercayaan.

Menurut Paulus Tampinongo (69 thn), mantan Penilik Kebudayaan Kandepdikbud Kecamatan Kulawi Propinsi Sulawesi Tengah, Senin (17/11/2003) menjelaskan, “Kalau kita melihat sejarah pertumbuhan dan perkembangan masyarakat Kulawi, pemakaian kain dari kulit kayu telah ada sejak manusia berada di Kulawi ini pada zaman Prasejarah”.

Lanjutnya, “ada pendapat beberapa ahli, misalnya Dr. Kruyt mengatakan bahwa suku Kulawi dikelompokkan dalam suku Toraja Barat. Sementara pendapat Drs. Indra B. Wumbu dan alm. Masyhuddin H. Masyhuda, mengelompokkan suku Kulawi ini adalah suku Kaili. Pendapat terakhir bahwa suku Kulawi adalah asimilasi perkawinan dari perpindahan penduduk secara besar-besaran di Gunung Momi. Ada yang lari ke arah barat melalui Hindia belakang, tembus ke Sumatra, Jawa kemudian Makassar. Ada yang lari ke Timur mulai dari Jepang, Filiphina, Sanger Talaud, Manado, Gorontalo kemudian Palu dan Poso. Jadi yang datang dari Utara dan datang dari Selatan melalui sungai Sa’dang terjadilah asimilasi perkawinan antara dua suku tersebut. Dari hasil perkawinan ini, itulah yang disebut suku Kulawi”.

Kesimpulannya adalah, “sejak zaman perpindahan secara besar-besar atau sebelum mereka datang, penduduk asli Kulawi telah memproses kulit kayu untuk dijadikan bahan pakaian yang disebut orang Kulawi pada umumnya, Nunu”.

Pada perkembangan selanjutnya, “untuk membedakan strata sosial masyarakat Kulawi dapat dilihat dari pemakaian busana bawahan wanita (rok). Kalau dalam pemakaian sehari-hari busana tersebut bersusun dua, sementara dalam pemakaian upacara adat ia dibuat bersusun tiga. Dari sini dapat dilihat strata sosial di masyarakat Kulawi”, ungkap sumber dikediamannya.¯

 

 

 

2.8. Rumah adat suku kulawi

Souraja

Souraja merupakan rumah tradisional tempat tinggal para bangsawan, yang berdiam di pantai atau di kota. Kata Souraja dapat diartikan rumah besar, merupakan rumah kediaman tidak resmi dari manggan atau raja beserta keluarga-keluarganya. Rumah orang biasa atau rakyat kebanyakan meskipun bentuk dan ukurannya sama dengan souraja.

2.9. Tarian Suku Kulawi

Langkah kaki petani yang sedang berburu itu terhenti begitu saja, ketika ia dikejutkan oleh kegaduhan yang terjadi di tengah rimba belantara yang biasanya diam. Meski sedikit takut, rasa penasarannya tak mampu dihentikannya. Maka sambil mengendap-ngendap, didekatinya sumber keriuhan itu. Dari balik semak-semak, pandangannya tertuju pada sekawanan rusa yang sedang bertingkah.

Beberapa rusa melenguh keras-keras bersahut-sahutan. Yang lainnya berjingkrak-jingkrak, menghentak-hentakan kakinya ke tanah. Sekilas gerombolan rusa itu seperti sedang menembangkan nyanyian alam nan melodius sambil bergerak lincah nan ritmis. Sejak menonton pentas tarian itu, ketakutan paman petani pelan-pelan mulai mereda. Diam-diam ia malah sangat menikmatinya.

Sesudahnya ia bahkan mengadopsinya menjadi sebuah permainan khas masyarakat suku Kulawi di Sulawesi Tengah. Tak diketahui pasti siapa gerangan petani itu. Tetapi, versi cerita rakyat setempat menyebutkan, memang begitulah sebermula kisah tari raego yang dikenal sampai sekarang. Tarian tanpa musik pengiring ini dimainkan oleh berpasang-pasang pria-wanita yang membentuk formasi lingkaran.

Tarian akan dimulai setelah totua ngata mencabut guma dari pinggangnya. Sambil merapalkan doa, tetua adat lalu menempelkan parang itu ke atas kepala salah satu penari. Tangan-tangan para penari, selanjutnya saling bertaut sedemikian rupa. Seterusnya, perlahan-lahan kaki-kaki mereka mulai bergerak: maju dan mundur. Gerakan itu makin bertenaga seiring para penari itu melagukan syair-syair pujian sambung-menyambung.

Pada bagian tertentu, sementara penari wanita menekuk lutunya, para penari pria begitu semangatnya menghentak-hentakkan kaki mereka ke bumi. Selain untuk membangunkan benih-benih tanaman, gerakan ini adalah simbol permohonan kepada tupu tana  kiranya melimpahkan keberkahan berupa kesuburan dan hasil tanam yang melimpah-ruah. Tari raego memang menjadi bagian penting dalam upacara adat menjelang dan sesudah musim panen (vunja ada mpae).

Di luar itu, raego juga kerap dimainkan saat berlangsungnya seremoni pernikahan (halia todea), upacara kematian (powutu), ritual tolak bala (potapahi tana), juga pesta peresmian rumah adat (pompede lobo). Tarian yang sudah berkembang jauh sebelum agama Islam dan Kristen mulai masuk dan menyebar di Kulawi ini tampaknya tergolong sakral. Tak heran bila raego hanya dimainkan pada acara-acara tertentu saja.

BAB III

PENUTUP

3.1. Kesimpulan

          Dari Pembahasan di atas, dapat di simpulkan bahwa, Suku Kulawi (To Kulawi), adalah suatu masyarakat adat yang hidup di kabupaten Donggala provinsi Sulawesi Tengah.

Suku Kulawi dikelompokkan ke dalam grup Palu Toraja oleh Walter Kaudern. Suku Kulawi memakai bahasa Moma, dan mereka adalah penganut agama Kristen.

Orang Kulawi memakai bahasa Kulawi dengan beberapa dialek, seperti dialek Kuwali-Lindu yang dipengaruhi oleh bahasa Kaili. Kelompok ini mendiami daerah sekitar Danau Lindu. Kemudian kelompok pemakai dialek Toboko-Umpa yang berdiam di sekitar Sungai Lariang.

Orang Kulawi umumnya hidup dari pertanian di sawah dan ladang. Masyarakat ini memiliki sistem garis keturunan yang bilateral sifatnya. Pasangan-pasangan yang baru kawin umumnya tinggal di lingkungan rumah pihak wanita (uksorilokal atau matrilokal), dan setelah anak pertama lahir biasanya mereka pindah ke lingkungan pihak laki-laki, atau membuat rumah baru sendiri.

Kepercayaan religi lama suku Kulawi meyakini adanya dewa tertinggi yang disebut Karampoa I Langi dan Karampoa I Tana (Pencipta langit dan Tanah). Selain itu ada pula sejumlah dewa yang dianggap menguasai bagian-bagian tertentu dari alam dan kehidupan, seperti dewa perang yang disebut Taliwarani. Dewa ini dipuja oleh para prajurit dan tadulako (panglima). Alam sekitar diyakini memiliki kekuatan-kekuatan yang terdapat dalam benda-benda dan makhluk hidup tertentu. Pada masa sekarang orang/suku Kulawi umumnya telah memeluk agama Kristen yang masuk sejak tahun 1913.

Pakaian asli orang Kulawi terbuat dari serat kulit pohon yang disebut vuya. Kaum laki-laki memakainya seperti cawat, kaum wanita memakainya seperti rok. Pakaian tradisional yang dipakai orang Kulawi dalam kesempatan resmi cukup khas. Kaum wanita memaki rok bersusun tiga yang diberi hiasan guntingan kain beraneka-warna bentuk bunga. Baju atasnya dihiasai manik-manik berwarna. Memakai kalung emas bercorak tradisional yang disebut kamagi atau enu. Kaum pria memakai kemeja longgar dengan model sederhana, selempang, celana pendek yang menyempit di bagian bawah, memakai kain penutup kepala, ikat pinggang dengan kelewang tergantung di sebelah kiri. Bentuk rok wanita dan celana pria Kulawi tersebut nampaknya berasal dari pengaruh pakaian orang Portugis yang pernah terdampar ke daerah.

 

3.2. Saran

Sebagai Warga Negara Indonesia kita harus lebih cinta tanah air dan menghargai suku bangsa serta merawat kekayaan budayanya khususnya Kebudayaan Suku Kulawi Karena keberadaan mereka adalah awal sebuah perkembangan bagi Bangsa Indonesia.

suku batak karo

BAB I

PENDAHULUAN

 

1.1. Latar Belakang

Indonesia adalah negara dengan banyak pulau-pulau yang saling terhubung satu sama lain membentuk satu kesatuan yang disebut kepulauan. Maka indonesia dikenal sebagai negara kepulauan yang negaranya terbentuk dari barisan-barisan pulau. Dengan banyaknya pulau di Indonesia tentu saja juga banyak suku masyarakatnya, selain negara kepulauan Indonesia juga terkenal sebagai negara kaya budaya. Karena setiap suku disuatu daerah atau pulau memiliki kebudayaan yang bergam-ragam.

Salah satu dari sekian banyak pulau yang ada di Indonesia pulau Sumatra adakah salah satunya yang memiliki banyak suku-suku dan kekayaan budaya melimpah. suku yang ada di pulau sumatra antaranya; Asahan, Suku Dairi, Suku Batak, Suku Melayu, Suku Nias, Akit, Hutan, Kuala, Kubu, Laut, Lingga, Riau, Sakai, Talang Mamak, Mentawai, Minangkabau Riau dll.

Dari banyaknya suku di Indonesia. Suku Batak adalah salah satu yang banyak mendiami daerah Sumatera khususnya Sumatera Utara. Batak merupakan salah satu suku bangsa di Indonesia. Nama ini merupakan sebuah tema kolektif untuk mengidentifikasikan beberapa suku bangsa yang bermukim dan berasal dari Tapanuli dan Sumatera Timur, di Sumatera Utara. Suku bangsa yang dikategorikan sebagai Batak adalah: Batak Toba, Batak Karo, Batak Pakpak, Batak Simalungun, Batak Angkola, dan Batak Mandailin. Dengan  banyaknya ragam suku Batak mari kita perdalam tentang salah satu suku batak yang cukup besar dan berpengaruh di sumatra Utara yaitu suku Batak Karo.

Batak Karo adalah salah Suku Bangsa yang mendiami Dataran Tinggi Karo, Sumatera Utara, Indonesia. Suku ini merupakan salah satu suku terbesar dalam Sumatera Utara. Nama suku ini dijadikan salah satu nama Kabupaten di salah satu wilayah yang mereka diami (dataran tinggi Karo) yaitu Tanah Karo.

 

1.2. Rumusan Masalah

 

  1. Bagaiamana Sejarah Perkembangan Suku Batak Karo ?
  2. Bagaimana Batas dan Lokasi Geografis Suku karo ?
  3. Apakah Mata Pencaharian Suku Batak Karo ?
  4. Apakah Bahasa dan Aksara Suku Batak karo ?
  5. Bagaimanakah Kebudayaan Suku Batak Karo ?
  6. Bagaimanakah Sistem Religi Suku Batak Karo ?

1.3. Tujuan

Adapun tujuan dari makalah ini yaitu :

  1. Agar pembaca dapat mengetahui kebudayaan masyarakat Batak, khususnya Batak  Batak Karo.
  2. Agar pembaca dapat memahami salah satu bentuk masalah sosial yang ada dalam masyarakat  Batak Karo.
  3. Agar pembaca dapat menelaah sistem interaksi dalam kehidupan keseharian masyarakat  Batak Karo.
  4. Agar pembaca dapat mengetahui akan stratifikasi yang ada dalam kehidupan masyarakat Batak Karo.
  5. Agar pembaca mengetahui bagaimana kehidupan beragama masyarakat Batak Karo

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB II

PEMBAHASAN

 

 

2.1. Sejarah Prerkembangan Batak Karo

Karo adalah salah Suku Bangsa yang mendiami Dataran Tinggi Karo, Sumatera Utara, Indonesia. Suku ini merupakan salah satu suku terbesar dalam Sumatera Utara. Nama suku ini dijadikan salah satu nama Kabupaten di salah satu wilayah yang mereka diami (dataran tinggi Karo) yaitu Tanah Karo. Menurut para ahli Darwan Prinst, SH :2004. Batak Karo merupakan sebuah Kerajaan yang mendiami Sumatera bernama  Haru- Karo. Kerajaan Haru-Karo (Kerajaan Aru) mulai menjadi kerajaan besar di Sumatera. Namun demikian, Brahma Putra, dalam bukunya “Karo dari Zaman ke Zaman” mengatakan bahwa pada abad 1 Masehi sudah ada kerajaan di Sumatera Utara yang rajanya bernama “Pa Lagan”.

Kerajaan Haru-Karo diketahui tumbuh dan berkembang bersamaan waktunya dengan kerajaan Majapahit, Sriwijaya, Johor, Malaka dan Aceh. Terbukti karena kerajaan Haru pernah berperang dengan kerajaan-kerajaan tersebut. Kerajaan Haru pada masa keemasannya, pengaruhnya tersebar mulai dari Aceh Besar hingga ke sungai Siak di Riau.

Sehingga terdapat banyak  suku Karo di Aceh Besar yang dalam bahasa Aceh disebut Karee. Keberadaan suku Haru-Karo di Aceh ini diakui oleh H. Muhammad Said dalam bukunya “Aceh Sepanjang Abad”, (1981). Ia menekankan bahwa penduduk asli Aceh Besar adalah keturunan mirip Batak. Sementara itu, H. M. Zainuddin dalam bukunya “Tarich Atjeh dan Nusantara” (1961) mengatakan bahwa di lembah Aceh Besar disamping terdapat kerajaan Islam terdapat pula kerajaan Karo.

2.2. Lokasi dan batas geografis

Dengan adanya Kerajaan Haru-Karo banyak suku Batak Karo yang populasi masyarakat atau keturunan kerajaan Karo yang ada di Sumatera khususnya Sumatera Utara. Namun walaupun begitu tidak hanya suku karo saja yang mendiami daerah di Sumatera masih banyak suku-suku yang lainnya. Namun ada beberapa wilayah yang sebagian besar masyarakatnya dalah masyrakat  Suku Batak Karo yang sudah mengalami perkembangan Kebudayaan maupun mengalami pencampuran kebudayaan dengan kebudayaan luar sehingga mereka tidak primitif lagi dan juga merupakan kota atau kabupaten maju dan berkembang di Sumatera  antaranya, Kabupaten Tanah Karo, Kota Medan, Kota Binjai, Kabupaten Daeri, Aceh Tenggara.

Batak Karo merupakan subsuku bangsa Batak yang mendiami daerah antara Gunung Sinabungdan Gunung Sibayak di propinsi SumatraUtara, terutama di dataran tinggi Karo, Langkat Hulu, Deli Hulu,Serdang Hulu dan sebagian Dairi. Orang Karo bertetangga denganempat suku bangsa lain, yaitu Melayu Sumatra Timur di sebelah utara,Alas di sebelah barat, Simalungun di sebelah timur dan Pakpak disebelah selatan. Masyarakat Batak Karo sendiri bermukim dikabupaten Karo yang beribukota Kabanjahe, di mana kabupaten inimemiliki luas wilayah 2.127,25 km2atau 212.725 Ha atau 2,97 persendari luas Propinsi Sumatera Utara, dan secara geografis terletakdiantara 2050’-3019’ Lintang Utara dan 97055’-98038’ Bujur Timur.Kabupaten Karo berbatasan dengan:

Sebelah Utara berbatasan dengan Kabupaten Langkat dan DeliSerdang

Sebelah Selatan berbatasan dengan Kabupaten Dairi dan TobaSamosir

Sebelah Timur berbatasan dengan Kabupaten Deli Serdang danKabupaten Simalungun

Sebelah Barat berbatasan dengan Kabupaten Aceh Tenggara(Propinsi NAD)Wilayah Tanah Karo tersusun atas dua wilayah utama sebagai berikut:

Dataran tinggi Tanah Karo, yang mencakup seluruh wilayah Kabupaen Karo dan pusat administratifnya di kota Kabanjahe dan brastagi. Wilayah dataran tinggi Tanah Karo ini menjorok ke selatanhingga masuk ke wilayah Kabupaten Dairi (khususnya Kecamatan Taneh Pinem dan Tiga Lingga), serta ke arah timurmasuk ke bagian wilayah Kecamatan Si Lima Kuta yang terletakdi Kabupaten Simalungun. Masyarakat Karo menyebut wilayah pemukiman dataran tinggi ini dengan nama Karo Gugung. Brastagi merupakan salah satu kota turis di Sumatera Utara yang sangat terkenal dengan produk pertaniannya yang unggul. Salah satunya adalah buah jeruk dan produk minuman yang terkenal yaitu sebagai penghasil Markisa Jus yang terkenal hingga seluruh nusantara. Mayoritas suku Karo bermukim di daerah pegunungan ini, tepatnya di daerah Gunung Sinabung dan Gunung Sibayak yang sering disebut sebagai atau “Taneh Karo Simalem”. Banyak keunikan-keunikan terdapat pada masyarakat Karo, baik dari geografis, alam, maupun bentuk masakan. Masakan Karo, salah satu yang unik adalah disebut terites. Terites ini disajikan pada saat pesta budaya, seperti pesta pernikahan, pesta memasuki rumah baru, dan pesta tahunan yang dinamakan -kerja tahun-. Trites ini bahannya diambil dari isilambung sapi/kerbau, yang belum dikeluarkan sebagai kotoran.Bahan inilah yang diolah sedemikian rupa dicampur dengan bahan rempah-rempah sehingga aroma tajam pada isi lambung berkurang dan dapat dinikmati. Masakan ini merupakan makanan favorit yang suguhan pertama diberikan kepada yang dihormati.

Di Medan Batak Karo merupakan suku yang dianggap paling besar dan banyak mendiami daerah ini, ini bisa terjadi karena pada awal Kota medan merupan salah satu dari wilayah  Kekuasaan Kerajaan Haru-Karo. Pendiri kota Medan adalah seorang putra Karo yaitu Guru Patimpus Sembiring Pelawi. Kota Binjai merupakan daerah yang memiliki interaksi paling kuat dengan Kota Medan disebabkan oleh jaraknya yang relatif sangat dekat dari Kota Medan sebagai ibukota Provinsi Sumatera Utara. Sehingga Kota Medan dan Bajai banyak dihuni atau ditempati oleh suku Batak Karo.

Wilayah Kabupaten Dairi pada umumnya sangat subur dengan kemakmuran masyarakatnya melalui perkebunan kopinya yang sangat berkualitas. Sebagian Kabupaten Dairi yang merupakan bagian Taneh Karo seperti;  Kecamatan Taneh Pinem, Kecamatan Tiga Lingga, Kecamatan Gunung Sitember. Selain Kabupaten Dairi, Kabupaten Aceh Tenggara juga mempunyai beberapa wilayah yang banyak dihuni oleh Batak Karo antaranya; Kecamatan Lau Sigala-gala (Desa Lau Deski, Lau Perbunga, Lau Kinga), Kecamatan Simpang Simadam.

Dataran rendah Tanah Karo yang mencakup wilayah-wilayah kecamatan dari Kabupaten Langkat dan Kabupaten Deli Serdangyang terletak pada bagian ujung selatan secara geografis( namun tertinggi secara topografis). Wilayah ini dimulai dariplato Tanah Karo yang membentang ke bawah hingga mencapaisekitar kampung-kampung Bahorok, Namo Ukur, Pancur Batu,dan Namo Rambe yang ada di sebelah utara, serta BangunPurba, Tiga Juhar, dan Gunung Meriah di sisi timur. MasyarakatKaro menyebut daerah ini dengan nama Karo Jahe (Karo Hilir).

 

2.3. Mata pencaharian Suku Batak Karo

Pada umumnya masyarakat batak bercocok tanam padi disawah dan ladang. Lahan didapat dari pembagian yang didasarkanmarga. Setiap kelurga mandapat tanah tadi tetapi tidak bolehmenjualnya. Selain tanah ulayat adapun tanah yang dimilikiperseorangan. Peternakan juga salah satu mata pencaharian sukubatak antara lain perternakan kerbau, sapi, babi, kambing, ayam, danbebek. Penangkapan ikan dilakukan sebagian penduduk disekitardanau Toba. .Sektor kerajinan juga berkembang. Misalnya tenun, anyaman rotan,ukiran kayu, temmbikar, yang ada kaitanya dengan pariwisata.

Namun di daerah karo tepatnya medan (dataran tinggi Karo) memiliki hasil bumi yang dikelolah dan dieksport keseluruh indonesia sampai keseluruh dunia yaitu sirup markisa. Di indonesia sendiri sirup markisa asli tanah karo tidak dijual disembarang tempat dna di daerah bali sendiri hanya ada 1 pemasok sirup markisa yaitu salah satu toko di pasar Badung dilantai satu. Karena sirup markisa buatan tanah karo sangat diminati oleh banyak kalangan maka sirup markisa salah satu mata pencaharian utama masyarakat suku karo.

 

2.4. Bahasa dan Aksara Batak Karo

Bahasa Karo adalah bahasa yang digunakan oleh suku Karo yang mendiami Dataran Tinggi Karo (Kabupaten Karo), Langkat, Deli Serdang, Dairi, Medan, hingga ke Aceh Tenggara di Indonesia.

Bahasa Karo adalah bahasa sehari-hari yang digunakan masyarakatKaro di mana merupakan bentuk bahasa Austronesia Barat yang digunakan di daerah Pulau Sumatera sebelah utara pada wilayah Kepulauan Indonesia. Ruang lingkup penggunaan bahasa itu sendiritidak mengenal ruang dan waktu. Dimanapun dan pada saat kapanpun jika ada sesama Karo bertemu ataupun bukan orang Karo tapi mengertibahasa Karo berhak untuk berdialog dengan bahasa Karo.

Penyebaran bahasa – AustronesiaSalah satu rumpun bahasa utama di dunia; meski hubungan denganrumpun-rumpun lain sudah diajukan, namun belum ada yangditerima secara luas. Distribusi geografis:Asia Tenggara, Oseania, Madagaskar, Taiwan, Suriname

Bahasa Karo secara historis ditulis menggunakan aksara Karo atau sering juga disebut Surat Aru/Haru yang merupakan turunan dari aksara Brahmi dari India kuno. namun kini hanya sejumlah kecil orang Karo dapat menulis atau memahami aksara Karo, dan sebaliknya aksara Latin yang digunakan . Jumlah penutur bahasa karo sekitar 600.000 orang pada tahun 1991

Ditinjau dari fungsi ataupun tempat pemakaiannya, cakap Karo dibagi dalam tiga bagian yang didalamnya meliputi: dialek, intonasi, arti kata, serta pemilihan katanya. Adapun ketiga pengkatagorian itu meliputi:

  1. Cakap bas peradaten(bahasa dalam peradatan),
  2. Cakap(bahasa) sirulo, cakap jambur(sehari-hari)
  3. Cakap bas kiniteken(keagamaan/spiritual).

Jika ditinjau dari dialek-nya, maka cakap Karo juga dibagi atas tujuh(7) dialek yang juga didasarkan pada tujuh pembagian wilayah adat Karo. Jika kita memaknai kata tujuh pembagian wilayah adat Karo, maka tentunya dapat ditarik kesimpulan kalau yang berbeda disini bukan hanya dialek saja, tetapi juga meliputi arti dari beberapa kata, juga hingga ke masalah peradatannya. Adapun ketujuh pembagian wilayah adat yang juga mempengaruhi dalam perbedaan dialek cakap Karo, yakni:

  1. Gugung/teruh deleng: Kuta Buluh, Tiga Nderket
  2. Karo Timur: Cingkes, Gunung Meriah, Bangun Purba, hingga ke Simalungun, dll;
  3. Karo Jahé/Karo Dusun(Deli-Serdang): Lau Cin/Namo Gajah, Delitua, Sibolangit, Pancur Batu, Senembah-Patumbak, dll;
  4. Karo Langkat/Karo Bingé: Nambiki, Langkat, Serbanaman Sunggal, Tanjung Manggusta, dll;
  5. Singalur Lau: Tiga Binanga, Juhar, dll;
  6. Karo Baluren/Pamah Sigedang(Kab. Dairi);
  7. Karo Urung Julu.

Namun, para ahli bahasa Karo membedakan dialek Karo itu dalam tiga garis besar perbedaan dialek Karo, yakni:

  1. Dialek Gugung
  2. Dialek Kabanjahe, dan
  3. Dialek Karo Jahe.

Aksara Karo ini adalah aksara kuno yang dipergunakan oleh masyarakat Karo, akan tetapi pada saat ini penggunaannya sangat terbatas sekali bahkan hampir tidak pernah digunakan lagi.guna melengkapi cara penulisan perlu dilengkapi dengan anak huruf seperti o= ketolongen, x= sikurun, ketelengen dan pemantek. contoh aksara Karo :

Marga yang di gunakan Suku Batak Karo

Sebagai mana suku bangsa yang ada di Sumatera Utara suku Karo memiliki sistem kekerabatan yang bersifat patrilinial dimana seorang anak laki-laki akan mewariskan marga (fams) kepada anak-anaknya. Suku Karo memiliki lima rumpun marga atau disebut marga silima. Dari lima marga ini memiliki submarga;

  •      Karo-karo : Barus, Bukit, Gurusinga, Kaban, Kacaribu dll (Jumlah = 18)
  •     Tarigan : Bondong, Ganagana, Gerneng, Purba, Sibero dll (Jumlah = 13)
  •     Ginting: Munthe, Saragih, Suka, Ajartambun, Jadibata dll (Jumlah = 16)
  •     Sembiring: Sembiring si banci man biang (sembiring yang boleh makan anjing): Keloko, Sinulaki, Kembaren, Sinupayung (Jumlah = 4); Sembiring simantangken biang (sembiring yang tidak boleh makan Anjing): Brahmana, Depari, Meliala, Pelawi dll (Jumlah = 15)
  •     Perangin-angin: Bangun, Kacinambun, Perbesi,Sebayang dll (Jumlah = 18).

Total semua submerga adalah = 84

 

 

 

 



2.5. Kebudayaan Suku Batak Karo


  1. Pakaian Adat

 

Berikut ini adalah jenis-jenis pakaian/ uis  adat Batak Karo sekaligus fungsinya dalam melanjalankan Upacara Adat Batak Karo sebagai berikut :

  1. UIS NIPES : Untuk tudung, “maneh-maneh” (kado untuk perempuan), untuk mengganti pakaian orang tua (pihak perempuan) dan sebagai alas “pinggan pasu” (piring) pada saat memberikan mas kawin dalam upacara adat.
  2. UIS JULU : Untuk sarung, “maneh-maneh”, untuk mengganti pakaian orang tua (untuk laki-laki) dan selimut.
  3. UIS GATIP GEWANG : Untuk menggendong bayi perempuan dan “abit” (sarung) laki-laki
  4. UIS GATIP JONGKIT : Untuk “gonje” (sarung) upacara adat bagi laki-laki dan selimut bagi “kalimbubu” (paman).
  5. UIS GATIP CUKCAK : Kegunaannya sama dengan gatip gewang, bedanya adalah gatip cukcak ini tidak pakai benang emas.
  6. UIS PEMENTING : Untuk ikat pinggang bagi laki-laki
  7. UIS BATU JALA : Untuk tudung bagi anak gadis pada pesta “guro-guro aron”. Boleh juga dipakai laki-laki, tapi harus 3 lapis, yaitu: uis batu jala, uis rambu-rambu dan uis kelam-kelam.
  8. UIS ARINTENENG : Sebagai alas waktu menjalankan mas kawin dan alas piring tempat makan pada waktu “mukul” (acara makan pada saat memasuki pelaminan), untuk memanggil roh, untuk “lanam” (alas menjunjung kayu api waktu memasuki rumah baru), untuk “upah tendi” (upah roh), diberikan sebagai penggendong bayi dan alas bibit padi.
  9. UIS KELAM – KELAM : Untuk tudung orang tua, untuk “morah-morah” (kado untuk laki-laki), dan boleh juga dipakai oleh laki-laki dalam upacara adat, tapi disertai batu jala dan rambu-rambu.
  10. UIS COBAR DIBATA : Untuk upacara kepercayaan, seperti “uis jinujung”, “berlangir” dan “ngelandekken galuh”.
  11. UIS BEKA BULUH : Untuk “bulang-bulang” diikatkan di kepala laki-laki pada upacara adat.
  12. UIS GARA : Untuk penggendong anak-anak, tudung untuk orang tua dan anak gadis.
  13. UIS JUJUNG – JUJUNGEN : Untuk melapisi bagian atas tudung bagi kaum wanita yang mengenakan tudung dalam upacara adat.


 

 

 

 

  1. Rumah Tinggal suku Batak Karo

Rumah adat orang Karo ini biasanya didiami oleh 8 kepala keluarga(ada juga 16 kepala keluarga, seperti Rumah “ empat ture” (empat sisi pintumuka)di kampung Batukarang, Tanah Tinggi Karo. Tinggi rumah adat inisekitar 30 meter, beratapkan ijuk dan pada tiap muka dari atapnyadipasang tanduk kerbau.

  • Rumah adat Karo

Rumah dengan panjang kurang lebih 16 meter dan lebar 10 meterdi mana dipasang belahan kayu besar dengan tiang-tiang kayu yangberukuran diameter 60 cm, dinding bagian bawah agak miringkurang lebih 30 derajat, disertai ukiran-ukiran di sepanjang bagiandinding dan lain sebagainya yang agak rumit diertai pulapemasangan tali-tali ijuk di sepanjang dinding itu yangmenggambarkan sejenis binatang melata seperti cicak. Pembuatandari rumah adat ini sendiri pun memakan waktu lama, sekitar satusampai empat tahun. Pembuatannya dirancang oleh arsitektur kepalayang disebut ”pande tukang”

Pada masyarakat Karo terdapat suatu rumah yang dihuni olehbeberapa keluarga, yang penempatan jabu-nya didalam rumahtersebut diatur menurut ketentuan adat dan didalam rumah itu pun berlaku ketentuan adat, itulah yang disebut dengan rumah adat Karo.Rumah adat Karo ini berbeda dengan rumah adat suku lainnya dank ekhasan itulah yang mencirikan rumah adat Karo. Bentuknya sangat megah diberi tanduk. Proses pendirian sampai kehidupan dalam rumah adat itu diatur oleh adat Karo, dan karena itulah disebut rumah adat.

Berdasarkan bentuk atap, rumah adat karo dapat dibagi menjadi duabagian, yaitu :

  1. Rumah sianjung-anjung

Rumah sianjung-anjung adalah rumah bermuka empat atau lebih,yang dapat juga terdiri atas sat atau dua tersek dan diberibertanduk.

  1. Rumah Mecu

Rumah mecu adalah rumah yang bentuknya sederhana, bermukadua mempunyai sepasang tanduk.

Sementara menurut binangun, rumah adat Karo pun dapat dibagi atasdua yaitu:

  1. Rumah Sangka Manuk.Rumah sangka manuk yaitu rumah yang binangunnya dibuat daribalok tindih-menindih.
  2. Rumah Sendi.

Rumah sendi adalah rumah yang tiang rumahnya dibuat berdiridan satu sama lain dihubungkan dengan balok-balok sehinggabangunan menjadi sendi dan kokoh. Dalam nyanyian rumah ini sering juga disebut Rumah Sendi Gading Kurungen Manik. Rumah adat Karo didirikan berdasarkan arah kenjahe (hilir) dankenjulu (hulu) sesuai aliran air pada suatu kampung.

Jabu dalam Rumah Adat

Rumah adat biasanya dihuni oleh empat atau delapan keluarga. Penempatan keluarga-keluarga itu dalam bagian rumahadat (jabu) dilakukan berdasarkan ketentuan adat Karo. Rumahadat secara garis besar dapat dibagi atas jabu jahe (hilir) dan jabu julu (hulu). Jabu jahe terbagi atas jabu bena kayu dan jabu leparbenana kayu. Demikian juga jabu kenjulu dibagi atas dua, yaitu jabuujung kayu dan jabu rumah sendipar ujung kayu. Inilah yangsesungguhnya disebut sebagai jabu adat. Rumah-rumah adat empat ruang ini dahulunya terdapat di Kuta Buluh, Buah Raja, Lau Buluh,Limang, Perbesi, Peceren, Lingga, dan lain-lain.Ada kalanya suatu rumah adat terdiri dari delapan ruang dandihuni oleh delapan keluarga. Malahan kampung Munte ada rumah adat yang dihuni oleh enam belas keluarga. Dalam hal rumah adat dihuni oleh delapan keluarga, sementara dapuar dalam rumah adathanya ada empat, masing-masing jabu dibagi dua, sehingga terjadilah jabu-jabu sedapuren bena kayu, sedapuren ujung kayu,sedapuren lepar bena kayu, dan jabu sedapuren lepar ujung kayu.

Adapun susunan jabu dan yang menempatinya adalah sebagai berikut:

  1. Jabu Benana Kayu . Terletak di jabu jahe. Kalau kita kerumah dari ture jahe, letaknyasebelah kiri. Jabu ini dihuni oleh para keturunen simantek kuta(golongan pendiri kampung) atau sembuyak-nya. Fungsinya adalah sebagai pemimpin rumah adat.
  2. Jabu ujung Kayu (anak beru) . Jabu ini arahnya di arah kenjulu rumah adat. Kalau kita masukkerumah adat dari pintu kenjulu, letaknya disebelah kiri ataudiagonal dengan letak jabu benana kayu. Jabu ini ditempati olehanak beru kuta atau anak beru dari jabu benana Kayu. Fungsinya adalah sebagai juru bicara jabu bena kayu.
  3. Jabu Lepar Benana Kayu . Jabu ini di arah kenjahe (hilir). Kalau kita kerumah dari pintukenjahe letaknya disebelah kanan, Penghuni jabu ini adalahsembuyak dari jabu benana kayu. Fungsinya untuk mendengarkan berita-berita yang terjadi diluarrumah dan menyampaikan hal itu kepada jabu benana kayu. Olehkarena itu, jabu ini disebut jabu sungkun berita (sumber informasi).
  4. Jabu lepar ujung kayu (mangan-minem).Letaknya dibagian kenjulu (hulu) rumah adat. Kalau kita masukdari pintu kenjulu ke rumah adat, letaknya di sebelah kanan. Jabuini ditempati oleh kalimbubu jabu benana kayu. Oleh karena itu, jabu ini disebut jabu si mangan-minem.Keempat jabu inilah yang disebut dengan jabu adat, karena penempatannya harus sesuai dengan adat, demikian juga yang menempatinya ditentukan menurut adat. Akan tetapi, adakalanya juga rumah adat itu terdiri dari delpan atau enam belas jabu.
  5. Jabu sedapuren benana kayu (peninggel-ninggel). Jabu ini ditempati oleh anak beru menteri dari rumah si mantekkuta (jabu benana kayu), dan sering pula disebut jabu peninggel-ninggel. Dia ini adalah anak beru dari ujung kayu.
  6. Jabu sidapuren ujung kayu (rintenteng) .Ditempati oleh sembuyak dari ujung kayu, yang Sering juga disebut jabu arinteneng. Tugasnya adalah untuk engkapuri belo,menyerahkan belo kinapur (persentabin) kepada tamu jabu benana kayu tersebut. Oleh karena itu, jabu ini disebut juga jabu arinteneng.
  7. Jabu sedapuren lepar ujung kayu (bicara guru).Dihuni oleh guru (dukun) atau tabib yang mengetahui berbagai pengobatan. Tugasnya mengobati anggota rumah yang sakit.
  8. Jabu sedapuren lepar benana kayuDihuni oleh puang kalimbubu dari jabu benana kayu disebut juga jabu pendungi ranan. Karena biasanya dalam runggun adat Karo persetujuan terakhir diberikan oleh puang kalimbubu.
  9. Kesenian Tari dan Ukiran
  10. Tari

Tari Tor-tor adalah tarian yang gerakannya se-irama denganiringan musik (magondangi) yang dimainkan dengan alat-alatmusik tradisional seperti gondang, suling, terompet batak, danlain-lain. Menurut sejarahnya tari tor-tor digunakan dalam acararitual yang berhubungan dengan roh, dimana roh tersebutdipanggil dan “masuk” ke patung-patung batu (merupakan simboldari leluhur), lalu patung tersebut tersebut bergerak seperti menariakan tetapi gerakannya kaku. Gerakan tersebut meliputi gerakankaki (jinjit-jinjit) dan gerakan tangan.

Tari serampang dua belas (bersifat hiburan). Merupakan salah satu dari sekian banyak tarian yangberkembang di bawahKesultanan Serdang diKabupaten Serdang Bedagai(dahulu Kabupaten Deli Serdang). Tari ini merupakan jenis tari tradisional yangdimainkan sebagai tari pergaulan yang mengandung pesantentang perjalanan kisah anak muda dalam mencari jodoh, mulaidari perkenalan sampai memasuki tahap pernikahan. Inilah salahsatu cara masyarkat Melayu Deli dalam mengajarkan tata carapencarian jodoh kepada generasi muda. Sehingga Tari Serampang Dua Belas menjadi kegemaran bagi generasi muda untuk mempelajari proses yang akan dilalui nantinya jika ingin membangun mahligai rumahtangga.

 

  1. Seni suara

Para penyaji lagu dimasyarakat Karo dikenal sebagai “permangge-mangga” atau“perkolong-kolong“ baik laki-laki maupun wanita. Pencipta laguyang terkenal antara lain ialah Jaga Depari, Nuhit Bukit, dll.

 

  1. Seni Ukir dan pahatan.
  • Ukir cekili kambing, ialah hiasan pada bangunan rumah, tangkaipisau, dan gantang beru-beru.
  • Ukir ipen-ipen, ialah dibuatkan pada bamabu atau kayu yangdijadikan tempat sayuran daging.
  • Ukir Embun sikawiten, ialah berbentuk awanyang berarak dan ini diukir pada petak, tangkaipisau dan gantang beru-beru.
  • Ciken, adalah tongkat dari kayu dan tulang dimana ada pegangan tangan.
  • Gung, ialah gong yang terbuat dari tembaga,biasanya dipergunakan pada upacara-upacara adat.
  • Penganak, bentuknya sama tapi jauh lebih kecil dari gong.
  • Sarune,adalah serunai terbuat dari kayu, digunakan untuk upacaraadat dan pesta muda-mudi.
  • Belobat, ialah beluat terbuat dari bambu yang merupakan alat tiup.
  • Keteng-keteng, terbuat dari seruas pohon bambu yang berfungsisebagai pengatur suara dalam suatu upacara.
  • Kecapi, alat petik menyerupai gitar dengan dua tali
  1. Hasil kerajinan tenun dari suku batak

kain ulos, Kain ini selalu ditampilkan dalam upacara perkawinan,mendirikan rumah, upacara kematian, penyerahanharta warisan, menyambut tamu yang dihormati dan upacara menari Tor-tor. Kain adat sesuai dengansistem keyakinan yang diwariskan nenek moyang .

Beberapa jenis ulos yang dikenal dalam adat Batak adalah sebagaiberikut:

  1. Ulos Ragidup

Ragi berarti corak, dan Ragidup berarti lambang kehidupan.Dinamakan demikian karena warna, lukisan serta coraknya memberikesan seolah-olah ulos ini benar-benar hidup. Ulos jenis ini adalahyang tertinggi kelasnya dan sangat sulit pembuatannya. Ulos initerdiri atas tiga bagian; dua sisi yang ditenun sekaligus, dan satubagian tengah yang ditenun tersendiri dengan sangat rumit. UlosRangidup bisa ditemukan di setiap rumah tangga suku batak didaerah-daerah yang masih kental adat bataknya. Karena dalamupacara adat perkawinan, ulos ini diberikan oleh orang tua pengantinperempuan kepada ibu pengantin lelaki

  1. Ulos RagihotangHotang

berarti rotan, ulos jenis ini juga termasuk berkelas tinggi,namun cara pembuatannya tidak serumit ulos Ragidup. Dalamupacara kematian, ulos ini dipakai untuk mengafani jenazah atauuntuk membungkus tulang belulang dalam upacara penguburankedua kalinya .

  1. Ulos Sibolang, diberikan kepada orang yang berjasa dalam mabolang-bolangi(menghormati) orang tua pengantin perempuan untuk mangulosi ayah pengantin laki-laki pada upacarapernikahan adat batak. Dalam upacara ini biasanya orang tua pengantin perempuan memberikan Ulos Bela.
  2. Ulos Bela yang berarti ulos menantu kepada pengantin laki-laki.
  3. Kegiatan adat Suku Batak Karo

selain perkawinan ada juga kegiatan adat Batak Karo yang selalu diadakan minimal 1 tahun sekali, baik upacara besar atau upacara kecil. Kebanyakan upacara yang ada memakan waktu yang cukup lama dan juga biaya yang cukup mahal, karena perlengkapan yang harus disediakan dan persembahan yang biasanya menggunakan binatang-binatang besar seperti sapi dll. Namun ada juga upacra memakan waktu singkat dan biaya kecil karena menggunkan binatang ber kaki 2 seperti ayam dan bebek, Beberapa Kegiatan adat antara lain,

  1. Kegiatan Adat suku Batak Karo
  2.   Merdang merdem = “kerja tahun” yang disertai “Gendang guro-guro aron”.
  3. Mahpah = “kerja tahun” yang disertai “Gendang guro-guro aron”.
  4. Mengket Rumah Mbaru – Pesta memasuki rumah (adat – ibadat) baru.
  5. Mbesur-mbesuri – “Ngerires” – membuat lemang waktu padi mulai bunting.
  6. Ndilo Udan – memanggil hujan.
  7. Rebu-rebu – mirip pesta “kerja tahun”.
  8. Ngumbung – hari jeda “aron” (kumpulan pekerja di desa).
  9.  Erpangir Ku Lau – penyucian diri (untuk membuang sial).
  10.  Raleng Tendi – “Ngicik Tendi” = memanggil jiwa setelah seseorang kurang tenang karena terkejut secara suatu kejadian yang tidak disangka-sangka.
  11.  Motong Rambai – Pesta kecil keluarga – handai taulan untuk memanggkas habis rambut bayi (balita) yang terjalin dan tidak rapi.
  12. Ngaloken Cincin Upah Tendi – Upacara keluarga pemberian cincin permintaan dari keponakan (dari Mama ke Bere-bere atau dari Bibi ke Permain).
  13. Ngaloken Rawit – Upacara keluarga pemberian pisau (tumbuk lada) atau belati atau celurit kecil yang berupa permintaan dari keponakan (dari Mama ke Bere-bere) – keponakan laki-laki.
  14. Upacara Upa Tendi

Upa secara bahasa diartikan pemberian. Sedangkan secara istilah adalah suatu ritual yang dilakukan oleh orang yang berhajat dengan mendoa’kan orang yang di upa agar memperoleh kebaikan. Kata Upa ini senada dengan kata Upah- upah, Mangupa dan Pangupa yang arti dan maksudnya juga sama yaitu berhajat dan mendoakan orang yang di upa- upakan.

Sedangkan Tendi adalah jiwa atau roh seseorang yang merupakan kekuatan, oleh karena itu tondi memberi nyawa kepada manusia. Tendi di dapat sejak seseorang di dalam kandungan. Bila tondi meninggalkan badan seseorang, maka orang tersebut akan sakit atau meninggal, maka diadakan upacara mangalap (menjemput) tondi dari sombaon yang menawannya.

Tendi (roh, nyawa) berada dalam tubuh manusia dan merupakan satu kesatuan. Manusia menjadi makhluk yang hidup karena memiliki tendi. Tendi memiliki zat kehidupan yang berlangsung selama- lamanya dan tidak dapat rusak oleh apapun. Orang Karo zaman dahulu mengenal ada dua jenis tendi, yaitu:

Pertama, tendi yang terdapat dalam tubuh manusia dan berhubungan dengannya pada masa kehidupan manusia saja.

Kedua, tendi yang merupakan bayangan yang melanjutkan aktivitas manusia. Artinya, secara biologis manusia telah mati, tapi aktivitasnya masih dilanjutkan oleh tendinya.

Kehadiran tendi dalam tubuh manusiamerupakan faktor penentu bagi kesehatan manusia. Timbulnya suatu penyakit, kegelisahan atau kemalangan diyakini sebagai akibat dari lemahnya tendi atau kepergian tendi  dari tubuh manusia. Bila kepergian tendi berlangsung lama dan tidak datang lagi ke dalam tubuh dikhawatirkan bisa menyebabkan kematian bagi manusia. Konon ada empat penyebab tendi meninggalkan tubuh manusia yaitu saat tidur, terkejut, mimpi dan kematian.

Jadi upa tondi adalah suatu ritual yang dilakukan oleh orang yang berhajat dengan mendoa’kan orang yang di upa agar tondinya dapat kembali kedalam tubuhnya atau sering disebut Mulak Tondi Tu Ruma.

  1. Upacara Upa Tondi Batak Karo

Upa atau pun mangupaupa tondi adalah tradisi budaya batak yang dilakukan oleh orang tua kepada anak, dari hula-hula kepada boru. Tradisi ini sudah diwariskan oleh nenek moyang mereka sejak dulu yang dipercaya ritual memohon meminta Sahala (berkat) kepada Oppung Mula Jadi Nabolon (Tuhan Yang Maha Esa) agar diberikan keselamatan/ sembuhan.

Biasanya tradisi ini diberikan kepada orang yang sakit, lemah, terkejut, naas dari sebuah kecelakaan. Karena orang-orang yang mengalami kejadian-kejadian tersebut dianggap roh meninggalkan tubuh orang tersebut dan dilakukanlah tradisi mangupaupa bertujuan agar rohnya dapat kembali ke dalam tubuhnya atau sering disebut Mulak Tondi Tu Ruma.[16].

Pada sumber yang lain Upa Tendi atau Mangupa Tondi ini dilakukan bila seseorang dalam keadaan yang sangat membahayakan sekali (terbukti dari eksistensi tondi yang sudah keluar dari rumah untuk jangka waktu yang lebih lama lagi) maka  diadakan acara yang bukan saja hanya memanggil tondi/ tendi pulang ke rumah (Mulak Tondi Tu Ruma) tetapi juga yang terpenting untuk berusaha “menguatkan” . Dalam hubungan ini orang batak mempercayai bahwa tondi yang sudah sangat lemah, dan menderita karena terancam kepergian tondi keluar adalah dianggap sebagai tondi yang ‘miskin’. Tondi yang miskin perku dan harus dikayakan, sebab kekayaan menunjukkan kekuatan. Apabila tondi harus dikayakan dengan pemberian barang- barang  berharga, makanan tertentu yang di upa- upakan maka seharusnya diadakan upacara ‘mangupa tondi’. Dalam upacara mangupa tondi, bermacam- macam barang dapat diberikan kepada orang yang sakit, seperti, makanan, beras, kerbau, atau binatang ternak lainnya. Tetapi pemberian yang paling lazim  dan dianggap sangat tinggi nilainya ialah pemberian selembar ‘Ulos’.

Keterlibatan pihak  hula- hula dalam memberikan ulos penguat tondi ini adalah dilatarbelakangi oleh pengertian “sahala” yang dipunyai oleh pihak hula- hula. Ulos yang diberikan oleh pihak hula- hula kepada bere- bere selalu dimaksudkan sebagai lambang transformasi “berkat” yang disalurkan oleh pihak hula- hula kepada berenya. Berkat yang disalurkan melalui pemberian ulos ini mempunyai arti untuk “mengkayakan” roh daripada orang yang sedang menderita kelemahan tondi.

Inilah salah satu budaya batak yang diwariskan oleh nenek moyang kita agar selalu memohon keselamatan dan kesembuhan kepada Tuhan Yang Maha Kuasa. Sebuah tradisi yang tetap dijungjung tinggi nilai budaya dan dilestarikan.

a.Waktu

Ada beberapa waktu pelaksanaan mengupa- upa tendi orang yang mau di upa- upakan:

  1. Pernikahan
  2. Selamatan
  3. Wisuda
  4. Upacara Ritual Geriten

Pada masyarakat Karo dahulu, setelah orang meninggal, tidak langsung dikebumikan tetapi diadakan upacara adat kematiannya untuk menghormati jenazahnya. Jenazah dimakamkan disuatu tempat untuk sementara. Setelah beberapa tahun lamanya, makam digali kembali untuk mengambil tulang-tulangnya dan dikumpulkan dan kemudian dimakamkan di sebuah rumah yang disebut Geriten.

Ritual kuno dari suku Batak Karo merupakan tradisi suci yang sudah diterapkan berabad-abad lalu. Pada saat penggalian kubur dilakukan  upacara adat yang disebut nurun-nurun (upacara kematian).  Keluarga suku kembali ke kuburan leluhur mereka. Ritual dilakukan dengan menggali kembali kuburan, mengambil seluruh kerangka, membersihkan kerangka dengan wewangian (terdiri dari air kelapa,jeruk nipis, kapur dan rempah-rempah) sebelum meletakkannya dalam peti mati baru dan menempatkannya di Geriten.

ritual ini dilakukan sebagai penghormatan dan kasih sayang kepada leluhur mereka. Tulang belulang dikeluarkan dari kuburan lama kemudian dipindahkan ke kuburan baru untuk menaikkan status dari leluhur mereka. Setelah kerangka diatur dalam peti itu kemudian ditempatkan ke dalam ‘rumah tengkorak’ yang dibangun khusus untuk acara keluarga dan berdoa bagi tulang. Jefri menjelaskan: “Ini adalah ritual yang sangat langka. Penghapusan tulang dari kuburan tua dilakukan untuk nenek moyang kehormatan dengan tindakan kasih. Tulang-tulang dikeluarkan dari kuburan yang telah ada waktu yang lama dan pindah ke sebuah kuburan baru, lebih baik. Ini adalah cara untuk menaikkan status dari nenek moyang.

  1. Upacara Erpangir Ku Lau
  2. Latar Belakang Upacara

Erpangir ku lau dilakukan dikarenakan oleh beberapa hal, misalnya :

(1) Buang sial, yaitu untuk membuang hal-hal yang dianggap membawa dampak tidak baik dalam diri seseorang. Untuk membuang hakl-hal yang dianggap sebagai ‘sial’ tersebut maka harus dibersihkan dengan upacara;

(2) Meminta kesembuhan penyakit, seseorang yang dihinggapi satu penyakit diyakini sebagai penyakit yang dibuat oleh manusia lain lewat perantaraan makhluk-makhluk halus, atau bias jadi karena makhlus halus itu sendiri (begu). Untuk penyembuhan salah satu cara pengobatan adalah dengan melakukan ritual erpangir ku lau;

(3) Menabalkan seseorang menjadi guru. Proses menjadi seorang guru juga harus melalui proses erpangir. Oleh sebab itu seseorang menjadi guru harus ditabalkan atau ditahbiskan dengan cara ipangiri oleh seorang guru juga.

(4) Permintaan begu singarak-ngarak seseorang. Seseorang yang mempunyai begu jabu biasa akan diurasi atau dibersihkan dari hal-hal yang tidak baik, caranya adalah dengan erpangir.

(5) Pembersihkan diri dari yang kotor

(6) Perkawinan, dalam upacara perkawinan sebelum perkawinan dilangsungkan biasa juga didahului dengan upacara erpangir ku lau. Hal ini untuk meminta persentabin atau ijin kepada semua makhluk-makhluk agar perkawinan tersebut dapat berlangsung dengan baik, sekaligus membersihkan diri dari hal-hal yang kotor.

(7) Menabalkan nama atau memberikan nama kepada seseorang

(8) Rutin silengguri, adalah berkeramas ke sungai dikarenakan mempunyai jinujung (begu jabu) sebagai salah satu modal kekuatan bagi diri seseorang.

 

(9) dll.

Biasanya pihak keluarga yang ingin melakukan erpangir ku lau adalah karena ada pirasat (gerek) dari seseorang bahwa ada yang tidak beres dalam tubuhnya.

  1. Jenis Upacara

Upacara erpangir ku lau dapat dibedakan tiga jenis berdasarkan besar kecilnya upacara tersebut dilakukan. Besar kecilnya jenis upacara ini terkait dengan jumlah peserta upacara atau kerabat yang terlibat dalam upacara tersebut dan jenis hewan yang disembelih. Disamping itu juga berpengaruh kepada tempat pelaksanaan upacara. Meskipun sebenarnya kategori ini tidak sepenuhnya dipakai khusus untuk upacara erpangir ku lau, tetapi biasa kegiatan erpangir ku lau merupakan suatu runtutan dari upacara utama, misalnya kegiatan erpangir ku lau diadakan karena akan dilaksanakan upacara perkawinan, dan sebagainya. Jadi sebenarnya pengelompokan jenis yang dimaksud adalah pengelompokan berdasarkan upacara perkawinan tersebut. Namun khusus untuk upacara erpangir ku lau bisa saja dilakukan dalam bentuk besar sampai bentuk yang paling kecil, yaitu ritual erpangir yang dilakukan oleh pribadi-pribadi. Adapun jenis upacara tersebut adalah:

  1. Kerja Sintua

Kerja (Pesta) sintua merupakan pesta yang paling besar yang ada pada masyarakat Karo. Pada pesta ini harus melibatkan seluruh sangkep nggeluh, yaitu orang-orang yang masih mempunyai hubungan kekerabatan dengan yang empunya hajatan serta seluruh anak kampung dimana pesta tersebut dilaksanakan. Pada upacara ini biasanya hewan yang disembelih adalah sapi (lembu).

Dalam kerja sintua ini seluruh kerabat yang dikenal dengan sangkep nggeluh, yang terdiri dari tiga unsur yaitu kalimbubu (pihak pemberi wanita), senina (saudara-saudara yang melakukan hajatan), dan anak beru (pihak penerima wanita). Masing-masing pihak dalam tiga status sosial tersebut mempunyai peranan masing-masing serta bagaimana mereka berlaku dalam upacara tersebut. Misalnya anak beru biasanya mempersiapkan segala sesuatunya seperti memasak makanan untuk seluruh peserta upacara tersebut, dan mengatur segala sesuatunya untuk keberhasilan upacara pihak kalimbubunya. Demikian juga dengan pihak senina dan kalimbubu mempunyai fungsi dan peranan masing-masing.

Meskipun pelaksanaan upacara adat yang terkait dengan erpangir ku lau dilangsungkan di Jambur, namun upacara erpangirnya sendiri tetap diadakan di sungai. Dalam kegiatan ini biasanya tidak hanya menggunakan alat musik yang relatif kecil, yaitu gendang telu sedalanen saja, tetapi juga menggunakan gendang yang lebih besar yang disebut dengan gendang lima sedalanen. Dalam upacara ini juga diadakan landek (menari) sesuai dengan peranannya masing-masing dalam upacara tersebut.

 

  1. Kerja Sintengah

Kerja sintengah adalah sebutan untuk pesta atau upacara yang sifatnya menengah. Upacara ini merupakan satu tingkat dibawah upacara yang termasuk dalam kategori kerja sintua. Pada upacara jenis ini meskipun juga melibatkan unsur-unsur sangkep nggeluh kerabat, namun tidak selengkap anggota kerabat yang terlibat dalam upacara kerja sintua. Dalam kerja sintua hampir melibatkan seluruh kerabat yang jauh dan dekat, serta penduduk kampung. Namun dalam kerja sintengah unsur-unsur kerabat yang diundang pada umumnya kerabat yang harus memang terlibat dalam kegiatan adat dalam sebuah keluarga tertentu. Oleh sebab itu upacara ini dinamakan kerja sintengah atau pesta/upacara tingkat menengah dalam ukuran adat Karo.

Hewan yang disembelih dalam upacara ini biasanya masih hewan yang berkaki empat, yaitu babi.

 

2.6. Religi masyarakat Batak Karo

Dalam hal alam pemikiran dan kepercayaan, orang Karo (yang belum memeluk agama Islam atau Kristen) erkiniteken (percaya) akan adanya Dibata (Tuhan) sebagai maha pencipta segala yang ada di alam raya dan dunia. Menurut kepercayaan tersebut Dibata yang menguasai segalanya itu terdiri dari

Dibata Idatas atau Guru Butara Atas yang menguasai alam raya/langit

Dibata Itengah atau Tuan Paduka Niaji yang menguasai bumi atau dunia

Dibata Iteruh atau Tuan Banua Koling yang menguasai di bawah atau di dalam bumi

Dibata ini disembah agar manusia mendapatkan keselamatan, jauh dari marabahaya dan mendapatkan kelimpahan rezeki. Mereka pun percaya adanya tenaga gaib yaitu berupa kekuatan yang berkedudukan di batu-batu besar, kayu besar, sungai, gunung, gua, atau tempat-tempat lain. Tempat inilah yang dikeramatkan. Dan apabila tenaga gaib yang merupakan kekuatan perkasa dari maha pencipta -dalam hal ini Dibata yang menguasai baik alam raya/langit, dunia/bumi, atapun di dalam tanah- disembah maka permintaan akan terkabul. Karena itu masyarakat yang berkepercayaan demikian melakukan berbagai variasi untuk melakukan penyembahan.

Mereka juga percaya bahwa roh manusia yang masih hidup yang dinamakan “Tendi“, sewaktu-waktu bisa meninggalkan jasad/badan manusia. Kalau hal itu terjadi maka diadakan upacara kepercayaan yang dipimpin oleh Guru Si Baso (dukun) agar tendi tadi segera kembali kepada manusia yang bersangkutan. Jika tendi terlalu lama pergi, dipercaya bahwa kematian akan menimpa manusia tersebut. Mereka juga percaya bahwa jika manusia sudah meninggal maka tendi akan menjadi begu atau arwah.

Banyak upacara ritual yang dilakukan oleh mereka yang ditujukan untuk keselamatan, kebahagiaan hidup, dan ketenangan berpikir. Upacara-upacara tersebut antara lain upacara kepercayaan menghadapi bahaya paceklik, menanam padi, menghadapi mimpi buruk, maju menuju medan perang, memasuki rumah baru, menghadapi kelahiran anak, kematian, menyucikan hati dan pikiran, dan lain lain. Di semua kegiatan ritual ini peranan para dukun atau Guru Si Baso tersebut cukup besar.

Mereka yang berkepercayaan demikian itu lazim disebut sebagai perbegu atau sipelbegu. Tapi terlepas dari maksud pihak luar dengan penamaan istilah tersebut di atas, yang secara kasar dapat diartikan sebagai penyembah setan atau berhala, mereka menyatakan bahwa mereka percaya adanya Dibata yang menjadikan segala yang ada dan bahwa ada tenaga gaib atauu kekuatan maha dasyat darinya yang mampu berbuat apa saja menurut kehendaknya. Kalaupun ada dilakukan upacara ritual berupa persembahan, maka persembahan itu maksudnya adalah kepada Dibata tadi, hanya saja penyalurannya dilakukan di tempat-tempat yang dikeramatkan.

Dengan demikian, pada perkumpulan desa di mana penduduk selalu berada dalam alam fikiran dan kepercayaan tersebut, para warga selalu merasa ada hubungan dengan roh keluarga yang sudah meninggal dunia, terutama nenek moyang yang mereka hormati sebagai pendahulu mereka, pendiri desa, pelindung adat istiadat. Mereka juga percaya bahwa pada kebajikan roh-roh tersebut akan menentukan keselamatan anak cucu mereka.

Meski sekarang ini rakyat Karo telah resmi memeluk agama-agama seperti Katholik, Protestan, maupun Islam, kadang-kadang masih juga ditemui adanya penyimpangan-penyimpangan misalnya terlalu terikat kepada kepercayaan tradisionalnya. Agama-agama Katholik, Protestan, dan Islam telah dipeluk oleh rakyat Karo tersebut sebenarnya juga membawa perbedaan terhadap cara berpikir di antara rakyat Karo. Akan tetapi, sekarang ini keakraban dan kekeluargaan di antara masyarakat Karo tetap terpelihara dan tidak tergoyahkan karena masyarakat Karo masih berpegang pada adat istiadat berlandaskan Daliken Si Telu dan Tutur Si Waluh yang meski tertulis secara resmi namun merupakan pengikat bagi pola hidup sehari-hari anggota-anggota masyarakat.

 

BAB III

PENUTUP

 

 

3.1. Kesimpulan

Batak Karo merupakan salah satu dari suku diindonesia yang sampai sekarang masih menjunjung tinggi kebudayaannya. Banyak diantara kita yang mengganggap suku -suku diindoneisa adalah orang-orang primitif. Tapi kita harus menyadari bahwa merekalah awal dari sebuah perkembangan.Perbedaan sebuah suku bukanlah hal yang menjadi alasan kita untuk bercerai berai. Namun ini adalah adalah satu batu loncatan demi perkembang Indonesia kedepannya

3.2. Saran

            Sebagai bangsa indonesia kita harus lebih cinta tanah air dan menghargai suku bangsa serta merawat kekayaan budayanya. Karena mereka adalah awal sebuah perkembangan.